
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Seperti biasa, setelah mencopet, di tempat yang sepi Gendon segera memeriksa hasil copetannya. Dompet kulit bermerek luar negeri itu berisi uang yang cukup banyak. Ada surat-surat berharga, termasuk ATM. Namun, yang membuat Gendon gemetar adalah selembar kertas yang dilipat rapi dan diselipkan di lipatan STNK mobil. Sepertinya sengaja disembunyikan di situ.
Mula-mula Gendon berniat mengabaikan tulisan pada lembaran kertas itu. Bisa jadi itu hanya main-main. Namun, setelah membaca nama dan profesi pemilik dompet yang tertera di KTP, Gendon segera meralat pikirannya. Sepertinya si pemilik dompet tidak suka guyonan. Apalagi, sudah pasti si pemilik dompet ke mana-mana boleh membawa senjata api dan sudah pasti pula dengan mudah bisa menggunakannya.
Gendon merinding; tak bisa membayangkan kekacauan yang bakal timbul jika rencana itu sampai terlaksana. Ia harus segera bertindak. Apalagi, seperti yang tertulis dalam lembaran kertas, rencana keji itu akan dilakukan pada tanggal ini, hari ini, dan berarti kurang setengah jam lagi.
Gegas, Gendon memanggil tukang ojek dan menyuruhnya memacu sepeda motor. Walau tak paham kedaruratan macam mana yang sedang dihadapi penumpangnya, si tukang ojek segera berkelok-kelok di antara mobil yang merayap dan sesekali melewati trotoar. Setelah 20 menit, mereka tiba di tujuan. Saking semangatnya, belum juga motor berhenti sempurna, Gendon segera melompat, lalu berlari secepatnya. Ia berniat menemui langsung orang yang sedang dalam bahaya itu.
Namun, baru juga lima meter menyeberang pintu gerbang, dua penjaga langsung menyergap Gendon. Ia dijatuhkan ke aspal, kedua tangannya ditelikung di belakang punggung, lalu digelandang ke dalam pos jaga. Di dalam ruangan seukuran kandang monyet itu Gendon diperiksa dua penjaga bertubuh segede gorila. Lembaran kertas di kantong baju Gendon dirampas. Selanjutnya, Gendon diinterogasi sambil dipukul, ditendang, dan ditampar.
”Siapa yang menyuruhmu?”
”Tidak ada yang menyuruh. Saya…”
Duk! Ketupat bengkulu itu menghantam pelipis Gendon.
”Siapa saja gerombolanmu?”
”Gerombolan apa?”
Plak! Tamparan yang keras mendera mulut Gendon, membuat dua giginya goyang. Gubrak! Disusul tendangan sepatu lars yang menghantam tulang kering.
”Siapa yang akan...”
Pruk! Gendon tak sempat menyelesaikan ucapannya. Gagang pistol itu sudah lebih dulu menghantam tengkuknya. (*)
---

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
