Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Maret 2024 | 16.56 WIB

Cinta Absurd di Sekitar Yamato dan Kematian Mallaby

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Bukan kekalahan Jepang di Perang Dunia II yang membuat hati Qomar berbunga-bunga. Bukan pula karena Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bukan itu! Bunga-bunga tumbuh di kepala Qomar saat berkenalan dengan Hanum, beberapa hari sebelum peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato. Hanum sanggup meredam ketakutan Qomar kala menghadapi perang yang berkecamuk.

QOMAR tahu, di hati Hanum ada Nurdin yang sudah bersemayam sejak Belanda angkat kaki dari tanah air. Hanum dan Nurdin menjalin hubungan tanpa status. Qomar memang terlambat dan salah waktu: Pada pandangan pertama, Qomar langsung mencintai Hanum. Oleh sebab belum ada ikatan resmi antara Hanum dan Nurdin, Qomar pun pantang menyerah. Setiap manusia berhak memperjuangkan cintanya, begitu renung Qomar.

”Sembari berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta, aku akan terus berjuang mendapatkan cinta Hanum,” ceracau Qomar saat melihat kawannya merobek warna biru bendera di Hotel Yamato, 19 September 1945.

Situasi di depan Hotel Yamato terasa mencekam. Para pejuang menyemut menutupi permukaan jalan, diselimuti bau mesiu dan kecut keringat. Sedangkan di dalam hotel, entah apa yang terjadi? Para pejuang mencoba menduga-duga. Sementara di pucuk tiang bendera hotel, dwiwarna Merah Putih melambai-lambai disapu angin.

”Belanda memang kurang ajar. Tak tahu malu. Sudah terusir dari negeri ini, eh nekat datang lagi. Jancok!” umpat Qomar lantang. Otomatis, umpatan itu terdengar oleh orang-orang, termasuk juru foto yang baru saja berhasil mengabadikan insiden perobekan bendera.

”Semuanya, Cak! Belanda, Jepang, Inggris, Amerika, sekutu. Semuanya kurang ajar!” balas sang juru foto. ”Ngomong-ngomong, itu tadi, siapa nama si perobek bendera warna biru?”

”Aku tak tahu namanya, Cak! Kini di kepalaku hanya ada nama Hanum,” kata Qomar.

Mendengar jawaban Qomar, sang juru foto itu terbengong agak lama. Dahinya terlihat berkerut. Lalu terbit tawa kecil di wajahnya.

”Baiklah! Semoga Sampean berhasil mendapatkan Hanum!” kata sang juru foto, kemudian ngacir ke sebuah arah sambil menenteng kameranya.

Di hari yang sama, pada malam gulita, selepas memastikan keluarganya aman, Qomar pergi menemui Hanum, mengantarkannya ke suaka aman yang jauh dari suara desing pertempuran. Pergilah mereka menuju pinggiran sungai yang terletak di Asemrowo, tempat para pengungsi mencari selamat. Di pinggiran sungai itulah, untuk kali pertama Qomar melakukan kontak fisik dengan Hanum. Qomar menggandeng tangan Hanum. Mesra dan hangat. Namun, lagi-lagi, Qomar paham, di kepala Hanum sedang berkelebat sosok Nurdin.

”Kau masih mengharapkannya?” tanya Qomar. Hanum hanya diam.

”Kawin saja denganku, Hanum!” suara Qomar terdengar lirih, tapi tertangkap jelas di telinga Hanum. ”Lelaki macam dia, yang suka nyemplung dalam ketidakpastian, tak akan berani mengawinimu. Kau cuma dijadikan sandaran sementara. Lagi pula, ibu dan bapakmu tak suka dengan lelaki macam dia.”

”Aku belum ada niat untuk kawin, Mas,” balas Hanum. ”Kita berkawan saja!”

Qomar melepas gandengan tangan ketika langkah kaki mereka mendekati barak pengungsian. Hanum terlihat membetulkan letak kerudung dengan kedua tangannya, sambil telinganya menyadap pembicaraan para pengungsi.

”Kau dengar, Mas?” tanya Hanum. Qomar menganggukkan kepala. ”Situasi bakal tambah kacau. Belanda dan sekutu marah besar.” Hanum menerawang sambil memandangi Qomar dari samping. ”Semoga ibu dan bapakku aman di pengungsian luar kota sana.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore