
ILUSTRASI
”Itu rumah,” kata Pak RT sambil menunjuk pohon kelapa.
”Ini rumput,” kata Pak RT sambil menunjuk kerikil.
”Itu buku,” kata Pak RT sambil menunjuk sepeda.
”Ini beras,” kata Pak RT sambil menunjuk tiang listrik.
”Itu pintu,” kata Pak RT sambil menunjuk jendela.
”Ini piring,” kata Pak RT sambil menunjuk botol.
”Itu dasi,” kata Pak RT sambil menunjuk tampar.
”Ini kipas,” kata Pak RT sambil menunjuk kawat.
”Itu bibir,” kata Pak RT sambil menunjuk kuping.
Ya, ya, makna kata-kata pun jadi terbolak-balik. Tapi Pak RT puas. Sebab, ketika membolak-balik makna kata-kata itu, pikiran Pak RT seakan menjadi penguasa dunia. Penguasa yang mampu untuk memiliki pikiran siapa pun. Pikiran yang lama-lama percaya bahwa makna kata-kata yang mereka dapatkan (dari Pak RT) adalah makna yang benar. Makna yang layak dipercaya.
IV
”Biawak!” maki Pak RT. Entah pada siapa. Yang jelas, hati Pak RT gusar. Bayangkan, sudah hampir sebulan si peri mungil tak lagi hinggap di pinggiran jendela rumahnya. Dan hampir sebulan pula, Pak RT tak bisa berperan jadi siapa pun. Jadinya, apa-apa yang dirasakan selama hampir sebulan ini begitu hambar. Tawar. Dan menjengkelkan.
”Ke mana si peri mungil? Kenapa tak muncul? Apa kesasar?” kata Pak RT seperti pada diri sendiri. Lain itu, yang perlu ditambahkan, meski peran-peran yang dijalani Pak RT hanya beberapa jam, tapi itu begitu menggoda untuk diulang-ulang. Dan lewat peran-peran itulah Pak RT dapat memuaskan hasratnya untuk memiliki siapa dan apa pun. Sehingga, diam-diam, lewat peran-peran itu, Pak RT punya pameo: ”Hidup hanya mampir memainkan peran.” Pameo yang kini begitu kuat merasuki dada Pak RT. Dada yang berdetak kencang. Dada milik lelaki berumur 52 tahun. Tanpa istri, anak, dan keluarga. Lelaki yang sehari-hari bekerja serabutan.
Selanjutnya, entah ide dari mana, atau ada demit yang berbisik, Pak RT merasa bahwa si peri mungil pasti bersembunyi di suatu tempat. Dan tempat itu pastilah sebuah pohon yang punya daun rimbun, berwarna hijau, kuning, terus rontok. Pohon, yang setelah Pak RT memutari kampung, cocok benar dengan pohon ketapang yang ada di kebun kampung. Kebun kampung yang digarap Pak Y dan Pak B.
Dan memang, malam itu juga, Pak RT mengeluarkan gergajinya. Terus mengasahnya. Dan ide atau bisikan untuk mendatangi pohon ketapang esok harinya semakin santer dan kuat. Pak RT pun terus mengasah. Mengasah. Dan mengasah. Bunyi kikir beradu dengan ketajaman gergaji terdengar sampai jauh. Bahkan, di sela-sela pengasahan itu, sesekali terdengar maki Pak RT: ”Biawak. Benar-benar biawak!”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
