Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 September 2023 | 18.06 WIB

Penghibur Acara Orang Mati

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Gara-gara sebab matinya si pemuda, aku jadi sedikit-sedikit teringat kisah cintaku selama menekuni pekerjaan di kota besar. Rasanya getir kalau teringat di saat menghadiri pemakaman orang begini.

Kami kenal semasa di bangku kuliah. Aku menyukai sifatnya yang ceria. Kami berkencan sekali sepekan atau kalau tidak ada jadwal kuliah. Lulus kami menyewa apartemen tak jauh dari tempat kerja. Aku mendapat kerja di perusahaan yang namanya mentereng, tapi dikenal suka menyusahkan karyawan. Dia pun berhasil diterima di perusahaan yang bagus. Begitu aku tidak tahan bekerja di perusahaanku, tanpa memberi tahu lebih dulu dia tiba-tiba menghilang dari tempat kami tinggal. Dia tidak bisa lagi dikabari. Baru sebulan kemudian aku diberi tahu kawanku kalau dia akan melangsungkan pernikahan. Dilihat dari luar, boleh dikatakan kalau kisah cinta yang kujalani memang biasa-biasa saja. Walau demikian, tetap saja terasa menyakitkan.

Baiklah. Kadar sakit akibat gagal cinta pada setiap individu memang berlainan. Tak bisa diukur secara tepat setepat termometer atau meteran gas. Meski begitu, apa harus mengakhiri hidup gara-gara putus cinta? Sungguh kerugian besar kalau harus mengakhiri hidup lantaran perkara cinta.

***

Kali ini si kaya yang meninggal dunia. Anak-anak si kaya meminta ibu membawa rombongan pelayat guna memeriahkan acara pemakaman di hari pertama. Dari gerbang jangryesik-jang megah yang disewa keluarga itu, berjejer pelbagai karangan bunga besar-besar. Orang kaya tak perlu mengkhawatirkan di mana mesti meletakkan bunga di rumah duka yang megah. Orang kaya cukup melempar segepok uang dan orang lain yang akan menjalankan segala hal soal pemakaman. Dan itu juga berlaku untuk urusan menghaturkan duka sedalam-dalamnya.

Anak-anak si kaya bersiap menampilkan duka dengan menyewa rombongan ibu yang gampang menampilkan duka ditinggal si mati. Sedangkan anak-anak si kaya tidak perlu repot-repot tampak sedemikian berduka. Biarlah itu diurus orang lain, pikir mereka mungkin.

Menggeluti profesi begini memang kadang menimbulkan perasaan bersalah. Di satu sisi seperti berlakon di atas panggung; pura-pura menitiskan air mata demi orang yang tidak kita kenal. Di sisi lain, agar bisa makan dan menabung demi hidup, pekerjaan begini mesti diambil. Toh, bila tidak, pasti ada orang lain yang juga memerankan pekerjaan demikian supaya menyambung hidup.

Karena minggu ini aku cuti libur dan meminta tiga hari tidak bekerja ke ibu, aku memilih pergi memancing. Ingatan terakhirku soal memancing adalah ikan besar yang berhasil ditangkap ayah bertahun-tahun lampau.

Hingga suatu sore aku bangun dari tidur. Telepon rumah berdering nyaring. Deringnya keras betul. Seperti tergesa-gesa ingin disambungkan ke telinga manusia untuk menyampaikan suatu kabar. Kuangkat telepon dan di ujung saluran terdengar suara paman dalam rombongan pelayat ibu.

Ibu masuk rumah sakit. Sebelum acara pemakaman hari kedua diadakan, dia jatuh dan tak sadarkan diri saat bersiap untuk menghaturkan duka.

Hari-hari tanpa ibu di rumah terasa ganjil. Aku pergi pulang dari rumah menuju rumah sakit. Adik-adikku yang lain juga pulang ke kampung kami.

***

Hari ini aku tidak bekerja. Juga untuk dua hari berikutnya. Aku memakai selengkap pakaian hitam untuk menampilkan bahwa diriku tengah berduka. Ibuku mengembuskan napas terakhir setelah dirawat tiga pekan. Aku menerima tamu, para tetangga dan juga teman kerja ibuku. Rombongan pelayat profesional. Seperti ibu, aku tak tahu apa mereka nanti bakal menangis secara tulus atau sekadar pura-pura sebagaimana selama ini berjalan. Biarlah hal itu tetap rahasia. Setidaknya tangis mereka dan juga tangisku bisa jadi penghibur bagi mendiang ibuku. Aku harap ibu tenang di sana. (*)

---

BAGUS DWI HANANTO, Lahir dan tinggal di Kudus, Jawa Tengah. Novelnya yang sudah terbit berjudul Si Konsultan Cinta & Anjing yang Bahagia (2019).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore