Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 18 Agustus 2024 | 15.59 WIB

Ama Tewo

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

”Bagaimana bisa tumbuh baik kalau perasaan kita ketika tanam sedang tidak baik?” Ama Tewo mengeluh.

”Beringin-beringin tidak tumbuh oleh uang, tapi oleh tangan kita yang tanam,” sambung Ama Pelatin.

Sudah dua minggu mereka menanam di siang terik. Hujan datang terlambat. Namun ini tuntutan proyek. Ada batas waktunya. Maka harus tanam walau hujan belum turun. Setiap hari dipantau. Diambil foto dan video.

Sesuai perjanjian hari ini pembayaran upah kerja dua minggu pertama. Warga berharap bisa dapat sedikit uang. Ina Uto, misalnya, sudah janji sore nanti membayar utang beras dua kilo yang ia pinjam ke Ina Barek tetangganya. Atau Ama Ola sudah janji dengan kepala sekolah untuk besok pagi membayar biaya sekolah anaknya yang nunggak.

Ada yang sudah mulai resah, bahkan menaruh curiga. Pasalnya, sudah lima hari tidak kelihatan batang hidungnya Markus. Walau muncul rupa-rupa perasaan, warga bekerja dengan sungguh-sungguh. Keringat bercucuran. Menjadi pekat bercampur debu tanah.

Panas makin garang. Warga tetap semangat. Tak peduli kuku-kuku tangan yang menghitam. Mereka memendam harapan yang sama. Mendapat upah hari ini.

Angin menerbangkan debu-debu. Sebagian warga mengusap berulang-ulang matanya yang perih dengan lengannya. Panas semakin tak punya belas kasihan.

Sudah dua minggu para warga meninggalkan kerja rutinnya demi upah satu dua sen yang akan dibayar hari ini. Matahari mulai bergeser ke barat. Angin kemarau bertubi-tubi menghamburkan debu dalam jumlah yang lebih besar. Sebagian warga menghindar dengan membalikkan badan. Ada yang bertahan. Mendongak sambil menahan napas dan memejamkan mata beberapa saat. Selepas itu, selalu saja ada yang mengarahkan matanya jauh ke arah lembah. Tak satu pun kendaraan yang datang. Yang terdengar malah deru napas dan rasa lelah yang semakin tak bisa ditahan.

Matahari makin condong ke barat. Warga gundah melihat bayangannya yang memanjang. Teriakan dari lembah menciptakan jeda. Seseorang berlari menuju bukit. Mereka memperhatikan tanpa berkedip. Makin lama makin jelas. Tapi bukan Markus. Ada ketakutan yang kian dekat. Menjadi perih yang merayap memenuhi dada.

”Pulang, pulang, kita pulang saja. Tak ada guna semua ini!”

”Ada apa?”

”Ada apa?”

”Ada apa?”

Tanya warga melemah.

”Kita pulang saja. Markus dan kepala dinas ditangkap. Sudah pakai rompi oranye.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore