Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juni 2024 | 20.34 WIB

Kampung Kentut

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Ketiga anak Pak Mal malah tertawa. Bahkan sampai terbahak. ”Nanti kalau kau sudah diterima di pabrik,” balas salah satu dari mereka yang membuat Jack ngakak.

Ya, aku tahu Jack memang tak pernah diterima di pabrik karet itu. Dia adalah warga luar yang tinggal di kampung tersebut karena menikahi anak pekerja pabrik karet. Usaha mertuanya agar dia kerja di sana tak pernah berhasil walau sekadar menjadi penyapu. Satu-satunya jalan yang bisa membuatnya diterima di pabrik itu adalah kalau mertuanya mati. Hal inilah yang menyebabkan dia kerja di percetakan dan sablon.

Itulah sebab kenapa aku menyebut daerah ini sebagai Kampung Kentut. Kalimat yang keluar berbau tak sedap, tapi tetap dihirup juga, persis dengan aroma pabrik karet yang membuat bunga melati pun hilang wangi.

Begitulah ceritaku, sederhana bukan? Bahkan, bisa saja tidak penting bagi Anda.

”Tunggu dulu, siapa kau yang berani menceritakan kisah kami?” tanya Jack.

Aku tak menjawab dan hanya tertawa. Kulihat ketiga anak Pak Mal dan warga lainnya pun tertawa.

”Kentut... kentut,” kata Jack kemudian sambil terpingkal-pingkal. (*)

---

Lau Mulgap, 2023

MUHAMMAD RAMADHAN BATUBARA, Lahir di Lima Puluh, Sumatera Utara. Kini menetap di Deli Serdang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore