
ILUSTRASI
Kami berangkat pagi sekali dengan mengenakan selengkap pakaian serbahitam. Satu di antara kami memakai kacamata hitam. Awalnya, kukira dengan memakai kacamata begitu orang tidak bisa mengetahui apa dia benar-benar berduka atau tidak. Namun, tebakanku meleset. Paman satu ini masih bisa menampilkan duka yang menakjubkan kendati dia memakai kacamata hitam. Memang benar pengalaman membikin orang terbiasa dalam menjalani suatu pekerjaan.
Pekerjaan pertamaku waktu itu berjalan lancar. Meski aku bisa dibilang kurang begitu piawai dibanding para paman dan ibu-ibu dalam rombongan. Walau begitu, aku masih dilibatkan dalam pekerjaan di hari kedua dan hari terakhir. Lantas pekerjaan berikutnya juga kulakoni dengan serius. Sebab, semenjak dulu aku senantiasa serius melakoni pekerjaan.
Satu pekerjaan mewajibkan kami ikut sampai si mati dikremasi. Cuma tersisa segelintir tulang dan abu setelah si mati dikremasi. Keluarga kemudian akan membakar barang-barang berharga si mati. Dan semoga dia yang pergi meninggalkan kami lebih dulu tidak memiliki penyesalan tersisa di dunia.
”Dulu waktu ayahmu meninggal kami juga menangis,” tutur ibu. ”Namun, ibu tidak tahu pasti apa rombongan menangis secara tulus atau cuma pura-pura sebagaimana menjalani profesi pelayat. Makin ke sini makin dirimu tidak tahu apakah air mata dan air muka sedih yang kautampilkan ke orang-orang yang meninggal punya makna.”
”Kupikir akan sama saja, Bu. Cuma karena kita sudah terlatih. Menangis jadi kurang bermakna. Tapi, tentu saja ada sedikit-sedikit makna. Orang memesan jasa kita karena mereka takut kalau-kalau yang meninggalkan mereka tidak ada yang menangisi.”
***
Yang terbaik dari pekerjaan ini adalah tidak diperlukan hierarki seperti ketika aku bekerja di perusahaan di kota besar. Cukup bersedia atau tidak bersedia ikut. Dan mampukah dirimu berperan sebagai orang yang berduka. Meski, yang namanya duka sudah bukan hal baru bagi aku maupun ibu.
Dulu ibu harus sendirian membiayai kami yang masih kecil. Aku dan ketiga adikku. Bangun pagi hari, ikut mencari ikan bersama ibu-ibu kalau tidak ada orang yang butuh jasa pelayat profesional. Laut yang begitu dekat adalah berkah bagi keluarga kami yang miskin. Dan begitu aku mendapat secercah peruntungan bertahun-tahun kemudian dengan diterima kerja di Seoul, aku mesti kembali ke titik awal sehabis tak kuat bekerja di sana.
Ibu menerimaku. Ibu orang yang terlihat tegar dan tidak gampang menyerah. Adik-adikku masih kuliah saat itu. Begitu mendengar aku memilih pulang kampung gara-gara tak tahan bekerja di bawah tekanan perusahaan gelap, semangat yang mereka bangun pun berangsur luntur. Satu di antara mereka memutuskan menyudahi belajar di perguruan tinggi dan sekarang bekerja di minimarket tak jauh dari rumah. Ibu dan aku marah mulanya. Namun, kalau dipikir-pikir, begitu adikku satu ini memutuskan sesuatu tak ada yang sanggup menggeser keputusannya.
”Terserah kau saja. Asal jangan mengeluh di depanku kalau pekerjaanmu kurang enak,” ucap ibu.
Ucapannya sedikit melukaiku, tetapi aku berpikir lebih jauh: bahwa ibu sudah dikecewakan sekali dengan aku yang memilih pulang, barangkali. Maka kecewa untuk yang kedua kali tentu saja membuat dia tidak sanggup menahan omongan.
***
”Segini bayaranmu kali ini,” ucap ibu. Kumasukkan dalam kantong tanpa menghitungnya. Kunyalakan sebatang rokok dan menyeka keringat di sekitar pelipisku. Hari ini terasa panas.
Nama si mati Han Dong-woo. Usianya baru 28. Uh, sayang betul mampus di usia masih muda. Lebih-lebih mati karena kegagalan cinta. Orang tuanya sangat sayang anak ini padahal, kudengar dari ibu.
Pada pemakaman si pemuda Dong-woo, kami ikut berjaga untuk menyongsong hari duka berikutnya. Kami ikut minum-minum bersama keluarga, makan yukgaejang, dilanjut dengan main go-stop semalam suntuk.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
