Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 25 Februari 2024 | 13.00 WIB

Menonton Bapak Memancing di Laut

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Wayan, Reza, dan Afgan tiba di mulut muara. Wayan memilih tempat yang teduh, di samping tanaman perdu, tak jauh dari tumpukan batu pemecah ombak. Wayan menggelar spanduk bekas penerimaan peserta didik baru, mengeluarkan botol air putih, dan menyuruh Reza dan Afgan duduk di situ.

”Jangan ke mana-mana! Ombaknya besar!”

Reza dan Afgan patuh. Sesekali mereka mengedarkan pandangan ke sekitar muara: tumpukan batu, laut, langit, dan pasir. Lain kali memperhatikan bapak mereka yang sedang sibuk.

Wayan mengeluarkan peralatan pancing, mengambil joran yang bisa dipanjangkan hingga dua meter setengah. Dipasangnya rel. Senarnya nilon berdiameter 0,18 mm mampu menarik beban sampai 8 kg tanpa khawatir putus. Lalu dipasangnya kail dan pemberat. Wayan ingin memancing dengan teknik dasaran. Saat ombak besar biasanya para ikan suka berkumpul di dasar muara.

Setelah pancingan siap, Wayan membuka besek wadah udang. Diambilnya udang paling besar, dikaitkannya ke kail. Wayan lalu menuju tumpukan batu; berdiri di atasnya, menoleh ke Reza dan Afgan.

”Sebelum melemparkan kail, jangan lupa berdoa! Minta diberi ikan besar!” Wayan mengayunkan jorannya,” Bismillah! Duh Gusti Allah, minta ikan yang segede pantat istri hamba!” berbarengan umpan dan pemberat itu mendarat di air, Wayan menutup doanya. ”Amin!”

Lima menit berlalu. Ujung joran Wayan tak bergerak-gerak atau berayun-ayun, apalagi melengkung. Wayan lalu menggulung relnya. Didapatinya umpan itu sudah tidak ada. Wayan mengerutkan kening, lalu memasang umpan baru, melemparkan ke tempat berbeda, disertai doa yang sama, lalu menoleh ke kedua anaknya yang masih bersila di atas spanduk dengan berkeringat dan wajah bosan.

”Mancing harus sabar! Rezeki akan mendatangi orang-orang yang sabar!” Wayan tersenyum. ”Acara mancing di televisi itu hanya rekayasa. Aslinya tidak semudah itu. Kadang harus menunggu berjam-jam sebelum...!”

”Pak! Pak!” Reza histeris, ”umpannya dimakan! Jorannya melengkung!”

Wayan berbalik, serta-merta mengayunkan joran ke belakang, sekuat-kuatnya, lalu cepat-cepat menggulung rel. Strike! Pekiknya dalam hati. Dirasakannya ada gerakan-gerakan pada ujung senar. Hidung Wayan kembang kempis. Entah seberapa besar ikannya.

”Besar, Pak?” Reza berdiri, Afgan juga. Keduanya penasaran. ”Sebesar bantal?” tanya Reza lagi.

”Sepertinya tidak sebesar itu,” Wayan terus menggulung rel. Sesekali rel murahan itu berdecit-decit seperti tikus terjepit pintu akibat mendapat tekanan di luar kesanggupannya. ”Tapi kalau tiga kilo sepertinya ada.”

Wayan terus membuat gerakan mengayun dan menggulung, dan merasakan sensasi yang luar biasa. Sepertinya, itu juga perasaan yang dirasakan si pemancing tua dalam cerita pendek yang panjang yang pernah dibacanya. Sensasional! Tapi, Wayan tak ingin menjadi pemancing yang goblok. Buat apa mempertahankan ikan busuk. Sebesar apa pun ikannya, tetap saja tak ada gunanya jika kucing pun tak sudi mengendusnya. Justru mendatangkan penyakit. Dan baginya, memancing tidak ada kaitannya sama sekali dengan filosofi tentang perjuangan dan keuletan. Berlebih-lebihan. Tuman!

Perlahan-lahan, tapi pasti, Wayan berhasil menarik beban yang membebani kailnya itu. Jaraknya tinggal dua meter lagi dan terus mendekat, dan mendekat lebih dekat, hingga dekat sekali, dan seketika Wayan mengerutkan keningnya.

”Besar, Pak? Sebesar apa?” Reza melongok-longok.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore