Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Februari 2024 | 13.00 WIB

Menonton Bapak Memancing di Laut

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Wayan hanya butuh dua detik untuk memikirkan jawabannya. ”I-iya! Besar sekali! Bisa dimasak satu keluarga,” sahutnya, nadanya dibuat riang gembira. Lalu, tiba-tiba, ”Aduh! Aduh! Lepas! Sialan! Padahal sudah Bapak pegang!”

”Ikannya lepas, Pak?” tanya Afgan yang semula tak acuh.

”Iya, lepas! Sayang sekali, ya?”

Wayan menarik napas dalam-dalam. Kisah nyaris dapat ikan pastilah lebih indah untuk dikenang daripada kisah konyol yang sering dialami para pemancing. Rupanya Wayan menyulut senar pancingnya dengan rokok dan kayu seukuran lengan yang hampir mencopot jantungnya itu pun seketika terbawa arus, meluncur ke dasar muara.

Wayan berdiri, menunjukkan ujung senar pancing yang rantas itu ke kedua anaknya, dan tiba-tiba merasa sangat bersalah.

Wayan mengajak kedua anaknya pindah lokasi. Satu jam kemudian, pindah lagi ke lokasi yang lain. Namun, hasilnya sama saja. Seolah-olah sudah bersepakat untuk memboikot, tak ada satu ikan pun yang menyambar umpan. Wayan pun menyerah dan memutuskan pulang. Perihal kegagalannya mendapatkan ikan sebiji pun itu, Wayan mengajukan berbagai alasan. Reza dan Afgan mengangguk-angguk, memaklumi.

Namun, saat tiba di lokasi pemancingan yang tadi disebutnya tidak ada ikannya kecuali sampah, Wayan menganulir niatnya buat menyerah setelah melihat wadah ikan pemancing bertopi kumal yang tadi diejeknya.

Buru-buru Wayan membawa Reza dan Afgan ke warung tak jauh dari tempat itu. Memesan mi goreng tanpa telur serta es teh untuk Reza dan Afgan, dan kopi hitam untuk dirinya sendiri. Setelah itu, Wayan kembali memancing. Posisinya tak jauh dari pemancing bertopi itu.

Setelah pesanan datang, Reza dan Afgan segera menyantapnya. Perut mereka lapar sekali. Empat jam hanya terisi air putih. Keduanya makan tanpa bicara. Reza berkonsentrasi penuh pada makanan kesukaannya itu. Sementara, di sela-sela menggarpu mi, Afgan sesekali menoleh ke bapaknya yang sedang memancing.

Setengah jam kemudian Wayan memasuki warung. Wajahnya semringah! Senyumnya melebar. Ditunjukkannya dua ikan berukuran cukup besar yang tergantung pada tali plastik itu ke kedua anaknya.

”Dapat, Pak?” Reza tersentak. Wajahnya bercahaya.

Wayan mengangguk, digantungnya ikan itu di pintu warung, duduk di kursi, menyeruput kopi, menyulut rokok.

”Dek, Bapak dapat ikan, tuh!” Reza menyenggol Afgan yang tetap sibuk dengan sisa-sisa es tehnya. ”Besar sekali, lah!”

”Sudah tahu!” sahut Afgan, melirik ikan yang sedang dikerubuti lalat itu, tanpa melirik bapaknya.

Wayan tersenyum masam. Dan senyum Wayan bertambah masam ketika pemancing bertopi kumal itu tiba-tiba masuk warung, menadahkan telapak tangan, dan menagih kekurangan pembayaran ikan. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore