
ILUSTRASI
Itulah yang kukagumi dari Paman Gordi. Ia memperlakukan kami setara. Hal yang jarang kutemukan kala bersama orang tuaku. Ia menyayangiku sebagaimana mencintai adikku. Tak ada perlakuan istimewa, apalagi membanding-bandingkan. Aku muak dibanding-bandingkan dengan makhluk cengeng itu. Nenek suka sekali menyebut makhluk itu si pembawa keberuntungan. Dulu nenek dan anak-anaknya hidup biasa saja sampai akhirnya ibu menikah dengan ayah. Ayah pedagang beras. Ia punya dua toko dan dalam waktu dekat ini akan membuka satu toko lagi. Nenek dengan bangga sering bilang ke tetangga bahwa toko semakin ramai semenjak Ian lahir. Hal demikian juga ikut diamini oleh ibu. Aku tak percaya sebab menurutku ayahlah yang mengangkat derajat keluarga kami!
Di suatu sore, masih dalam suasana liburan akhir tahun, ada satu peristiwa yang tak bisa kulupakan sekaligus ingin kulupakan. Saat ibu pulang membelikan Ian robot Bumble Bee, aku merampok mematahkan kepala mainan itu atas dasar kebencian. Ian pun menangis sejadi-jadinya. Ibu dan ayah keluar, berlomba menghardikku. ”Mengapa aku tidak dibelikan juga?” tagihku kepada mereka. ”Kan kamu sudah besar. Buat apa mainan?” bentak ibu dengan murka. ”Bukan, maksudku, saat ibu membelikan Ian robot, aku juga ingin dibelikan sesuatu. Kalau merasa boneka kemahalan, paling tidak jepit rambut! Aku sama sekali tidak keberatan dengan itu. Atau jangan belikan kami apa pun. Biar setimpal!” kataku dalam suara tinggi dan sekali tarikan napas. ”Hei! Bicara yang sopan pada ibumu!” tegur ayah, kemudian melanjutkan, ”kamu itu seorang kakak. Harus banyak mengalah.” Aku menjawab sambil berteriak di depan mereka, ”Mengapa aku yang harus mengalah?” Seketika itu pipiku panas dan perih. Ibu menamparku. Kedua matanya terlihat berlinangan. Aku tidak menangis. Tidak setetes pun! Dan aku bangga dengan itu.
Kurasa aku perlu menceritakan ini. Aku dan ibu mempunyai hubungan yang rumit. Kami kerap bertengkar dan berdebat hal-hal yang menurutnya sepele, tetapi justru sebaliknya bagiku. Misal, saat kami berada dalam angkot yang penuh sesak, ibu pasti memintaku duduk dipangku. Aku menolak dengan alasan aku bukan anak kecil lagi. Namun, ia terus memaksaku menuruti perintahnya. Kadang ia juga menarik lenganku di hadapan orang banyak. Untuk yang terakhir, kubilang bahwa ibu tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun bila itu yang menghalangiku duduk sendiri sebab aku punya cukup uang untuk membayar ongkos sampai ke rumah, lagi pula aku bisa pulang sendiri! Sejak itu ia tidak lagi menjemputku ke sekolah, melimpahkan tugas itu sepenuhnya pada nenek dan paman. Aku lebih suka pulang bersama paman sebab selain membebaskanku menentukan pilihan duduk di mana, ia juga mengizinkanku membuka jendela asalkan tidak terlalu menjulurkan kepala keluar.
Aku menurut tanpa bersungut. Kupejamkan mata. Kurasakan angin membelai wajahku, mengibaskan rambutku. Aku senang menantang angin. Aku senang saat aku bisa menentukan pilihan sendiri. Dan aku menantikan hari-hari itu.
Balik ke peristiwa itu. Ketika aku duduk terdiam di teras rumah, Paman Gordi datang dan mengajak pergi dengan motor butut yang setahuku cuma hidup di hari-hari tertentu seperti pada malam takbiran atau tahun baru. Ia menggeber motor itu sesaat setelah mengisi tangki dengan bensin ketengan yang dijual tetangga dalam botol-botol jamu. ”Bisa temani sebentar?” pintanya sambil mengelap jok dengan kain basah. Tak ada alasan untuk menolak. Aku menurut seperti biasa.
Dalam perjalanan aku tidak bertanya hendak ke mana. Aku cuma diam. Tiba-tiba motor paman menepi di alun-alun. Di sana banyak pedagang kaki lima yang berjualan. Selagi membeli telur gulung, paman memintaku membeli minuman di toserba terdekat dan seperti biasa, ia membebaskanku memilih satu atau dua. Aku membelikannya minuman dengan kemasan biru putih, sementara aku menikmati minuman bersoda pertamaku.
Setelah itu kami pergi menuju lapangan tempat orang-orang sekitar biasa berkumpul dan bermain kala petang. Kami duduk di bawah pohon akasia bungkuk yang mana dahannya menjuntai hingga ke pojok lapangan. Langit senja kuning cerah dan dari kejauhan terdengar berita duka dari corong toa.
”Menangislah jika kamu ingin menangis,” kata Paman Gordi tiba-tiba tanpa melirik padaku seolah sedang bicara sendiri. Pandangannya jauh ke depan, seperti masyuk menyaksikan anak-anak berlarian. ”Belajarlah menikmati kesedihanmu.”
”Nikmati?” kataku penuh keheranan setelah hening sejenak.
Paman Gordi mengangguk cepat. ”Menangislah. Biarkan air matamu jatuh. Tak usah ditahan. Kalau sudah selesai, berjanjilah padaku untuk bangkit. Paling tidak berjalan selangkah demi selangkah. Tinggalkan kesedihan itu di belakang atau rangkul bila memang perlu. Dengan begitu paman yakin kamu akan jadi lebih baik.”
Aku tersenyum mengejek, menganggap semua itu cuma nasihat biasa. Tetapi, tanpa kusadari, setetes air mata jatuh saat aku memaksakan untuk tersenyum. Aku tak tahu mengapa aku merasa begitu sedih. Aku berusaha menghapusnya dengan punggung tangan secara bergantian, memaksakan semua baik-baik saja, tetapi itu justru membuatku tak dapat membendung deraian air mata. Bahkan di detik itu aku tak yakin dengan apa yang sedang terjadi. Aku tak percaya bahwa aku punya air mata sebanyak ini. Aku terisak, menunduk memeluk lutut.
”Tak apa-apa,” telapak tangan paman mengusap kepalaku. ”Menangislah.”
Kami pulang dan di jalan paman berhasil membuatku kembali tertawa dengan leluconnya. Aku tiba di rumah dengan mata sembap, tapi merasa lega. Lebih baik dari sebelumnya. Ternyata semudah itu, pikirku. Usiaku sebelas tahun dan hari itu aku belajar banyak hal. Kurasa aku juga mulai mengerti banyak hal tentang dunia ini. Tetapi, di malam di mana aku melihat kaki paman mengawang di udara, kurasa aku keliru.
Usiaku sebelas tahun dan aku tidak mengerti apa-apa. (*)
---

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
