Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 Juni 2024 | 20.31 WIB

Belajar Membaca Masa Depan

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Siti Maslahah, dari Desa Kebon Agung, Pak Kiai.”

”Sebentar, sebentar…” Kiai Mukhlas seperti mengingat-ingat sesuatu. ”Siti Maslahah anaknya Pak Warjiman?”

Sejujurnya saya terkejut, sejak kapan ayah saya mengenal Kiai Mukhlas. Saya tahu mendiang ayah saya sering menceritakan Kiai Zamroni dan Kiai Mukhlas, tapi ayah saya tidak pernah bercerita kalau ia kenal dekat dengan Kiai Mukhlas. Setelah saya membenarkan pertanyaannya, Kiai Mukhlas makin bersemangat untuk menceritakan kedekatannya dengan ayah saya. Katanya ketika ia masih ingusan sering diemong ayah saya. Saya makin terkejut dan penasaran sebenarnya apa hubungan ayah saya dengan Kiai Mukhlas, atau jangan-jangan kami masih keluarga? Di tengah Kiai Mukhlas menceritakan masa lalunya, justru pertanyaan di kepala saya makin menumpuk. Saya hanya diam sambil terus mengikuti jalinan ceritanya, hingga kemudian simpul-simpul itu pun terurai ketika Kiai Mukhlas mengatakan, ”Ayahmu murid pertama bapak saya.” Barulah saya tahu juragan bandit yang diceritakan ayah saya adalah kakek saya sendiri. Dan ketika ayah saya dewasa, ia diperintah oleh Kiai Zamroni untuk tinggal di Desa Kebon Agung yang menurutnya dahulu tempat berkumpulnya ciblek.

”Sekarang masih jadi tempat kumpul ciblek?”

”Sudah tidak, Kiai.”

”Alhamdulillah. Berkat jasa ayahmu itu. Lah, terus sekarang Mbak Siti mau ada perlu apa?”

”Saya mau minta anak saya ini didoakan supaya masa depannya sukses, Pak Kiai.”

”Wah, doa ibu lebih manjur daripada doa kiai. Doa ibu buat anaknya itu tidak ada hijab. Langsung nyampai. Lagi pula dulu anak keturunan Pak Warjiman, termasuk njenengan dan anak-anak njenengan, sudah didoakan bapak. Kalau tidak jadi orang alim, jadi orang saleh.”

”Setiap malam saya mendoakan anak saya, tapi tidak ada perubahan, Pak Kiai.”

Kiai Mukhlas hanya tersenyum.

”Belum. Belum kelihatan. Mbak Siti saya kasih doa saja. Sebentar saya tuliskan doanya, yah.” Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Tidak berapa lama ia datang kembali dengan membawa kertas dan memberikannya kepada saya.

”Dibaca habis salat fardu. Sekali saja cukup. Syukur-syukur setelah salat Tahajud.”

Saya menerima kertas itu, kemudian kami pamit pulang.

Doa yang diberikan Kiai Zamroni saya baca terus, tidak pernah bolong sekali pun. Namun, belum juga ada efek yang kentara pada Rama sampai ia berangkat mendaftar kuliah di Jogja. Semula saya pikir keberangkatannya ke Jogja menjadi awal doa-doa saya dikabulkan, tapi sekian bulan kemudian ia kembali pulang ke rumah. Katanya tidak lolos seleksi. Melihat ia pulang ke rumah dengan wajah malas-malasan saya pun pasrah. Saya seperti hilang daya. Hingga kemudian ia mengatakan dengan semringah kalau ia mau melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di kota kami. Ada sedikit kegembiraan dalam hati saya. Paling tidak ia mempunyai semangat untuk kuliah.

Setahun kemudian setelah Rama masuk kuliah, saya terkena stroke. Yunita sempat pulang ke rumah lima hari, kemudian kembali ke Australia. Begitu pun dengan Doni, setelah cuti empat hari ia kembali ke Jakarta. Hari-hari saya ditemani oleh Rama. Semua kebutuhan saya ia yang mengurusnya. Dari memasak, mencuci, sampai bersih-bersih rumah. Ia juga yang menguatkan saya untuk bisa kembali pulih. Saya sempat diantarnya terapi saraf. Sampai kemudian saya bisa berjalan meskipun masih tertatih-tatih. Saya sangat senang, bukan karena saya mulai bisa berjalan, tapi karena anak terakhir saya, Rama, betul-betul membaktikan hidupnya untuk saya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore