Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 10 Desember 2023 | 15.01 WIB

Monopoli Amal

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Pak RT dan rombongan akhirnya pulang dengan tangan kosong. Pertemuan itu tidak ada hasil. Marzuki tetap menjadi penyedia dana tunggal bagi masjid dan kegiatan sosial lainnya. Meski sawah mereka tak seluas Marzuki, mereka juga ingin mendapat aliran pahala dari masjid yang setiap hari dipakai beribadah. Meski rumah mereka masih gubuk, mereka juga ingin ikut andil dalam pemeliharaan jembatan yang menghubungkan kampung mereka dengan kampung lainnya.

”Pak Marzuki menghalangi kita dapat amal jariah. Ini ndak bisa dibiarkan. Selama ini kita terlalu terlena dengan kenyamanan yang diberikan Pak Marzuki sampai tidak sadar bahwa kita tidak lagi berbuat apa-apa.”

”Iya, betul. Tidak pernah lagi ada yang minta sumbangan. Bahkan tetangga saya yang jompo menolak waktu saya mau memberi dia beras, katanya berasnya masih banyak. Ini ndak bisa dibiarkan. Memangnya yang butuh pahala cuma dia?”

Keresahan warga yang mulanya hanya dibicarakan di pematang-pematang ladang, di dangau, di bilik-bilik, telah menjadi pembicaraan di beberapa pertemuan warga, arisan, pengajian, hingga rapat di tingkat desa. Warga mulai menggugat dan meminta kepala desa untuk bertindak.

Satu tahun, dua tahun, tidak ada tindakan tegas yang diambil. Marzuki, yang sawahnya semakin luas dan panennya melimpah, semakin banyak menyumbang dan membuat warga semakin tersisih dan resah.

Saat kecemasan sudah mencapai puncaknya, warga Kampung Bulak Bali tak lagi bisa menahan diri. Mereka mendatangi rumah ketua RT, yang akhirnya digiring ke rumah kepala desa, yang kemudian digiring ke rumah kayu yang terletak di dekat sungai dan pemakaman itu. Marzuki dan Marlina ada di dapur saat segerombolan warga berdiri di depan rumah kayu mereka. Marzuki yang mendengar namanya dipanggil-panggil terburu-buru keluar. Mendengar langkah bapaknya menjauh, Marlina meraih tongkat yang diletakkan di dekat meja dan menyusulnya.

Gadis buta itu bersembunyi di balik pintu, mendengarkan warga yang bersitegang dengan bapaknya. Berkali-kali bapaknya mencoba menenangkan warga, berkali-kali pula gagal. Suara warga makin meninggi dan kasar.

”Kami ingin kotak amal diedarkan lagi di masjid. Kami mau ada tagihan sumbangan-sumbangan lagi,” teriak beberapa warga dari arah belakang rombongan.

Marlina gemetar. Dia takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada bapaknya.

”Tidak, biarkan saya yang membiayai semuanya. Bukannya dulu kalian bilang malu kalau bangun masjid sampai harus minta-minta begitu? Kalian dulu bilang pengen ada donatur yang membiayai semuanya. Kenapa harus pakai kotak amal lagi?” suara Marzuki tak kalah tinggi.

”Tidak bisa, Pak. Bapak jangan egois. Meski kami tak sekaya Bapak, kami juga ingin bersedekah, kami juga ingin ikut terlibat dalam pembangunan masjid dan fasilitas sosial lainnya.”

”Sudahlah, gunakan uang kalian untuk bersenang-senang saja.”

Perdebatan tak terelakkan. Hansip yang dibawa kepala desa tak bisa berbuat banyak. Setelah melewati ketegangan dan perang urat saraf, warga yang hadir memutuskan mengusir Marzuki dan Marlina dari Kampung Bulak Bali. Mereka ingin monopoli amal jariah dihentikan. Mereka rindu melihat kotak amal beredar di masjid-masjid, rindu suara Pak RT yang menagih iuran, rindu speaker di jalan-jalan yang meminta sumbangan.

Cerita itu sudah kusampaikan berkali-kali padamu, bukan? Memang aneh warga Kampung Bulak Bali ini, tetapi mereka hanya ingin ada pemerataan kesempatan dalam beramal. Siapa pun yang akan memonopoli sumbangan atau bantuan akan ditolaknya. (*)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore