Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 April 2019 | 16.48 WIB

‘Generasi Sandwich’, Saat Milenial Terimpit Beban Finansial

menjadi sandwich generation artinya mereka harus menabung lebih ketat dibandingkan yang tidak (Istimewa). - Image

menjadi sandwich generation artinya mereka harus menabung lebih ketat dibandingkan yang tidak (Istimewa).

JawaPos.com - Menjadi generasi yang berada dalam usia produktif di rentang usia 25 hingga 42 tahun adalah sebuah keistimewaan. Dalam usia itu, umumnya rasa percaya diri, optimistis, ekspresif, bebas, dan menyukai tantangan tercermin dari generasi ini. Begitu pun dalam urusan keuangan. Tak jarang, orang-orang di generasi ini adalah mereka yang beranjak dari kehidupan kelas menengah menuju tahap mapan.

Sayangnya, saat hendak menuju kemapanan banyak rintangan yang ditemui. Salah satunya dari faktor internal atau keluarga. CEO Jouska Farah Dini Novita menuturkan, mereka adalah sandwich generation yang memiliki kondisi keuangan terimpit. Disebut demikian, karena seperti halnya sandwich, mereka adalah orang-orang yang berada dalam kondisi yang terjepit.

“Di satu sisi mereka lagi berjuang untuk bisa menstabilkan keuangan. Tetapi di sisi lain mereka adalah tulang punggung keluarga,” kata Farah saat ditemui JawaPos.com, di Pasaraya, Jakarta, Sabtu (5/4).

Dalam banyak kasus yang diterima Platform Financial Adviser Jouska, disebut Dini, banyak milenial yang menghadapi kasus seperti ini. Untuk memecahkan masalah keuangan mereka, butuh jurus yang berbeda satu dengan yang lain.

“Menyelesaikan masalah sandwich generation itu pasti beda. Ada yang orang tua mereka meninggalkan utang ketika sudah pensiun. Ada yang enggak punya utang, tapi bingung setelah pensiun mau ngapain. Ada juga yang setelah pensiun orang tua mereka sakit-sakitan dan nggak punya asuransi,” terangnya.

Namun, ia menyarankan apabila orang tua memiliki aset maka tugas generasi sandwich adalah menghasilkan nilai tambah dari aset tersebut. Sebagai anak, tak ada salahnya jika bertanya kepada orang tua yang hendak pensiun.

Jika aset berupa properti, yang harus dilakukan adalah bagaimana aset dapat dijadikan sebagai passive income. Jika didiamkan saja, tentu properti hanya akan menjadi cost bagi si pemilik setiap tahunnya.

“Jadi kita tanya dulu kondisi keuangan seluruh keluarga bagaimana,” jelasnya.

Selanjutnya adalah apabila memiliki saudara, bisa juga dijadikan instrumen kerja sama. Tentunya sebagai anak, memiliki tanggung jawab terkait dengan apa yang akan terjadi dengan orang tua di kemudian hari.

“Jadi bikin satu rekening setiap bulan anak-anak transfer ke situ berapa pun sesuai kemampuan masing-masing anak. Jadi kalau sewaktu-sewaktu butuh orang tua bisa ambil dari sini,” tuturnya.

Terpenting adalah bagaimana dari diri sendiri bisa mengendalikan cashflow pribadi. Sebab, menjadi sandwich generation artinya mereka harus menabung lebih ketat dibandingkan yang tidak. Sampai akhirnya terkumpul modal yang bisa diinvestasikan menjadi passive income. “Tentunya dalam proses itu enggak akan gampang,” pungkasnya.

Editor: Teguh Jiwa Brata
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore