Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 September 2024 | 16.28 WIB

Jagoan Tangan Buntung

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

”Aku bisa baca dan menulis namaku sendiri, Pak,” balas Ratim mantap.

”Apa pentingnya nama, Nak. Di Jakarta yang ditanya bukan nama, tapi keahlian yang dibuktikan dengan selembar ijazah sekolah. Bapak puluhan tahun bekerja serabutan di Jakarta. Bapak masih muda waktu PKI bikin hajatan besar di lapangan bola Senayan. Bapak tukang bersih-bersihnya di situ. Sudah di sini saja, tiga bulan lagi Idul Adha, kerbau kita pasti laku. Apalagi sekarang Jakarta tidak aman. Kamu tidak dengar berita di radio? Kerusuhan terjadi di mana-mana.”

”Aku sudah tidak kuat tinggal di kampung. Aku ingin cepat punya banyak uang. Aku juga ingin kawin, Pak. Kebetulan ada teman yang mengajakku kerja proyek bangunan. Katanya upahnya lumayan.”

”Terus kamu punya ongkos buat bekal ke Jakarta?”

”Nah itu soalnya. Kalau boleh jual saja satu anak kerbau buat ongkos. Haji Roni mau beli tapi minta dititipkan dulu, ambilnya nanti kalau sudah besar.”

Mendengar itu, bapaknya diam. Kemiskinan menyebabkan orang lebih dekat dengan kebodohan. Dan orang bodoh lebih gampang untuk dipermainkan. Itulah yang terjadi pada Ratim sebelum akhirnya berangkat ke Jakarta dengan menjual anak kerbau peliharaannya.

Sesampainya di Jakarta, ia bekerja sebagai buruh bangunan. Ia bekerja dengan semangat sampai satu bulan penuh hingga uang bekalnya habis. Sialnya, sang mandor membawa lari uang gajiannya. Ia dan 20 kuli bangunan lainnya panik, marah, dan kecewa. Sejak saat itu ia mulai bingung apa yang harus dilakukan. Sudah tiga hari ia dan kawan-kawannya menunggu mandornya datang berharap memberikan haknya sebagai kuli yang telah menukarkan rasa lelahnya hingga tulangnya remuk redam. Di hari keempat semua kuli bangunan sudah pergi meninggalkan sumpah serapah untuk mandor yang telah membawa lari hasil keringatnya. Ada yang pulang ke kampung halamannya, ada yang pergi ke rumah saudaranya. Sedangkan Ratim bingung harus pergi ke mana. Uang tidak ada, apalagi saudara. Teman yang membawanya ke Jakarta pun sudah menghilang entah ke mana.

Hanya bermodal nekat ia segera mengemas pakaiannya dan pergi meninggalkan tempat proyek. Hampir separo hari Ratim menghabiskan waktunya menyusuri jalan sambil menunggu datangnya malaikat penolong yang diutus Tuhan. Di tengah jalan di dekat Pasar Kebayoran Lama, tiba-tiba sejumlah orang berlari ke arahnya. Ia terlihat bingung penuh tanya melihat banyaknya orang berlari ke arahnya. Beberapa menit setelahnya tanpa diduga puluhan orang juga berlari ke arahnya sambil mengacungkan pedang, golok, dan balok. Dengan sigap ia memasang kuda-kuda bersiap mempertahankan diri. Duel pun terjadi. Berkali-kali ia berhasil merobohkan lawannya sebelum satu sabetan pedang mengiris lengannya. Dengan gerakan cepat seperti kijang ia melahirkan diri. Dari situ ia menyadari bahwa dirinya terjebak di tengah perkelahian antara dua kelompok. Entah antara siapa lawan siapa.

Ratim masih lari tunggang langgang di saat bersamaan dua mobil polisi meraung-raung dan sesekali melepaskan bunyi tembakan. Ia berlari dengan tubuh gemetar menyaksikan peristiwa yang baru dialami seumur hidupnya. Barulah setelah di emperan rumah sakit ia menjatuhkan dirinya sambil berbaring berharap akan ada orang yang menolongnya. Setelah tergolek lemah usai mengikat lengannya yang terluka dengan bajunya, ia mulai menyadari tidak ada yang peduli dengan dirinya. Rumah sakit tidak gratis, bahkan mati di tempat orang sakit pun tidak diizinkan. Sebelum akhirnya ia pergi dari rumah sakit membawa rasa kecewanya.

Saat Ratim sedang menyesali keputusannya pergi ke Jakarta, tiba-tiba segerombolan orang datang dan membangunkannya dengan menendang bokongnya. ”Hai, bangun. Tidur jangan di jalan.”

Ratim kaget dan menatap gerombolan pemuda itu dengan pasrah. ”Mungkin ini malaikat yang mengambil nyawaku,” pikirnya.

”Kamu gelandangan?” tanya salah seorang dari mereka sambil menyemburkan asap rokok ke wajah Ratim.

”Mau tempat tinggal layak? Rokok, makan, dan upah tiap bulan?” tanyanya lagi.

Ratim bingung dengan pertanyaan yang baru didengarnya.

”Ditanya kok bengong. Jawab.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore