
ILUSTRASI
Tejo memasang harga-harga. Tejo menetapkan nilai-nilai. Konon, Tejo menyimpan rate card panggung desanya. Kartu yang hanya ditujukan bagi orang-orang tertentu. Pada saat-saat tertentu.
Level terendah panggung berupa caleg hadir di atas panggung. Hanya hadir. Lalu, tim caleg memotretnya hingga seolah-olah si caleg diakui warga desa. Level berikutnya adalah saat sang caleg disebut-sebut nama baiknya dari pemberi sambutan. Ketika nama caleg disebut, tentu tingkat pengetahuan warga kepadanya semakin meningkat. Level ketiga –tentu paling mahal– adalah ketika sang caleg memberi sambutan. Inilah saat ia mempromosikan diri, mengobral janji, dan menyampaikan visi-misi.
”Jika kau menawar lebih rendah, panggung acara akan kuberikan ke caleg lain!” ancamnya kepada para politikus yang masih menego harga. Tentu, mereka tak punya jalan lain kecuali menurut. Desa Banjarsari terlalu berharga untuk dilewatkan. Apalagi tak didapatkan suaranya.
”Kukira mereka pintar-pintar, eh ternyata…” Tejo terbahak-bahak sambil membawa segepok uang dalam kardus.
”Oh, pelangi-pelangi alangkah indahnya! Oh, uang-uang alangkah banyaknya!” bersuara sumbang, Tejo berdendang tak henti-henti. Ia membayangkan, kelak tiga tahun lagi, sejarah akan mencatatnya sebagai anggota legislatif pertama dari Banjarsari.
Baca Juga: Ekstase Cerita vs Akhir Dunia
***
Malam mengalir makin larut saat Tejo sampai di rumah duka. Bulan penuh pendar-pendar cahaya. Tejo langsung memeluk anaknya dan menatap nanar jenazah istrinya. Ia tak menduga selekas ini istrinya terenggut maut. Kesedihan makin bersambut. Masa lalu kebersamaan terbayang-bayang di pelupuk mata Tejo.
Di rumah Lurah Tejo, warga Banjarsari telah berkerumun. Penduduk datang berduyun-duyun. Menghormati istri lurah mereka untuk kali terakhir. Melepas kepergian ibu kepala desa mereka dengan salawat, doa, dan beras duka. Memendam sedak sedih dan isak tangis, Tejo membalas tiap-tiap uluran tangan warga Banjarsari.
Saat Tejo meninggalkan kuburan istrinya yang masih merah dan basah, ia teringat sesuatu.
”Kuralat perkataanku sore tadi. Ini panggung terakhir. Untukmu dan partai biru!” Tejo menelepon Bahri.
”Panggung tahlilan kematian istriku!”
”Tujuh hari tujuh malam!”
”Tarifnya berapa?” tanya Bahri di seberang suara. (*)
---

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
