
ILUSTRASI
Baca Juga: Pendulum
***
”Jangan berlagak tak tahu! Semua kepala desa di republik ini melakukannya!” Tejo menyanggah seorang politikus dengan nada tinggi.
”Upeti di desa ini termasuk murah!” lanjutnya. Lurah Tejo tak berkerut takut. Ia tak mau takluk.
”Kalau tak mau bayar, tak usah masuk desaku.”
Mendekati pemilu, Tejo menarik upeti-upeti bagi siapa pun politikus yang masuk desanya. Di mana ada keramaian warga, di sana upeti ditarik. Tejo mengambil upeti demi tujuan utama, yaitu mengangkat harkat martabat desa. Agar Banjarsari mendapatkan posisi tawar dalam peta perpolitikan kabupaten. Agar desa tak dipandang sebelah mata dan diinjak-injak oleh para politikus tak bermoral. Sungguh tujuan bersama yang begitu mulia. ”Ini demi Desa Banjarsari,” katanya selalu kepada pamong dan orang-orangnya.
Tentu, di balik tujuan adiluhungnya, Lurah Tejo memendam kepentingannya sendiri. Demi menutup pengeluaran nyalon lurah kemarin dan menabung untuk maju DPRD pada pemilu selanjutnya.
”Ini sudah bukan zaman kerajaan. Kita sudah merdeka. Kenapa masih ada upeti segala?” protes seorang caleg saat diminta ongkos bayaran.
”Siapa bilang sudah merdeka!? Bupati kita sekarang kan anak bupati kemarin! Apa itu bukan sistem kerajaan!?” sanggah Tejo.
Sang caleg memerah wajahnya. Ia separtai dengan sang bupati. Baru kali ini ia didebat seorang lurah.
Dengan penuh pertimbangan, Tejo memetakan panggung-panggung di desanya. Tejo berpikir panggung dan politikus layaknya dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Di mana ada panggung, di sana ada politikus berkerumun. Di mana ada panggung, di sana ada uang berputar. Politikus akan selalu membutuhkan panggung dan uang. Panggung, politikus, dan uang selayaknya trisula maut tak terpisahkan.
Panggung-panggung keagamaan macam pengajian, salawat, pembangunan masjid, dan lain-lainnya Tejo serahkan kepada partai hijau. Sementara, PKK dan karang taruna dimiliki partai merah. Kegiatan mengumpulkan warga bisa berupa pelatihan-pelatihan dari dinas-dinas seperti pelatihan UMKM, pelatihan bisnis digital, pencegahan stunting, pendampingan kesehatan ibu hamil, pelatihan cara memasak nasi goreng, pelatihan menanam pohon pisang, dan bahkan pelatihan berak secara syariat. Apa pun kegiatannya tak jadi soal. Asal ada kata pelatihan dan pendampingan.
Event-event olahraga macam sepak bola dan voli mutlak milik partai kuning. Mereka bisa mengadakan perlombaan olahraga antardusun dan antar-RW, antar-RT, atau bahkan antarkeluarga. Mereka biasanya membuatkan kaus untuk para pemainnya. Tentu dengan tulisan ”sponsored by” dari politikus terkait.
Terkadang, Tejo juga membuka kemungkinan pintu baru di luar peta yang telah ia susun. Misalnya, seorang politikus partai putih ingin mendistribusikan tiga sapi untuk tiga masjid desa.
”Jangan khawatir! Akan kutuliskan namamu besar-besar pada tiap-tiap kepala sapi! Harga bisa nego!”

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
