
ILUSTRASI
Waktuku banyak kupakai untuk mengenali orang-orang yang selama ini telah membantu ayah, mengetahui jam dan cara kerja mereka, bahkan aku seperti mencoba mengenali dusun tempatku lahir dan besar dengan lebih terperinci. Aku lebih memperhatikan aliran Sungai Komering yang berkelok di ujung dusun. Secara tak sadar, aku juga lebih mengamati orang-orang yang ada di sekitar, termasuk seorang gadis manis yang tinggalnya selang tiga rumah dari rumahku (rumah warisan dari buyut yang sekarang kutinggali, lebih tepatnya).
Meskipun sebagian besarnya menyenangkan, mempertahankan relasi yang telah dibangun ayah juga punya sisi yang menyebalkan, terutama saat aku harus bergabung di grup WhatsApp keluarga. Isi grup itu hanya kutipan-kutipan pemberi semangat dari yang tua dan foto pamer liburan dari yang muda. Untungnya posisiku di dusun memberi keleluasaan untuk tak sering-sering melihat ponsel dengan alasan sinyal sering hilang.
Hidup kemudian tambah menyenangkan saat harga karet kembali membaik dan duku-duku di kebun berbuah dengan sempurna. Lalu, kuberanikan diri untuk melamar si gadis manis. Pernikahan kami kemudian dilangsungkan saat duku dipanen. Karena hati sedang riang, juga sebagai rasa syukur, kukirimi salah satu anak uwak yang tinggal di Palembang beberapa duku terbaik yang kami panen.
Sialnya, sepupu kampang itu justru memotret buah kiriman dan mengirimkannya ke grup keluarga dengan keterangan, ”Terima kasih atas kiriman duku terbaik ini.”
Terang saja kirimannya di grup itu memancing respons yang lain.
”Wah. Kami yang di Jakarta belum dapet.”
”Jangankan Jakarta, Lampung pun belum lewat kok.”
”Kualat kalau sampai hasil panen tanah waris tak sampai ke Padang.”
Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Hanya karena manisnya masa pengantin baru bersama gadis manis, aku bisa sedikit meredam emosi. Keesokan harinya dengan menggerutu aku mengirimkan lagi duku-duku pilihan ke berbagai penjuru Nusantara tempat orang yang mengaku keluarga dan masih memiliki hak atas apa yang tidak pernah mereka pelihara. Istriku tentu saja bingung dengan wajah gusarku yang tampak jelas. Maka tak pelak, aku pun menceritakan semuanya.
”Semoga nanti setelah dikirimi duku, keluarga-keluarga di sana tidak lagi ribut, Bang,” ujarnya.
Faktanya, tiga hari kemudian, grup WA keluarga itu kembali mendentingkan notifikasi.
”Terima kasih kirimannya, tapi kok duku yang sampai di kami agak kecil ya? Hehehe.”
”Duku yang sampai Jakarta sedikit, padahal setahuku kebun duku di dusun cukup luas.”
”Duku yang sampai Jambi sudah agak kisut.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
