Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 14 Mei 2019 | 02.53 WIB

Bukan Lagi Sekadar Tempat Belanja, Hongkong Seriusi Wisata Halal (1)

Pemandangan indah symphony of lights yang bisa dilihat dari avenue of the stars, Hongkong. (Dhimas Ginanjar/Jawa Pos) - Image

Pemandangan indah symphony of lights yang bisa dilihat dari avenue of the stars, Hongkong. (Dhimas Ginanjar/Jawa Pos)

Angka kunjungan wisatawan Indonesia ke Hongkong terus meningkat. Bukan sekadar untuk berbelanja, tujuan mereka mulai bergeser menjadi rekreasi dalam arti sesungguhnya. Hongkong pun kini menggarap wisata halal. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Indria Pramuhapsari yang baru kembali dari bekas koloni Inggris tersebut.

--

''KAMI mulai memberikan pemahaman kepada para pelaku industri wisata di Hongkong tentang konsep halal,'' kata Martin Gwee Yu Hui, marketing manager Hong Kong Tourism Board (HKTB), saat dijumpai di Ocean Park Marriott Hotel pada Jumat (10/5). Halal, menurut dia, tidak hanya berhenti pada menu makanan, tetapi juga soal pemahaman. ''Saya pernah bilang kepada pemilik resto agar tidak memamerkan daging babi secara vulgar. Di sini biasanya daging babi digantung di dapur terbuka yang letaknya di pintu masuk resto,'' jelas Martin.

''Pameran'' daging babi itu memang bisa menaikkan pamor resto di mata para wisatawan asal Tiongkok (mainland). Namun, pajangan tersebut berfungsi sebaliknya bagi turis asal Indonesia atau negara muslim lain. ''Itu justru seperti mengusir mereka kan,'' ujar Martin.

Karena itulah, untuk menaikkan omzet, para pemilik resto diajak memahami konsep halal. Terutama mereka yang restonya terletak di area favorit turis. Misalnya, Wan Chai, Mongkok, Kowloon, atau Victoria Harbour. ''Tidak ada gunanya mengatakan bahwa resto mereka menyediakan masakan halal jika babi-babi itu masih menghiasi kaca displai,'' tegas lelaki yang lebih sering berkantor di HKTB Singapura tersebut.

Martin memang bertanggung jawab atas kawasan Asia Tenggara. Karena itu, dia sangat peduli pada kebutuhan turis muslim. Apalagi, dua bulan terakhir arus wisatawan dari Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya mengalir deras. Kini, menurut Martin, sebagian besar wisatawan Indonesia tidak lagi datang dan meninggalkan Hongkong pada hari yang sama. Mereka rata-rata menginap.

Data statistik HKTB Research yang diperoleh dari Badan Imigrasi Hongkong menunjukkan, kunjungan turis Indonesia naik 17,1 persen sampai Maret lalu jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sebagian besar turis Indonesia datang dari Jakarta. Sebab, lebih banyak penerbangan langsung dari Bandara Soekarno-Hatta ke Hong Kong International Airport. Dari Bandara Juanda, setiap hari hanya ada sekali penerbangan langsung ke Hongkong.

Sampai Maret, pertumbuhan jumlah wisatawan Indonesia ke Hongkong mencatatkan angka tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain dalam kategori short-haul countries. Yakni, negara-negara pemasok turis ke Hongkong yang jaraknya berdasar durasi penerbangan tidak lama. Baik dari Soekarno-Hatta maupun Juanda, penerbangan ke Hongkong memakan waktu sekitar 4,5 jam. ''Jumlah turis Indonesia naik 17,1 persen. Disusul Singapura dan Korea Selatan (Korsel) masing-masing 9,3 persen dan 7 persen,'' terang Martin.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore