Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Desember 2024 | 14.22 WIB

Bocah Pencuri Tulang

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Kendati mulutku sudah pegal meniup lubang tungku, kayu setengah basah itu belum juga mau menyala. Embusan napasku hanya sanggup menimbulkan percikan bara kecil yang berkedip-kedip seperti mata anak burung, selebihnya adalah asap yang memekakkan mata.

Aku menggosok-gosok kelopak mata yang perih dengan punggung tangan agar bisa melihat. Lalu membuka tutup periuk dan melongok ke dalam, pada beberapa butir ubi yang masih mentah. Meski sudah berkutat sekian lama dengan kayu bakar yang masih hijau itu, tidak ada yang berubah. Periuk tanah yang menghitam oleh jelaga itu tampak bergeming di atas tungku. Tak ada gelembung uap air mendidih yang naik ke permukaan. Airnya belum suam kuku, masih dingin seperti sebelumnya. Kulit ubi yang merah seperti daging domba masih tampak segar, sama seperti saat saya mencucinya, untuk membersihkan sisa tanahnya di sumur tadi. Menyadari keadaan yang kurang baik itu, seketika aku membatin: Kalau begini, kapan matangnya? Serta-merta rasa lapar yang memilin ususku berubah jadi rasa putus asa. Penglihatanku pun berkabut.

Sejak pagi ususku hanya diisi bercentong-centong air sumur, setelah tadi malam hanya mengunyah biji jagung berjamur yang kurogoh dari bekas kandang burung yang mati setahun lalu dan membuat perutku mencret-mencret sampai sekarang. Karena hanya berisi air, perutku terasa melar seperti balon. Untung, tadi siang aku ikut membantu tetangga panen ubi dan diberi upah beberapa butir, yang cukup untuk makan sampai malam.

Tapi, persoalan tidak selesai sampai di situ. Karena setelah ubi tersedia, muncul masalah baru, yaitu soal kayu bakar yang tidak menyala, kendati telah menghabiskan berbatang-batang korek api, kayu belum mau menyala. Akibatnya, ubi di periuk tidak matang-matang.

Kedongkolan akibat kayu bakar yang tidak menyala itu tiba-tiba mengingatkanku pada tumpukan tulang-belulang di sarkofagus di halaman kuil. Pikiran yang muncul mendadak itu serta-merta memercikkan bara harapan hidup di benakku yang hampir putus asa. Aku membayangkan beberapa potong tulang lapuk dan berjamur itu menyala dan berdesis di rongga tungku tanah liat. Air rebusan di dalam periuk pun bakal mendidih, meruapkan aroma umbi. Aku bisa merasakan pori-pori di sekujur tubuhku menggeliat dan merekah oleh harapan hidup.

Tanpa menunda lagi, aku pun meraih karung di keranjang, lantas keluar meninggalkan dapur yang lembap dan bau tikus, menuju ke halaman Kuil Tengkorak yang menyimpan ribuan rangka tulang-belulang di dalam sarkofagus. Saat melewati undakan berlumut yang sempit ke arah gerbang kuil, aku belum tahu, tepatnya belum memikirkan, tentang tulang siapa yang akan kuambil. Yang ada di kepalaku saat itu hanya harapan menggebu-gebu. Padahal, sikap kehati-hatian sangat dibutuhkan agar aku tidak salah pilih. Apa jadinya jika yang kuambil itu ternyata potongan tulang-belulang milik keluargaku; tulang kakek atau tulang nenek, bahkan tulang ayahku. Bisa cilaka 13. Jangan sampai itu terjadi.

Selain semangat menggebu, yang terus membayangi pikiranku adalah kecemasan, kalau sampai ada tetangga yang melihatku waktu aku memilah-milah potongan tulang dan memasukkannya ke dalam karung, atau saat memanggul karung berisi tulang, keluar dari halaman kuil, macam pencuri. Aku bisa dicincang oleh orang-orang sekampung karena dianggap telah menghina keluarga mereka, bahkan menghina agama, karena menyakiti para arwah. Aku bergidik membayangkan kemungkinan buruk itu. Sehingga, waktu melangkahkan kaki menuju makam, aku sangat berhati-hati, untuk tidak menyenggol semak belukar yang tumbuh di kiri-kanan undakan, supaya tidak menimbulkan bunyi berkeresek yang akan membuat warga yang berdomisili di luar area kuil jadi curiga. Saat berjalan mendaki undakan itulah tiba-tiba aku teringat pada Samun, yang seketika mengubah tabiatku jadi serigala!

’’Tulang Samun! Ya, tulang Samun! Bajingan busuk itu!” gumamku sambil menggertakkan geraham.

***

Semenjak puluhan tahun silam, aku memang sudah menaruh dendam pada Samun, pria yang membawa kabur ibuku hingga ayahku tewas gantung diri itu. Aku masih ingat pada tato naga di dadanya, juga matanya yang melotot ke wajahku, saat aku memergokinya meniduri ibuku di dangau di tengah ladang jagung.

Hari itu ayahku tengah pergi menjual ikan asin ke pasar, yang cukup jauh dari desa kami, yang terletak di sebuah teluk. Untuk sampai ke sana, ayah harus menyeberangi lima bukit dengan naik kuda. Sehingga, dini hari sebelum ayam berkokok ayah sudah bangun lebih dulu untuk mempersiapkan barang dagangannya. Pada saat itu, aku berdiri di samping ibu yang menanting lentera untuk menerangi ayah yang sedang menaikkan karung-karung berisi ikan asin ke punggung kuda. Setelah ayah berangkat, kami pun akan tidur lagi sampai pagi. Ayah baru akan tiba kembali di rumah pada sore hari saat menjelang magrib.

Di musim angin barat, para nelayan di desa kami, termasuk ayah, memang jarang melaut. Selain sulit dapat ikan, juga terlalu berisiko. Sejak berabad-abad silam hingga sekarang sudah tak terhitung jumlah nelayan di desa kami yang hilang terseret ombak sampai ke Samudra Pasifik, beberapa di antaranya terdampar di Kepulauan Galapagos. Atas alasan tersebut, mereka baru akan melaut lagi setelah musim angin barat berhenti di pengujung bulan April. Selama berbulan-bulan tidak melaut, mereka akan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk berjualan di pasar, seperti yang dilakukan ayah.

Pagi itu, karena terbangun oleh suara tangis Wonara di ayunan, aku langsung pergi mencari ibu ke dangau, melewati petak-petak ladang jagung. Setiba di ladang, beberapa meter dari belakang dangau aku mendengar suara desahan ibu serta derit lincak bambu. Karena tidak tahu apa yang sedang terjadi, setiba di depan pintu dangau aku langsung mendorong daun pintu kelansah yang setengah terbuka. Betapa terkejutnya aku melihat tubuh ibu yang bugil sedang ditindis oleh Samun. Bibirnya yang tertutup kumis berdecap-decap di dada ibuku.

’’Anak jadah! Kenapa kamu ke sini?” hardik Samun sambil melotot. ’’Pergi sana!” ancamnya dengan gesper, tanpa bergeser dari atas tubuh ibuku. Sementara ibu cuma terdiam sambil tetap merangkul leher Samun. Dalam keadaan panik dan sedih aku langsung balik badan, berlari pulang. Dari ujung pundukan ladang aku masih mendengar suara Samun yang mengancam, ’’Awas, kalau kamu beri tahu ayahmu. Saya potong lehermu!”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore