Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Oktober 2023 | 18.41 WIB

Akibat Bergosip di Polindes

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Sepintas PKH memang tampak sedikit mengangkat perekonomian sebagian warga Desa Naijuf dengan bantuan rutinnya. Tetapi kadang program itu seperti narkoba yang membuat masyarakat jadi kecanduan dan terlena. Alhasil mereka bergantung pada bantuan instannya yang tak seberapa. Akibat bantuan PKH inilah, bapa-bapa di kampung kami yang sebelumnya rajin menambang pasir di kali pun kini jadi sering malas-malasan di rumah.

Tetapi kalau kalian berpikir bahwa bergunjing hanya sesuatu yang negatif, tidak demikian dengan pandangan warga Desa Naijuf. Sebab berkat gosiplah, Bapa Andreas tahu bahwa Lusia anak gadisnya yang masih SMA itu sering dibawa ke mana-mana oleh seorang lelaki beristri.

Kabar tak sedap itu tak sengaja Bapa Andreas ketahui dari salah satu tetangganya yang mendengar gosip para mama di teras polindes. Dan Bapa Andreas bertindak cepat. Ia menguntit sang putri yang satu hari pamit mengerjakan PR ke rumah teman. Hampir saja lelaki beristri itu babak belur dihajar jika saja orang-orang tidak menyelamatkannya dari amukan Bapa Andreas yang kalap.

”Itu cuma kebetulan saja! Yang namanya gosip itu lebih banyak bumbu ketimbang benarnya. Sehingga sering menjurus kepada fitnah,” ujar suami saya sambil lalu saat mendengar cerita saya tentang apa yang terjadi pada Lusia.

Pendapat suami saya tampaknya memang tidak salah. Sebab gara-gara gosip tak lama kemudian terjadi satu peristiwa berdarah yang diingat warga Desa Naijuf sampai kapan pun.

Ceritanya pada tengah hari, saya baru saja pulang dari rumah Maria Eko, sahabat saya, membantu membuat kue. Ketika saya hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak-teriak disertai gonggongan keras para anjing.

Saya bergegas keluar rumah. Di depan rumah, saya melihat banyak orang berlari menuju ke arah polindes. Saya pun ikut berlari bersama mereka.

Begitu tiba di halaman polindes, saya melihat hampir semua tetangga saya berdiri di sana dengan wajah yang tampak syok dan ketakutan. Para orang tua mencoba menutup mata anak-anak dengan jari tangan mereka. Sebagian mama-mama menangis dan menjerit-jerit.

”Tuhaaan tolooong...!!” teriak Tanta Rina tampak memegangi kepalanya sendiri di tengah kerumunan.

Saya mencoba melangkah lebih dekat ke halaman polindes. Saya terperanjat ketika melihat sosok Tanta Nata telah terkapar bersimbah darah di sana. Saya nyaris muntah saat melihat luka menganga lebar di batang lehernya.

Tanta Nata telah dibacok oleh Oom Thomas! Demikian kata orang-orang. Konon kejadian mengerikan ini bermula saat Oom Thomas yang baru pulang dari kebun dan melintas di depan polindes mendengar Tanta Nata sedang buang bahasa3 tentang dirinya. Tanta Nata menyebut Oom Thomas sebagai tukang suanggi4, penjudi, dan pencuri.

Memang Oom Thomas punya tabiat buruk seperti suka mabuk, berjudi, dan sering memukuli istrinya. Namun ia sama sekali tak pernah melakukan suanggi. Karena itu ia pun menghampiri Tanta Nata di teras polindes dan menegur perempuan tersebut. Tetapi Tanta Nata dengan mata melotot malah menjawab ketus: ”Benar kok, lu memang tukang suanggi!”

Saat kerumunan di polindes semakin lama semakin membesar, mata saya tiba-tiba menangkap sosok Herlina. Ia terlihat sedang mengarahkan kamera ponselnya kepada Tanta Nata yang bersimbah darah dan kerumunan di sekitarnya. Perasaan saya langsung tak enak. Jangan-jangan ia menyiarkan tragedi ini di media sosial.

Dan betul saja. Begitu saya membuka gawai dan memeriksa Facebook Herlina, di sana telah terunggah sebuah video dengan takarir Akibat Bergosip di Polindes. (*)

---

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore