ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Kau bangun kesiangan lalu mengumpat dan menyumpahi dunia sebagaimana yang lazim terjadi akhir-akhir ini ketika kau tersadar dari tidur yang tak nyenyak. Senin cenderung lebih lantang dibanding hari lainnya. Kau meneguk air putih, berkumur membersihkan tenggorokan sembari berjalan menuju jendela. Selepas tirai disibak dan engsel ditarik, kau menyemburkan air itu keluar seolah ingin meludahi dunia yang kau pikir jarang berpihak kepadamu.
Gambaran betapa menyedihkannya dirimu terpantul samar lewat kaca jendela tembus pandang, dan lagi-lagi, seperti biasa, kau ingin menertawakannya.
Tumpukan cucian di keranjang memanggilmu. Lalu piring-piring kotor di bak pencucian. Debu lantai. Helai rambut. Sampah-sampah kecil yang tak kasatmata. Seprai penuh noda itu ingin diganti. Bahkan sepasang bantal yang lembap oleh air matamu juga ikut mengemis ingin dijemur. Kau mengerjakan semua dengan hati riang, kecuali menyetrika. Kau tak pernah tahu kenapa pekerjaan itu terasa begitu menyiksa sampai-sampai kau rela menyisihkan sebagian gajimu yang tak seberapa itu kepada penatu langganan dekat tempat tinggalmu.
Kau meracik kopi yang rasanya tidak pernah sama. Kali ini pahit dan menurut seleramu itu pas. Kau menghirup perlahan sambil menggulir ponsel, menjatuhkan diri sesaat dalam dunia maya. Beberapa saat kemudian, kau menyadari terjebak di antara begitu banyak drama perselingkuhan yang sering kali dibagikan layaknya kabar gembira. Kenyataan itu, sejujurnya, lebih membuatmu bergidik, ketakutan, bahkan hilang kepercayaan alih-alih simpati.
Kau beranjak ke dapur menggoreng telur mata sapi. Laptop kembali menyala. Kau makan di atas kasur seraya kembali melanjutkan maraton drama Korea. Perut kenyang melayangkan matamu. Kau tidur lagi. Dininabobokan oleh bahasa asing.
Entah di episode berapa, kau bangun kali kedua di siang itu. Di luar kebetulan cerah. Terlampau cerah untuk langit yang sering mendung akhir-akhir itu. Sore itu kau memutuskan keluar dan berharap dapat memotret langit petang yang indah. Kau mandi. Keramas. Berlama-lama di kamar mandi, menelisik lebih jauh bagian tubuh yang kadang luput dari perhatian lantaran sering tergesa-gesa diburu waktu pagi. Tetapi sekarang kau punya waktu luang yang melimpah, paling tidak sampai matahari tak semenyengat di siang itu.
Kau berdandan secukupnya. Kemeja biru muda bergaris tipis berpadu dengan celana sewarna buah pala jadi pilihan. Kau berani memilih warna-warna itu sebab menurut perkiraan cuaca, hujan takkan turun hari itu, dan kau meyakininya. Kau memasukkan bekal berupa roti lapis ke dalam tas jinjing berbahan belacu. Setelah berpikir lama antara pakai sandal atau sepatu, kau akhirnya memilih sepatu karena sandal hitam itu terlihat tak dapat menunjang rasa percaya dirimu.
Kau menata rambut dengan jari, seadanya, lalu becermin, sekejap saja, sekadar memastikan tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Cermin oval itu tahu bahwa kau muak berlama-lama di depannya. Terlalu banyak penyesalan, dan kau tak sanggup menatap wajah itu lebih lama.
Jarak tempuh menuju pantai, tempat rutin yang kau kunjungi sebagai pelarian ketika tempat kerjamu terasa begitu menyesakkan, nyaris berjarak tiga ribu meter. Tidak terlalu jauh. Tidak pula terlalu dekat. Kau memutuskan berjalan kaki. Kau berjalan di depan deretan toko-toko beretalase tinggi dan bercahaya menyilaukan, membalas senyum orang-orang yang biasa kau lihat sepulang kerja, tetapi tak satu pun di antara mereka yang benar-benar kau kenal.
Langit petang mulai memamerkan warna-warna memesona bahkan sebelum kau tiba di pantai. Awan juga serupa. Bergumul membentuk lukisan abstrak yang tak kalah cantik. Keindahan itu mendorongmu bergegas. Aku tak ingin kehilangan momentum, batinmu. Dan setiba di sana, kau disambut keriuhan akhir pekan alih-alih debur ombak. Kau tak perlu risau sebab di antara sedikit keahlianmu, mencari titik tersembunyi di keramaian adalah salah satunya. Kau memperhatikan sekitar lalu menemukan tempat itu tanpa berlama-lama. Setidaknya, di sana, menawarkan sedikit ruang yang barangkali cukup bagi dirimu serta luka yang selalu kau bawa.
Kemudian, kau mulai memotret apa saja yang kau anggap indah. Langit serta kerlap-kerlip di atas permukaan laut. Buih ombak yang timbul tenggelam. Karang dan batu-batu besar pemecah pasang. Dua sampan di tengah lautan yang juga ikut berkilau. Sekawanan camar yang melintasi langit petang. Daun nyiur menjuntai, meliuk-liuk dibuai angin. Semua itu, sesungguhnya, terlihat sederhana, hanya saja kau butuh sesuatu untuk merasa sedikit diisi –daripada dibiarkan selalu kosong.
Ketika melangkah lebih jauh kau menyesal tidak mengenakan sandal. Butiran pasir masuk dalam sepatu dan itu cukup mengganggu. Kau mencopot kemudian menentengnya. Kau berjalan bertelanjang kaki di bibir pantai. Lalu, tiba-tiba kau berhenti lantas membenamkan kaki ke dalam pasir. Hangat yang menenteramkan. Sesekali lidah ombak sampai, mengecup kakimu seolah-olah tengah menggelitik. Sensasi itu, secara tidak langsung, mengingatkanmu akan sentuhannya. Sentuhan seseorang yang amat sangat kau kenal. Dan mata kameramu menangkap semua itu dengan sempurna.
Hasrat ingin membagikan foto itu tiba-tiba menggebu dalam dirimu. Nyaris di saat yang sama, kau teringat pada salah satu puisi Subagio Sastrowardoyo. Sudah begitu lama kau tak membagikan sesuatu di media sosial. Kau selalu beranggapan bahwa orang lain, siapa pun itu, seharusnya tak perlu tahu apa yang sedang kau kerjakan sebagaimana juga dirimu yang tak pernah ingin tahu keseharian mereka. Barangkali, hari itu, kau merasa sedikit perlu membagikan sesuatu, sekadar untuk menunjukkan keberadaanmu kepada orang lain –atau dia?
Kau login ke Instagram. Tidak ada notifikasi. Kau membagikan foto kaki itu tanpa filter berlebihan, dengan takarir; tak ada yang kita punya//yang kita bisa hanya/membekaskan telapak kaki/dalam, sangat dalam/ke pasir/lalu cepat lari sebelum/semuanya berakhir//semuanya luput//juga waktu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
