
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Bagaimana bisa tumbuh baik kalau perasaan kita ketika tanam sedang tidak baik?” Ama Tewo mengeluh.
”Beringin-beringin tidak tumbuh oleh uang, tapi oleh tangan kita yang tanam,” sambung Ama Pelatin.
Sudah dua minggu mereka menanam di siang terik. Hujan datang terlambat. Namun ini tuntutan proyek. Ada batas waktunya. Maka harus tanam walau hujan belum turun. Setiap hari dipantau. Diambil foto dan video.
Sesuai perjanjian hari ini pembayaran upah kerja dua minggu pertama. Warga berharap bisa dapat sedikit uang. Ina Uto, misalnya, sudah janji sore nanti membayar utang beras dua kilo yang ia pinjam ke Ina Barek tetangganya. Atau Ama Ola sudah janji dengan kepala sekolah untuk besok pagi membayar biaya sekolah anaknya yang nunggak.
Ada yang sudah mulai resah, bahkan menaruh curiga. Pasalnya, sudah lima hari tidak kelihatan batang hidungnya Markus. Walau muncul rupa-rupa perasaan, warga bekerja dengan sungguh-sungguh. Keringat bercucuran. Menjadi pekat bercampur debu tanah.
Panas makin garang. Warga tetap semangat. Tak peduli kuku-kuku tangan yang menghitam. Mereka memendam harapan yang sama. Mendapat upah hari ini.
Angin menerbangkan debu-debu. Sebagian warga mengusap berulang-ulang matanya yang perih dengan lengannya. Panas semakin tak punya belas kasihan.
Sudah dua minggu para warga meninggalkan kerja rutinnya demi upah satu dua sen yang akan dibayar hari ini. Matahari mulai bergeser ke barat. Angin kemarau bertubi-tubi menghamburkan debu dalam jumlah yang lebih besar. Sebagian warga menghindar dengan membalikkan badan. Ada yang bertahan. Mendongak sambil menahan napas dan memejamkan mata beberapa saat. Selepas itu, selalu saja ada yang mengarahkan matanya jauh ke arah lembah. Tak satu pun kendaraan yang datang. Yang terdengar malah deru napas dan rasa lelah yang semakin tak bisa ditahan.
Matahari makin condong ke barat. Warga gundah melihat bayangannya yang memanjang. Teriakan dari lembah menciptakan jeda. Seseorang berlari menuju bukit. Mereka memperhatikan tanpa berkedip. Makin lama makin jelas. Tapi bukan Markus. Ada ketakutan yang kian dekat. Menjadi perih yang merayap memenuhi dada.
”Pulang, pulang, kita pulang saja. Tak ada guna semua ini!”
”Ada apa?”
”Ada apa?”
”Ada apa?”
Tanya warga melemah.
”Kita pulang saja. Markus dan kepala dinas ditangkap. Sudah pakai rompi oranye.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
