Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Mei 2024 | 14.38 WIB

Keluarga-Keluarga Kampang

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Wah. Masih mending. Jangan-jangan yang sampai Padang nanti sudah busuk tuh.”

Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Dan aku tak bisa lagi menahan emosi. Dengan tangan bergetar kuketik pesan, ”Kacok umak! Kalau mau banyak, tanam sendiri. Kalian pikir kirim ke tempat kalian itu gratis? Memangnya apa yang sudah kalian kasih ke kami di sini? Tak malu kalian pada foto-foto liburan ke luar negeri yang kalian banggakan, tapi duku tak seberapa tak mau bermodal untuk beli?”

Pesan itu sudah kuketik dengan huruf kapital dari awal sampai akhir dan tanpa emotikon. Jempolku sudah akan menekan tombol ”kirim” saat istriku melihat. Segera saja ia memelukku erat. Sebuah pelukan yang tak bisa kuabaikan sebagai seorang pengantin baru. ”Sabar, Bang,” ujarnya, entah untuk tingkahku yang mana. Satu hal yang jelas: ia berhasil menggagalkan aku mengirim pesan tersebut.

”Kita disuruh abah berkunjung ke rumah saudara di Palembang,” ucapnya setelah marahku reda. ”Mungkin perjalanan itu juga bisa membuat Abang sedikit rileks.”

Aku menganggukkan kepala. Sudah lebih empat tahun aku tidak keluar dari dusun ini. Mungkin aku perlu sedikit jalan-jalan untuk meluruskan pikiran. Maka keesokan harinya, sesuai nasihat abah, mertuaku, kami pergi ke Palembang dengan naik mobil travel. Waktu tempuh dari dusunku ke Palembang sekitar empat jam. Dan seperti biasa, dua jam pertama kuhabiskan dengan tidur. Travel berhenti di Kayuagung, seperti biasa, dan baru dari sanalah aku melihat-lihat ”pemandangan” yang tersaji.

Tidak ada yang istimewa. Pun hampir tak ada yang berubah. Hutan-kebun karet di sepanjang jalan tetap jadi pemandangan utama. Hal yang kurang lebih sama dengan pemandangan di dusun. Sesekali ada bangunan-bangunan baru, tapi tidak signifikan. Pemandangan baru jadi agak berbeda setelah kami melewati Indralaya. Rawa-rawa dan lahan gambut mendominasi pemandangan. Tanpa sadar, aku menggumam, ”Apa tanah-tanah itu tak bisa diolah dan dijadikan kebun?”

”Bisa,” istriku menjawab dan membuatku sedikit terkejut.

”Terus? Bertahun-tahun tak ada perubahan. Kenapa orang membiarkannya?”

”Tanah-tanah di pinggir jalan itu punya orang-orang kaya di Jakarta, Bang. Jadi, itu bukan soal jenis tanahnya, tapi kepemilikannya.”

”Seluas itu?”

”Orang kayanya banyak,” istriku tersenyum.

”Terus?”

”Terus nanti tanah-tanah itulah yang dibakar dan membuat asap ke mana-mana seperti yang muncul di berita beberapa tahun belakangan. Paling nanti kalau yang punya sudah mati, tanah itu jadi rebutan para ahli waris. Terus para ahli waris yang tak pernah tahu mengolah tanah akan berebut untuk menjualnya lagi,” istriku senyum, tetapi aku tersentak.

Obrolan kami terhenti di sana. Ucapan istriku membuatku terngiang lagi pada pesan ayah saat aku memutuskan tinggal di dusun, bahwa tak cukup sekadar tanaman untuk menghidupi sebuah tanah, tetapi juga keikhlasan. Pikiran itu terus menghantui sampai akhirnya kami tiba di rumah keluarga abah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore