Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Oktober 2024 | 15.50 WIB

Paspor

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Dalam kekalutan, aku berupaya mencari jalan keluar.

Syukurlah, akhirnya jalan itu kutemukan lewat Dulhumut saat kami bertemu di taman dekat halte trem Seegarten tiga hari sebelum jadwal kepulanganku.

Aku berkenalan dengan lelaki ganjil yang lima tahun lebih tua dariku itu secara tak sengaja. Saat itu aku disuruh Pak Lurah membeli persediaan mi instan di toko bahan makanan Asia dekat Hauptbanhof.

Saat aku hendak membayar di kasir, kulihat sosok lelaki berkulit gelap dan berambut keriting di depanku seperti kebingungan. Tampaknya dia juga hendak membeli mi instan buatan Indonesia sepertiku. Kutanya dia dengan bahasa Inggris asal bunyi, ”What’s up, bro?”

Dia menatap kaget wajah kampunganku lalu kemeja batik lusuh yang kukenakan. Alih-alih menjawab pertanyaanku, dia malah balik bertanya dalam bahasa Indonesia logat Lamongan, ”Sampean orang Indonesia, ya, Mas?”

Kami bersalaman dan berkenalan. Dia rupanya tidak dapat menemukan dompetnya. Entah ketinggalan atau kecopetan. Aku jatuh iba. Sesama perantau harus saling menolong. Kubayari belanjaannya yang tak lebih dari 5 euro; sekitar 80 ribu rupiah. Sejak itu kami pun berkawan baik.

Setelah kami akrab, kuketahui Dulhumut seorang imigran gelap. Kini dia bekerja dan tinggal di sebuah restoran milik orang Iran di Bergheimer Strasse. Dia memintaku merahasiakan soal itu.

Kadang-kadang kami bertemu di taman atau aku mendatangi restoran tempat dia bekerja setelah jam tutup. Dulhumut menjadi salah satu alasan aku betah berada di Jerman. Aku merasa menemukan kawan senasib tempat aku bisa mencurahkan isi hati tanpa takut atau malu.

Dulhumut orang susah sepertiku. Tapi pengalamannya banyak. Dia pernah bekerja di kapal dan mengembara keliling dunia sebelum akhirnya terdampar di Jerman. Sudah setahun dia tinggal di sini dan selamat dari razia polizei yang sering begitu garang terhadap para imigran berkulit gelap. Orangnya jenaka, suka bercanda, dan cengengesan. Dalam segala keterbatasan hidup, dia selalu bisa menemukan sisi terang dan kelucuan. Meskipun tampak bodoh, sebetulnya dia banyak akal.

Dari Dulhumut aku mendapatkan cara untuk melarikan diri. Menurutnya, aku harus melenyapkan pasporku agar identitasku tidak diketahui. Jika tak ada paspor, identitas kita akan kabur dan susah dideportasi. Lalu, aku harus bersembunyi dari pantauan polisi. Kalau mujur, mungkin nanti akan datang peluang untuk mendapatkan suaka dan diakui sebagai warga. Dulhumut bilang dulu ada kawannya pengungsi dari Syria yang akhirnya berhasil mendapat suaka di Jerman dengan cara seperti itu. Dia juga berjanji membantuku mendapat pekerjaan di restoran Iran tempat dia bekerja atau di kedai buah punya orang Palestina.

”Sesama manusia harus saling membantu. Apalagi kita ini sama-sama orang susah di negeri asing,” kata Dulhumut. ”Pokoknya kamu jangan khawatir. Pasrah saja dan berdoa,” sambung dia lagi setelah mengisap rokok lintingnya dalam-dalam.

Harga rokok di Jerman mahal sekali. Jadi Dulhumut lebih suka merokok tembakau lintingan. Aku sendiri sudah lama berhenti merokok.

”Lalu pasporku harus kuapakan?” tanyaku seraya menatap nanar air mancur di taman.

Bunga-bunga aneka warna yang tak kuketahui namanya di taman ini sesungguhnya begitu indah pada akhir musim semi seperti ini. Namun, kegundahan hatiku menghalangi pandanganku atas semua keindahan itu. Kata guru bahasa Inggrisku di SMA dulu, keindahan itu terletak pada mata orang yang memandang. Jika suatu keindahan yang hakiki tidak dapat dinikmati, yang salah orangnya, bukan bendanya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore