
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Orang yang takut dosa-dosa kecil mengkhawatirkan dirinya tak beruntung. Menjadikan lampu merah sebagai tanda orang yang beruntung atau tidak. Menjadikan hal-hal kecil lainnya sebagai beruntung atau tidak.
MENJADIKAN hal-hal yang lepas darinya sebagai kesialan dan sebagainya. Mereka tidak menghitung dosa yang besar. Dosa besar ya dosa saja. Akan dibakar di neraka. Mutlak. Begitulah wejangan itu terus-menerus disematkan ke telingaku.
’’Ada sebuah pembunuhan yang terjadi dan mayatnya disembunyikan dalam plafon rumahmu. Darahnya menetes kental. Garis line memenuhi ruangan itu ...
’’Orang-orang lalu menyebut kita penyintas.” Aku berkata sambil menghela napas, ’’Ah rasanya mimpi itu berlebihan, kenapa aku justru bermimpi mengerikan begitu saat kau akan menjelang hari bahagiamu.”
’’Menurutmu, apa lebih baik aku membatalkan saja pernikahan kami?” Gadis itu memandangku dengan ketakutan yang kentara.
Aku tersenyum dan memegang tangannya. ’’Itu hanya sebuah mimpi. Kau tak perlu memikirkan.”
’’Te-tapi ...” Dia menundukkan wajahnya. Ketakutannya semakin terlihat. Dia ingin mengusirku, tapi bibirnya kelu. Aku tersenyum sedih. Perlahan aku berdiri dan berbalik meninggalkannya.
Padahal aku hanya bercerita. Aku terlalu antusias karena dia satu-satunya orang yang masih menganggapku teman selama kami tinggal di panti.
Sejak kecil aku diberi tahu mimpi adalah bunga tidur yang tidak berarti. Bagi sebagian orang seperti kami artinya hanya kumpulan angka yang tercantum dalam buku 1001 mimpi.
’’Ibu, aku melihat orang yang mirip diriku. Dia memanggil namaku. Namanya Maya. Dia bilang dia saudaraku. Benarkah itu, Ibu?” Aku berlari menemui ibu yang ada di ruang tamu. ’’Kau hanya berkhayal,’’ tukas ibu.
’’Berhentilah bicara omong kosong.” Ibu tidak pernah mau mendengar aku. Mimpi itu terus terjadi. Kadang-kadang dia menemaniku bermain ayunan di belakang rumah atau mengajakku naik pohon rambutan kebun tetangga saat belum musim berbuah. Kalau sedang musim, tetangga itu biasanya memasang kawat duri agar kami tak bisa menaikinya. ’’Kau tak bisa naik?” Maya terlihat masgul
’’Bagaimana kau bisa naik tanpa terluka?” Aku malah bertanya balik.
’’Aku melompat,” jawabnya ringan. Aku cemberut, merasa sangat kesal, kenapa dia bisa naik pohon itu tanpa terluka, sementara aku merasa ketakutan melihat kawat berduri itu. Dia memang lebih suka naik pohon yang begitu, orang-orang tidak akan menemukannya. Maya tidak suka memperkenalkan dirinya pada orang lain, dia tidak ingin diriku dianggap aneh seperti ibu. Apalagi kami sedikit mirip, pasti membuat banyak pertanyaan.
’’Mereka tidak akan berhenti hanya kita telah menjawab mereka. Pertanyaan yang satu akan membuat pertanyaan yang lain, begitu terus-menerus sampai mereka merasa puas. Padahal mereka tidak punya kepentingan apa pun.” Maya mengumpat.
Begitu juga yang diajarkan padaku. Aku tahu. Ibu juga suka berkata begitu. Aku ingat waktu Bapak baru meninggal, para tetangga juga bertanya hal-hal yang aneh. Bagaimana bapakmu meninggal, bukannya bapakmu sehat-sehat saja? Kok bisa tiba-tiba meninggal? Mereka terus bertanya sampai Ibu mengusir mereka.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
