
ILUSTRASI
Wayan hanya butuh dua detik untuk memikirkan jawabannya. ”I-iya! Besar sekali! Bisa dimasak satu keluarga,” sahutnya, nadanya dibuat riang gembira. Lalu, tiba-tiba, ”Aduh! Aduh! Lepas! Sialan! Padahal sudah Bapak pegang!”
”Ikannya lepas, Pak?” tanya Afgan yang semula tak acuh.
”Iya, lepas! Sayang sekali, ya?”
Wayan menarik napas dalam-dalam. Kisah nyaris dapat ikan pastilah lebih indah untuk dikenang daripada kisah konyol yang sering dialami para pemancing. Rupanya Wayan menyulut senar pancingnya dengan rokok dan kayu seukuran lengan yang hampir mencopot jantungnya itu pun seketika terbawa arus, meluncur ke dasar muara.
Wayan berdiri, menunjukkan ujung senar pancing yang rantas itu ke kedua anaknya, dan tiba-tiba merasa sangat bersalah.
Wayan mengajak kedua anaknya pindah lokasi. Satu jam kemudian, pindah lagi ke lokasi yang lain. Namun, hasilnya sama saja. Seolah-olah sudah bersepakat untuk memboikot, tak ada satu ikan pun yang menyambar umpan. Wayan pun menyerah dan memutuskan pulang. Perihal kegagalannya mendapatkan ikan sebiji pun itu, Wayan mengajukan berbagai alasan. Reza dan Afgan mengangguk-angguk, memaklumi.
Namun, saat tiba di lokasi pemancingan yang tadi disebutnya tidak ada ikannya kecuali sampah, Wayan menganulir niatnya buat menyerah setelah melihat wadah ikan pemancing bertopi kumal yang tadi diejeknya.
Buru-buru Wayan membawa Reza dan Afgan ke warung tak jauh dari tempat itu. Memesan mi goreng tanpa telur serta es teh untuk Reza dan Afgan, dan kopi hitam untuk dirinya sendiri. Setelah itu, Wayan kembali memancing. Posisinya tak jauh dari pemancing bertopi itu.
Setelah pesanan datang, Reza dan Afgan segera menyantapnya. Perut mereka lapar sekali. Empat jam hanya terisi air putih. Keduanya makan tanpa bicara. Reza berkonsentrasi penuh pada makanan kesukaannya itu. Sementara, di sela-sela menggarpu mi, Afgan sesekali menoleh ke bapaknya yang sedang memancing.
Setengah jam kemudian Wayan memasuki warung. Wajahnya semringah! Senyumnya melebar. Ditunjukkannya dua ikan berukuran cukup besar yang tergantung pada tali plastik itu ke kedua anaknya.
”Dapat, Pak?” Reza tersentak. Wajahnya bercahaya.
Wayan mengangguk, digantungnya ikan itu di pintu warung, duduk di kursi, menyeruput kopi, menyulut rokok.
”Dek, Bapak dapat ikan, tuh!” Reza menyenggol Afgan yang tetap sibuk dengan sisa-sisa es tehnya. ”Besar sekali, lah!”
”Sudah tahu!” sahut Afgan, melirik ikan yang sedang dikerubuti lalat itu, tanpa melirik bapaknya.
Wayan tersenyum masam. Dan senyum Wayan bertambah masam ketika pemancing bertopi kumal itu tiba-tiba masuk warung, menadahkan telapak tangan, dan menagih kekurangan pembayaran ikan. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
