
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Sudah lama sekali paman tidak mampir. Rumah ini sudah saya renovasi, sekarang ada lantai dua. Cukup menampung bahkan sampai empat orang buta.” Saya ingin mengatakan itu, tapi masih bisa menahan diri. Alih-alih, saya katakan ”mau ke lantai dua? Sekarang ada lantai dua dan ada kamar di sana...”
”Oh, sudah ada lantai dua?”
”Tentu-tentu. Mari kita naik. Paman juga bisa tidur di kamar di atas nanti,” ujar saya.
”Nanti saya terjatuh...”
”Saya tuntun. Percaya sama saya, Paman...” balas saya.
Kami berjalan, menaiki anak tangga ke lantai dua. ”Hati-hati.... hati-hati... Nanti saya jatuh,” kata Paman Ali beberapa kali, seraya kami berjalan menaiki tangga. Saya tidak berkata lain selain memintanya berjalan dengan rasa percaya. Seharusnya dia mahir dalam hal itu, tapi terkadang beginilah sikapnya jika ada di dekat saya: penuh kehati-hatian dan rasa curiga, padahal saya bukan murid yang melarikan hartanya.
Kami pun berjalan, menapak tangga satu per satu. Sempat Paman Ali tersandung, meski tidak sampai tersungkur. Cara tersandungnya pun terasa aneh, sampai membuat saya teringat cerita si sopir taksi soal kenalannya. Meski begitu, saya yakin Paman Ali dan kenalan si sopir taksi pastilah orang yang berbeda. ”Hati-hati, Paman... Saya tuntun supaya tidak tersandung lagi,” kata saya.
Sesampainya di atas saya menjelaskan sedikit ke Paman Ali tentang ruangan-ruangan yang ada, dan mencoba menggambarkan seberapa besar ukuran jendela kami, dan pemandangan apa yang bisa dilihat dari sana.
”Coba di sini, coba berdiri...” ujar saya, sambil mengarahkan Paman Ali tepat ke depan jendela di lantai dua. Saya membuka jendela itu, dan angin yang cukup kencang berembus. ”Majulah selangkah,” lanjut saya sambil masih membimbing Paman Ali.
”Begini?”
”Tentu... tentu... selangkah lagi. Ya, benar. Pas. Berdirilah di sini. Dari sini pemandangannya paling bagus,” ujar saya.
”Saya buta, tidak bisa melihat pemandangan itu...” balas Paman Ali.
”Bayangkanlah. Sungguh, pemandangan indah ini mahakuasa Tuhan.”
”Begitukah?”
”Tentu... Paman bisa bayangkan pemandangannya,” lanjut saya.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
