Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 31 Desember 2023 | 16.19 WIB

Tiga dan Satu Lagi Tamparan untuk Andi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Suhu tubuh Dila meninggi dan napasnya sesak. Ada pembengkakan di leher dan dia merasakan nyeri ketika menelan. Karena itu, dia seharian tak mau makan. Dokter yang memeriksa Dila mendeteksi adanya limfadenopati, pembengkakan pada kelenjar getah bening.

”Anak Anda terinfeksi virus. Limfadenopati terjadi ketika tubuh melawan virus itu. Makanya jadi demam. Sementara kita kasih antibiotik dulu. Mudah-mudahan kelenjar getah beningnya belum terinfeksi,” kata dokter. Dila harus dirawat inap. Perawat menyiapkan tes darah untuk analisis yang lebih akurat.

Malam itu Andi tidur di rumah sakit. Dila masih tak mau bicara dengannya. Andi mengenang sifat istrinya yang sama tegasnya dan keras kepalanya. Andi tak bisa tidur. Melihat anaknya terbaring lemah dengan gantungan botol infus dan slang yang terhubung lewat lengan, Andi seperti tertampar lagi untuk kali ketiga. Ia merasa seakan telah melupakan pesan terakhir istrinya. Setelah kematian Arina, sebuah harga yang sangat mahal yang harus dia bayar untuk menyelamatkan Dila, Andi hanya punya satu jalan untuk menebusnya, ia harus membesarkan Dila sebaik-baiknya. Itulah yang dibisikkan Arina dalam kesadaran yang tak sampai setengahnya. ”…. rawat anak kita, besarkan anak kita… anak kita…”

Menjelang kelahiran Dila, Andi diam-diam sedang menyiapkan diri naik ring lagi. Ada tawaran bertanding yang bayarannya ia hitung cukup untuk biaya bersalin. Sejak usia kandungan enam bulan, sudah terdeteksi Arina kemungkinan akan mengalami masalah persalinan. Harus disiapkan kemungkinan operasi dan itu mahal. Rencana naik ring itu ditentang oleh Arina. Arina bahkan marah. Menganggap tindakan Andi itu konyol. ”Kamu mau mati? Gak ingat kamu koma sebulan lebih?” Andi membatalkan pertandingan dan setelah Arina meninggal, Andi makin jauh dari ring tinju.

Andi semakin cemas. Beberapa hari setelah Dila dirawat sama sekali tak ada gejala membaik, hasil tes darahnya telah keluar. Penjelasan dokter membuat Andi harus mengajak Runi berunding. Ia tak punya siapa-siapa, hanya Runi kerabat dekatnya. Dila terdeteksi mengidap kanker getah bening. Dokter tadi sudah memberi tahu risiko, kemungkinan sembuh, dan menjelaskan tindakan terbaik yang bisa dipersiapkan dan perkiraan biayanya. Andi punya tabungan yang sebenarnya ia persiapkan untuk biaya pendidikan Dila. Ia sudah menghitung berapa dana tambahan yang terkumpul jika sebagian atau semua bajaj dijual. Hasilnya? Masih tidak cukup.

Andi teringat tawaran Ilham Banteng.

Dari ranjang pasien, Dila meminta Runi menghidupkan televisi, mencari kanal yang menyiarkan langsung pertandingan tinju Andi ”The Thunder Boxer” Ray melawan Josh Rambang. Anak sekecil itu tak terlalu paham dan tak bisa merasakan ada hawa balas dendam yang menguar di ring itu. Tapi, Ilham Banteng melihat aliran uang yang deras dari situ. Tak susah buatnya untuk mencari sponsor. Dila hanya tahu ayahnya bertarung demi uang untuk biaya penyembuhannya. Ia menonton tanpa ekspresi dan tanpa emosi, apa pun yang terjadi sepanjang pertarungan hingga Andi berhasil menumbangkan Josh, yang sejak awal meremehkan Andi dan merasa di atas angin. Runi mematikan televisi. Dila tampak meneteskan air mata, lalu memiringkan tubuh, menghadapkan wajahnya ke dinding. Anak itu berusaha tidur.

Rampai kembang mawar berjatuhan perlahan dari tangan Andi. Rampai kembang mawar menutupi tanah yang masih segar. Dua nisan tertancap berdampingan. Andi masih saja tak percaya, tak mau percaya, meski berulang-ulang membaca dua nama itu: Dila dan Arina, anak dan istrinya. Kompleks pemakaman petang itu senyap meski tak jauh dari tempat Andi terduduk sejak tadi, ada petugas yang menggali lubang kubur baru di antara batu nisan yang berdesakan. Runi memandangi Andi dari jauh dari rimbunan pohon yang teduh di tepi kompleks pemakaman. (*)

---

HASAN ASPAHANI, Penulis, penyair, jurnalis, kelahiran 1971 di Sei Raden, Samboja, Kutai Kartanegara, Kaltim. Kini menetap di Jakarta, berkhidmat di DKJ.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore