Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Mei 2024 | 14.38 WIB

Keluarga-Keluarga Kampang

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Waktuku banyak kupakai untuk mengenali orang-orang yang selama ini telah membantu ayah, mengetahui jam dan cara kerja mereka, bahkan aku seperti mencoba mengenali dusun tempatku lahir dan besar dengan lebih terperinci. Aku lebih memperhatikan aliran Sungai Komering yang berkelok di ujung dusun. Secara tak sadar, aku juga lebih mengamati orang-orang yang ada di sekitar, termasuk seorang gadis manis yang tinggalnya selang tiga rumah dari rumahku (rumah warisan dari buyut yang sekarang kutinggali, lebih tepatnya).

Meskipun sebagian besarnya menyenangkan, mempertahankan relasi yang telah dibangun ayah juga punya sisi yang menyebalkan, terutama saat aku harus bergabung di grup WhatsApp keluarga. Isi grup itu hanya kutipan-kutipan pemberi semangat dari yang tua dan foto pamer liburan dari yang muda. Untungnya posisiku di dusun memberi keleluasaan untuk tak sering-sering melihat ponsel dengan alasan sinyal sering hilang.

Hidup kemudian tambah menyenangkan saat harga karet kembali membaik dan duku-duku di kebun berbuah dengan sempurna. Lalu, kuberanikan diri untuk melamar si gadis manis. Pernikahan kami kemudian dilangsungkan saat duku dipanen. Karena hati sedang riang, juga sebagai rasa syukur, kukirimi salah satu anak uwak yang tinggal di Palembang beberapa duku terbaik yang kami panen.

Sialnya, sepupu kampang itu justru memotret buah kiriman dan mengirimkannya ke grup keluarga dengan keterangan, ”Terima kasih atas kiriman duku terbaik ini.”

Terang saja kirimannya di grup itu memancing respons yang lain.

”Wah. Kami yang di Jakarta belum dapet.”

”Jangankan Jakarta, Lampung pun belum lewat kok.”

”Kualat kalau sampai hasil panen tanah waris tak sampai ke Padang.”

Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Hanya karena manisnya masa pengantin baru bersama gadis manis, aku bisa sedikit meredam emosi. Keesokan harinya dengan menggerutu aku mengirimkan lagi duku-duku pilihan ke berbagai penjuru Nusantara tempat orang yang mengaku keluarga dan masih memiliki hak atas apa yang tidak pernah mereka pelihara. Istriku tentu saja bingung dengan wajah gusarku yang tampak jelas. Maka tak pelak, aku pun menceritakan semuanya.

”Semoga nanti setelah dikirimi duku, keluarga-keluarga di sana tidak lagi ribut, Bang,” ujarnya.

Faktanya, tiga hari kemudian, grup WA keluarga itu kembali mendentingkan notifikasi.

”Terima kasih kirimannya, tapi kok duku yang sampai di kami agak kecil ya? Hehehe.”

”Duku yang sampai Jakarta sedikit, padahal setahuku kebun duku di dusun cukup luas.”

”Duku yang sampai Jambi sudah agak kisut.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore