
ILUSTRASI
”Wah. Masih mending. Jangan-jangan yang sampai Padang nanti sudah busuk tuh.”
Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Dan aku tak bisa lagi menahan emosi. Dengan tangan bergetar kuketik pesan, ”Kacok umak! Kalau mau banyak, tanam sendiri. Kalian pikir kirim ke tempat kalian itu gratis? Memangnya apa yang sudah kalian kasih ke kami di sini? Tak malu kalian pada foto-foto liburan ke luar negeri yang kalian banggakan, tapi duku tak seberapa tak mau bermodal untuk beli?”
Pesan itu sudah kuketik dengan huruf kapital dari awal sampai akhir dan tanpa emotikon. Jempolku sudah akan menekan tombol ”kirim” saat istriku melihat. Segera saja ia memelukku erat. Sebuah pelukan yang tak bisa kuabaikan sebagai seorang pengantin baru. ”Sabar, Bang,” ujarnya, entah untuk tingkahku yang mana. Satu hal yang jelas: ia berhasil menggagalkan aku mengirim pesan tersebut.
”Kita disuruh abah berkunjung ke rumah saudara di Palembang,” ucapnya setelah marahku reda. ”Mungkin perjalanan itu juga bisa membuat Abang sedikit rileks.”
Aku menganggukkan kepala. Sudah lebih empat tahun aku tidak keluar dari dusun ini. Mungkin aku perlu sedikit jalan-jalan untuk meluruskan pikiran. Maka keesokan harinya, sesuai nasihat abah, mertuaku, kami pergi ke Palembang dengan naik mobil travel. Waktu tempuh dari dusunku ke Palembang sekitar empat jam. Dan seperti biasa, dua jam pertama kuhabiskan dengan tidur. Travel berhenti di Kayuagung, seperti biasa, dan baru dari sanalah aku melihat-lihat ”pemandangan” yang tersaji.
Tidak ada yang istimewa. Pun hampir tak ada yang berubah. Hutan-kebun karet di sepanjang jalan tetap jadi pemandangan utama. Hal yang kurang lebih sama dengan pemandangan di dusun. Sesekali ada bangunan-bangunan baru, tapi tidak signifikan. Pemandangan baru jadi agak berbeda setelah kami melewati Indralaya. Rawa-rawa dan lahan gambut mendominasi pemandangan. Tanpa sadar, aku menggumam, ”Apa tanah-tanah itu tak bisa diolah dan dijadikan kebun?”
”Bisa,” istriku menjawab dan membuatku sedikit terkejut.
”Terus? Bertahun-tahun tak ada perubahan. Kenapa orang membiarkannya?”
”Tanah-tanah di pinggir jalan itu punya orang-orang kaya di Jakarta, Bang. Jadi, itu bukan soal jenis tanahnya, tapi kepemilikannya.”
”Seluas itu?”
”Orang kayanya banyak,” istriku tersenyum.
”Terus?”
”Terus nanti tanah-tanah itulah yang dibakar dan membuat asap ke mana-mana seperti yang muncul di berita beberapa tahun belakangan. Paling nanti kalau yang punya sudah mati, tanah itu jadi rebutan para ahli waris. Terus para ahli waris yang tak pernah tahu mengolah tanah akan berebut untuk menjualnya lagi,” istriku senyum, tetapi aku tersentak.
Obrolan kami terhenti di sana. Ucapan istriku membuatku terngiang lagi pada pesan ayah saat aku memutuskan tinggal di dusun, bahwa tak cukup sekadar tanaman untuk menghidupi sebuah tanah, tetapi juga keikhlasan. Pikiran itu terus menghantui sampai akhirnya kami tiba di rumah keluarga abah.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
