Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Januari 2024 | 16.27 WIB

Panggung Terakhir

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Tejo memasang harga-harga. Tejo menetapkan nilai-nilai. Konon, Tejo menyimpan rate card panggung desanya. Kartu yang hanya ditujukan bagi orang-orang tertentu. Pada saat-saat tertentu.

Level terendah panggung berupa caleg hadir di atas panggung. Hanya hadir. Lalu, tim caleg memotretnya hingga seolah-olah si caleg diakui warga desa. Level berikutnya adalah saat sang caleg disebut-sebut nama baiknya dari pemberi sambutan. Ketika nama caleg disebut, tentu tingkat pengetahuan warga kepadanya semakin meningkat. Level ketiga –tentu paling mahal– adalah ketika sang caleg memberi sambutan. Inilah saat ia mempromosikan diri, mengobral janji, dan menyampaikan visi-misi.

”Jika kau menawar lebih rendah, panggung acara akan kuberikan ke caleg lain!” ancamnya kepada para politikus yang masih menego harga. Tentu, mereka tak punya jalan lain kecuali menurut. Desa Banjarsari terlalu berharga untuk dilewatkan. Apalagi tak didapatkan suaranya.

”Kukira mereka pintar-pintar, eh ternyata…” Tejo terbahak-bahak sambil membawa segepok uang dalam kardus.

”Oh, pelangi-pelangi alangkah indahnya! Oh, uang-uang alangkah banyaknya!” bersuara sumbang, Tejo berdendang tak henti-henti. Ia membayangkan, kelak tiga tahun lagi, sejarah akan mencatatnya sebagai anggota legislatif pertama dari Banjarsari.

***

Malam mengalir makin larut saat Tejo sampai di rumah duka. Bulan penuh pendar-pendar cahaya. Tejo langsung memeluk anaknya dan menatap nanar jenazah istrinya. Ia tak menduga selekas ini istrinya terenggut maut. Kesedihan makin bersambut. Masa lalu kebersamaan terbayang-bayang di pelupuk mata Tejo.

Di rumah Lurah Tejo, warga Banjarsari telah berkerumun. Penduduk datang berduyun-duyun. Menghormati istri lurah mereka untuk kali terakhir. Melepas kepergian ibu kepala desa mereka dengan salawat, doa, dan beras duka. Memendam sedak sedih dan isak tangis, Tejo membalas tiap-tiap uluran tangan warga Banjarsari.

Saat Tejo meninggalkan kuburan istrinya yang masih merah dan basah, ia teringat sesuatu.

”Kuralat perkataanku sore tadi. Ini panggung terakhir. Untukmu dan partai biru!” Tejo menelepon Bahri.

”Panggung tahlilan kematian istriku!”

”Tujuh hari tujuh malam!”

”Tarifnya berapa?” tanya Bahri di seberang suara. (*)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore