Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Oktober 2024 | 16.00 WIB

Kiai Sili (Sebuah Otobiografi)

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Sebagai perpanjangan tangan perusahaan yang berpakaian dan makan seperti warga, aku tidak memiliki banyak kendala dalam membela kepentingan pemilik, segala yang kuucap ditelan mereka mentah-mentah. Aku juga mulai berbisnis bubuk kopi luwak liar, membeli dari warga, kujual di pulau seberang, pulau asalku. Petani kopi memungut berak musang setiap pagi dari bawah pohon kopi. Berak yang berisi biji kopi itu dicuci dan dijemur, mereka tidak tahu betapa mahalnya itu. Mereka menjual padaku dengan harga murah, sementara yang lain, demi menghormatiku sebagai bagian dari mereka, malah memberikannya begitu saja. Pakaianku yang sesederhana pakaian mereka membuat mereka iba hati. Seorang terhormat dari pulau seberang telah hidup seperti mereka.

Percobaan kecil-kecilanku di kaki gunung Burni Telong berhasil dengan sempurna. Kecuali satu kasus yang kemudian sedikit menggangguku di kemudian hari. Satu sore seorang reje mengetuk pintu rumah dinasku, memaki-maki, memintaku memberi ganti rugi yang sepatutnya atas berak-berak musang yang selama ini diberikannya untukku. Putranya yang dikirim berkuliah ke pulau seberang telah pulang dan memberitakan betapa tinggi harga berak musang di sana. Aku dituduh telah menipu sang reje. Beruntung reje-reje lain tak ada yang percaya pada tuduhan reje tersebut. Berak musang tetap berak musang.

Ketika bulan sepuluh tahun delapan tujuh putra sulungku Fufufafa lahir, aku sudah tak punya kepentingan untuk tinggal jauh dari keluarga. Aku sudah punya cukup modal untuk membuka usaha sendiri. Aku mengundurkan diri dari perusahaan dan pulang ke Sili, kotaku di pulau seberang. Bisa dibilang percobaan kali pertamaku cukup berhasil. Untuk memanipulasi kelompok yang lebih besar, aku tinggal menambal kekurangan pada percobaan pertama.

Di kaki gunung Burni Telong aku mempelajari banyak hal tentang kayu: yang rapuh, yang kuat, yang keras, yang tahan lama, yang halus, yang elegan, yang ringan, yang berat, lengkap dengan bentuk serat dan warnanya. Oleh karena itu, aku memutuskan membuka kedai perabot.

Orang-orang di dunia yang memiliki nama butuh rumah, di dalam rumah mereka butuh kursi, lemari, tempat tidur, dan lainnya. Perkiraanku tidak meleset, berbagai jenis orang mendatangi kedai perabotku, dari yang kaya, yang berpendidikan, yang tidak berpendidikan, yang hanya sanggup membeli satu kursi, sampai yang sanggup membeli seluruh isi kedai. Aku melayani mereka dengan sangat ramah penuh sopan santun. Kemudian mereka mulai memanggilku Kiai Sili.

Satu per satu kupelajari watak para langganan, kucatat di sebuah buku kemudian aku menguasai mereka. Itu sungguh menyenangkan. Saat mereka kecewa dengan perabot dari kedaiku, aku meminta maaf, basa-basi menawarkan ganti rugi, mengajak mereka minum, membicarakan kesukaran hidup, kesusahanku menemukan kayu bermutu, uang keamanan yang harus kusetor, dan ajaibnya mereka lupa dengan kekecewaan mereka padaku.

Kehidupan terus berputar, anak kedua dan ketigaku segera lahir, aku mulai bosan dengan kedai perabot, tapi aku tetap berpura-pura menyukainya hingga suatu hari di warung gudeg Mbak Yuh aku melihat seorang perempuan paro baya sedang makan gudeg dengan lahapnya. Aku merasa tak asing dengan sosok tersebut, tapi tidak ingat di mana pernah melihatnya. Perempuan itu tersedak gudeg, teman-temannya panik, menelepon ambulans.

Biar dianggap suka menolong, kuhampiri perempuan itu, kupukul punggungnya, gudeg masih tersangkut. Lantas kupeluk belakang, kutekan bagian ulu hatinya dengan kedua jempolku, hingga potongan gudeg terbang keluar. Dia bisa bernapas lagi. Sebagai rasa terima kasih, dia berjanji akan mengunjungi kedai perabotku. Setelah perempuan itu dan rombongannya pergi aku ingat, perempuan itu adalah perempuan yang datang dalam mimpiku saat tinggal di Burni Telong.

Kemudian hidupku sepenuhnya berubah. Perempuan paro baya itu membawa mimpiku menjadi nyata, aku diminta mencalonkan diri menjadi wali kota Sili. Dengan mudah aku terpilih. Kesederhanaan dan wajah polosku adalah modal, bahkan perempuan yang sangat berkuasa itu menganggapku seseorang yang mudah disetir.

Setelah di sukses Sili, perempuan itu mencalonkanku menjadi gubernur Zatarka, tempat ibu kota negara berada. Lagi-lagi tampang polosku bak orang kampung membuatku terpilih. Tampangku juga membuat penduduk miskin Zatarka yang datang dari kampung itu menganggapku bagian dari mereka. Zatarka yang konon rumit itu segera kukuasai.

Perempuan paro baya itu semakin memercayaiku. Dengan sangat yakin dia mencalonkanku sebagai kepala negara. Ternyata rakyat Negara Republik Kesatuan Indomisia ini juga mudah dimanipulasi dengan tampang ala-ala kampungku. Mereka mendukungku dengan alasan akulah yang mereka cari, yang akan memperjuangkan nasib mereka yang miskin dan terpinggirkan.

Aku menjadi kepala negara, menjadi bukti kalau pemilih di negara Indomisia memang rata-rata dari golongan orang miskin.

Begitu menjadi kepala negara, tercapai sudah cita-citaku untuk membalas dendam pada orang-orang di dunia yang memiliki nama ini. Untuk berjaga-jaga aku selalu bermain peran, keluargaku tidak boleh menarik perhatian, si sulung kubuat menjual es dawet, si tengah kubuat tidak lulus ujian pegawai sipil, si bungsu kubuat menjual pecel lele. Sehari-hari mereka berpakaian seperti rakyat jelata Republik Indomisia pada umumnya. Saat ingin berpakaian mewah, mengendarai mobil mewah, mereka akan liburan ke tempat-tempat yang dikunjungi oleh golongan 1 persen di luar negeri sana, yang mustahil terjangkau penglihatan orang-orang golongan menengah ke bawah, rakyat jelata Republik Indomisia.

Satu-satunya ancaman bagiku hanya perempuan yang telah mengangkatku menjadi penguasa itu, perempuan yang sangat berkuasa. Sampai akhir masa jabatan pertama, aku masih sangat butuh dukungan perempuan itu. Aku menurut begitu saja seperti sapi (aku benci kata terakhir). Di satu sisi, aku mulai meniupkan kabar kepada sebagian pemilihku, jika ada kekurangan di masa jabatan pertamaku, itu disebabkan aku tidak bisa bertindak seperti diriku. Perempuan paro baya itulah penguasa yang sebenarnya. Aku masih butuh lima tahun lagi untuk menjadi diriku, yang akan membereskan masalah pelanggaran HAM dan kemiskinan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore