
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Kalau dipikir-pikir, belum ada manusia lain yang saya temui sepanjang hidup saya yang membuat saya merasa tidak nyaman seperti Paman Ali. Keluarga istri saya, misalnya, memang menunjukkan gejala-gejala keluarga religius dari cara mereka bertutur dan bertindak, tapi tidak sampai membuat saya jengah. Mereka masih memercayai bahwa keimanan adalah urusan masing-masing, meski sering menyarankan ini itu yang dirasanya lebih baik.
Pernikahan dengan istri saya pun tidak menjadi beban bagi karakter saya karena hal itu: meski saya hanya beribadah sekadarnya untuk mempertahankan hubungan sosial yang diperlukan, istri saya yang mengetahui itu tidak menuntut lebih. Tidak juga menilai kalau cara saya beribadah akan dilihat lebih rendah dibanding orang lain di mata Tuhan. Kecuali itu, barangkali kecantikan istri sayalah yang begitu memikat saya.
Begitu saya masuk ke rumah, istri saya sedang berjalan mendekati pintu, bersiap-siap keluar. ”Sudah pulang, ada Paman Ali di ruang tengah. Temani ya,” katanya kepada saya.
”Mau ke mana?” tanya saya.
”Paman Ali lapar, saya belikan makan dulu.”
”Belikan juga untuk saya,” balas saya. Sebenarnya saya sudah makan, tapi entah kenapa ide tentang istri saya keluar membeli makan hanya untuk Paman Ali mengusik hati saya.
Setelah istri saya pergi, saya tidak langsung ke ruang tengah, melainkan pergi membasuh badan dan berganti pakaian terlebih dahulu. Saya kemudian berbaring dan memikirkan kembali rasa tidak suka saya kepada Paman Ali. Rasanya saya bisa melakukan lebih banyak hal sebelum menghabiskan waktu menemani orang buta yang hendak menginap di rumah kami itu. Lagi pula, entah dari mana awalnya, saya merasa orang buta punya banyak kesabaran untuk menunggu lebih lama.
Jika bukan karena suara sesuatu terjatuh, barangkali saya tidak akan menghambur ke ruang tengah. Kecuali Paman Ali, saya baru tersadar ada beberapa hal yang saya khawatirkan terjatuh di ruangan itu. Ketakutan yang tiba-tiba menyodok kesadaran saya soal kenyataan bahwa di ruangan itu sedang ada orang buta, terlepas orang itu Paman Ali atau bukan.
Begitu mengetahui Paman Ali yang terjatuh, saya sedikit lega.
”Benjor? Benjor? Itu kamu ya, di sana....” tanya Paman Ali sambil merangkak di lantai, mencari-cari tongkatnya. Pastilah dia mendengar suara saya berlari dari dalam kamar ke ruang tengah. ”Tolong ambilkan tongkat saya,” lanjut Paman Ali.
Saya mengambil tongkat yang terjatuh itu dan meletakkannya di tangan Paman Ali. Dia kemudian memakai kesempatan itu untuk memegang-megang tangan saya dan menceritakan alasannya terjatuh tanpa saya tanya. ”Rupanya rumah ini masih sempit,” lanjutnya, sambil masih memegang-megang tangan saya.
”Rupanya istri saya belum mengajak paman berkeliling rumah,” ujar saya. Entah kenapa, kesimpulan serampangan dari Paman Ali soal luas ruang tengah saya itu membuat saya ingin mencabut bola matanya agar dia menjadi lebih buta lagi.
Memang, Paman Ali mengalami kebutaan tidak berselang lama setelah dirinya pantas diberikan predikat miskin. Bahkan kemungkinan besar, saat mengalami kebutaan itu sebenarnyalah Paman Ali belum merasa miskin sehingga dirasanya kemiskinannya saat ini berbeda dari kemiskinan-kemiskinan lain di luar sana. Karena itu, pastilah dia masih merasa lebih kaya daripada saya.
Sering saya mendengar cerita, Paman Ali masih yakin salah satu muridnya yang dipercaya mendaftarkan hartanya untuk satu investasi yang tidak jelas itu akan mengembalikan beberapa harta yang tersisa kepadanya. Tahun-tahun berlalu, dan si murid tidak juga tampak batang hidungnya. Keluarga istri saya pun menyimpulkan apa yang dialami Paman Ali sebagai musibah yang biasa didapat orang-orang baik, meski saya sendiri menyimpulkan, itulah yang pantas disebut nasib sial karena kebodohan. Dan orang bodoh itulah yang sedang terjatuh di ruang tengah saya sekarang.
”Paman mau menginap di sini beberapa hari kalau boleh, tapi apa kamarnya cukup?” tanya Paman Ali.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
