
ILUSTRASI
Bukan kekalahan Jepang di Perang Dunia II yang membuat hati Qomar berbunga-bunga. Bukan pula karena Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Bukan itu! Bunga-bunga tumbuh di kepala Qomar saat berkenalan dengan Hanum, beberapa hari sebelum peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato. Hanum sanggup meredam ketakutan Qomar kala menghadapi perang yang berkecamuk.
QOMAR tahu, di hati Hanum ada Nurdin yang sudah bersemayam sejak Belanda angkat kaki dari tanah air. Hanum dan Nurdin menjalin hubungan tanpa status. Qomar memang terlambat dan salah waktu: Pada pandangan pertama, Qomar langsung mencintai Hanum. Oleh sebab belum ada ikatan resmi antara Hanum dan Nurdin, Qomar pun pantang menyerah. Setiap manusia berhak memperjuangkan cintanya, begitu renung Qomar.
”Sembari berjuang mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta, aku akan terus berjuang mendapatkan cinta Hanum,” ceracau Qomar saat melihat kawannya merobek warna biru bendera di Hotel Yamato, 19 September 1945.
Situasi di depan Hotel Yamato terasa mencekam. Para pejuang menyemut menutupi permukaan jalan, diselimuti bau mesiu dan kecut keringat. Sedangkan di dalam hotel, entah apa yang terjadi? Para pejuang mencoba menduga-duga. Sementara di pucuk tiang bendera hotel, dwiwarna Merah Putih melambai-lambai disapu angin.
”Belanda memang kurang ajar. Tak tahu malu. Sudah terusir dari negeri ini, eh nekat datang lagi. Jancok!” umpat Qomar lantang. Otomatis, umpatan itu terdengar oleh orang-orang, termasuk juru foto yang baru saja berhasil mengabadikan insiden perobekan bendera.
”Semuanya, Cak! Belanda, Jepang, Inggris, Amerika, sekutu. Semuanya kurang ajar!” balas sang juru foto. ”Ngomong-ngomong, itu tadi, siapa nama si perobek bendera warna biru?”
”Aku tak tahu namanya, Cak! Kini di kepalaku hanya ada nama Hanum,” kata Qomar.
Mendengar jawaban Qomar, sang juru foto itu terbengong agak lama. Dahinya terlihat berkerut. Lalu terbit tawa kecil di wajahnya.
”Baiklah! Semoga Sampean berhasil mendapatkan Hanum!” kata sang juru foto, kemudian ngacir ke sebuah arah sambil menenteng kameranya.
Di hari yang sama, pada malam gulita, selepas memastikan keluarganya aman, Qomar pergi menemui Hanum, mengantarkannya ke suaka aman yang jauh dari suara desing pertempuran. Pergilah mereka menuju pinggiran sungai yang terletak di Asemrowo, tempat para pengungsi mencari selamat. Di pinggiran sungai itulah, untuk kali pertama Qomar melakukan kontak fisik dengan Hanum. Qomar menggandeng tangan Hanum. Mesra dan hangat. Namun, lagi-lagi, Qomar paham, di kepala Hanum sedang berkelebat sosok Nurdin.
”Kau masih mengharapkannya?” tanya Qomar. Hanum hanya diam.
”Kawin saja denganku, Hanum!” suara Qomar terdengar lirih, tapi tertangkap jelas di telinga Hanum. ”Lelaki macam dia, yang suka nyemplung dalam ketidakpastian, tak akan berani mengawinimu. Kau cuma dijadikan sandaran sementara. Lagi pula, ibu dan bapakmu tak suka dengan lelaki macam dia.”
”Aku belum ada niat untuk kawin, Mas,” balas Hanum. ”Kita berkawan saja!”
Qomar melepas gandengan tangan ketika langkah kaki mereka mendekati barak pengungsian. Hanum terlihat membetulkan letak kerudung dengan kedua tangannya, sambil telinganya menyadap pembicaraan para pengungsi.
”Kau dengar, Mas?” tanya Hanum. Qomar menganggukkan kepala. ”Situasi bakal tambah kacau. Belanda dan sekutu marah besar.” Hanum menerawang sambil memandangi Qomar dari samping. ”Semoga ibu dan bapakku aman di pengungsian luar kota sana.”

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
