
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Bakar saja atau sobek-sobek, terus buang ke WC. Pokoknya jangan sampai tersisa!” sahut Dulhumut.
Sebetulnya berat bagiku jika harus menghancurkan pasporku. Meski paspor Indonesia termasuk paling lemah di Asia Tenggara sehingga aku terpaksa harus mengurus visa Schengen ke Jerman yang persyaratannya berat dan rumit, bagiku paspor adalah pengakuan resmi tertinggi atas identitas jati diriku sebagai manusia terhormat di muka bumi. Lagi pula, paspor itu kudapatkan dengan susah payah lewat proses merepotkan yang berbelit-belit.
Seumur hidupku yang hampir genap 40 tahun, baru sekali inilah aku punya paspor sehingga bisa pergi ke luar negeri. Paspor jauh lebih istimewa daripada KTP. Tidak semua orang bisa memiliki paspor.
Sejak pertemuan terakhir dengan Dulhumut, aku selalu terngiang kata-katanya. Menurutku, menyobek paspor dan membuangnya ke WC lebih aman ketimbang membakarnya. Di negeri ini tidak mudah membakar sesuatu. Harus ada izin resmi. Tidak seperti di kampungku yang bisa bebas membakar sampah di belakang rumah kapan saja aku mau.
Setelah bergulat dengan segala pertimbangan dan harapan, pada pagi terakhir di Jerman aku membulatkan tekad membuang pasporku.
Di dalam toilet apartemen sederhana kami di Dilsberg, dengan menguatkan hati kusobek pasporku menjadi serpihan-serpihan kecil. Lalu kubuang semua serpihan itu ke dalam WC. Mengambang seperti kotoran.
Kurapatkan penutup WC. Jariku memijit tombol pembilas. Terdengar suara gemuruh air.
Namun, ternyata masih ada beberapa serpihan kertas tersisa di dalam air. Kupijit lagi tombol pembilas. Eh, rupanya masih ada juga yang mengambang.
Sekali lagi kutekan tombol pembilas. Kali ini lebih keras. Air berpusar dengan suara kencang. Lalu senyap. Tetapi, saat kutengok, masih ada seserpih kertas di sana. Kulihat sebelah mataku yang kuyu pada sobekan foto paspor. Mata itu seakan-akan menatapku penuh dakwaan.
Saat hendak memencet lagi tombol pembilas, kudengar suara bergema di kepalaku, ”Mau lari ke mana, Pengecut?”
Aku terpana dan ngeri. Suara apakah itu? Tampaknya itu berasal dari mata yang mengambang di dalam air.
Kuambil sikat gigi. Dengan ujung gagangnya kubalikkan serpihan foto itu. Kini mata itu tak terlihat lagi olehku. Untunglah. Lega rasanya. Mata itu tak lagi menerorku. Aku bersyukur di dalam hati. Tuhan sungguh Maha Pengasih.
Namun, lamat-lamat kudengar suara rintihan di dalam kepala. Ah, bukan. Itu makian! Tapi aku tak peduli.
Kupijit lagi tombol pembilas. Lalu, kulongokkan kepala ke lubang WC. Meneliti. Kali ini tiada lagi yang tersisa. Kubuka pintu toilet. Aku melangkah keluar dengan penuh kemenangan. (*)
Heidelberg–Dilsberg–Jakarta, Juli–September 2024

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
