
ILUSTRASI
Ya, cerita ini memang soal si Jack alias Zakaria itu. Gara-gara dia pula aku menyebut perkampungan itu dengan sebutan Kampung Kentut.
Ceritanya begini, si Jack ini memang banyak bicara. Saking banyaknya bicara, dia bisa bercakap ke mana suka. Apalagi dia beraktivitas di kota, tidak seperti warga kebanyakan yang di pabrik karet. Hal ini membuat kalimatnya cenderung didengar, seakan menjadi perwakilan dunia luar.
”Kalian tahu kenapa aku membuat dapur sendiri di rumah mertua? Ini soal marwah!” kata Jack suatu hari saat di warung kopi.
Di hadapan Jack ada tiga orang anak Pak Mal dan beberapa warga lainnya. Aku ada di sana dan diam saja.
”Aku gak bisa bayangkan kalau untuk makan pun aku masih berharap pada mertua,” kata Jack lagi.
Dalam hati aku merasa kalimat Jack adalah sindiran untuk ketiga anak Pak Mal. Namun, adik-beradik itu malah tertawa-tawa dan tidak tersindir.
”Jadi, aku nikmati ketika bisa berlauk ayam, sementara mertuaku hanya telur.”
Ketiga anak Pak Mal semakin menambah tawa, bahkan sampai terbahak. Aku tidak dan hanya menatap tajam si Jack.
Atau pada hari yang lain, masih di warung kopi dan orang-orang yang tetap sama. ”Aku menghormati mertuaku, makanya aku tetap tinggal di rumahnya. Walau di rumah kecil, tapi lumayanlah.”
Kali ini anak Pak Mal tidak tertawa. Mereka mengangguk-angguk serentak. Aku di sana dan merasa kalimat Jack sekadar membual.
”Jadi, aku nikmati ketika mertua repot bayar listrik, sementara aku tidak,” kata Jack kemudian.
Ketiga anak Pak Mal semakin mengangguk-angguk. Mereka terlihat setuju dengan kalimat Jack. Dan, aku tidak.
”Kampung kita ini mau digusur, katanya kampung ilegal,” kata Jack pada kesempatan lain dan di tempat yang sama.
Ketiga anak Pak Mal senyum-senyum. Aku tidak, kali ini kalimat Jack memang harus dicerna dengan benar.
”Katanya pabrik karet itu mau pindah, jadi tak ada yang bisa membela kita lagi.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
