Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 24 September 2023 | 18.06 WIB

Penghibur Acara Orang Mati

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Kami berangkat pagi sekali dengan mengenakan selengkap pakaian serbahitam. Satu di antara kami memakai kacamata hitam. Awalnya, kukira dengan memakai kacamata begitu orang tidak bisa mengetahui apa dia benar-benar berduka atau tidak. Namun, tebakanku meleset. Paman satu ini masih bisa menampilkan duka yang menakjubkan kendati dia memakai kacamata hitam. Memang benar pengalaman membikin orang terbiasa dalam menjalani suatu pekerjaan.

Pekerjaan pertamaku waktu itu berjalan lancar. Meski aku bisa dibilang kurang begitu piawai dibanding para paman dan ibu-ibu dalam rombongan. Walau begitu, aku masih dilibatkan dalam pekerjaan di hari kedua dan hari terakhir. Lantas pekerjaan berikutnya juga kulakoni dengan serius. Sebab, semenjak dulu aku senantiasa serius melakoni pekerjaan.

Satu pekerjaan mewajibkan kami ikut sampai si mati dikremasi. Cuma tersisa segelintir tulang dan abu setelah si mati dikremasi. Keluarga kemudian akan membakar barang-barang berharga si mati. Dan semoga dia yang pergi meninggalkan kami lebih dulu tidak memiliki penyesalan tersisa di dunia.

”Dulu waktu ayahmu meninggal kami juga menangis,” tutur ibu. ”Namun, ibu tidak tahu pasti apa rombongan menangis secara tulus atau cuma pura-pura sebagaimana menjalani profesi pelayat. Makin ke sini makin dirimu tidak tahu apakah air mata dan air muka sedih yang kautampilkan ke orang-orang yang meninggal punya makna.”

”Kupikir akan sama saja, Bu. Cuma karena kita sudah terlatih. Menangis jadi kurang bermakna. Tapi, tentu saja ada sedikit-sedikit makna. Orang memesan jasa kita karena mereka takut kalau-kalau yang meninggalkan mereka tidak ada yang menangisi.”

***

Yang terbaik dari pekerjaan ini adalah tidak diperlukan hierarki seperti ketika aku bekerja di perusahaan di kota besar. Cukup bersedia atau tidak bersedia ikut. Dan mampukah dirimu berperan sebagai orang yang berduka. Meski, yang namanya duka sudah bukan hal baru bagi aku maupun ibu.

Dulu ibu harus sendirian membiayai kami yang masih kecil. Aku dan ketiga adikku. Bangun pagi hari, ikut mencari ikan bersama ibu-ibu kalau tidak ada orang yang butuh jasa pelayat profesional. Laut yang begitu dekat adalah berkah bagi keluarga kami yang miskin. Dan begitu aku mendapat secercah peruntungan bertahun-tahun kemudian dengan diterima kerja di Seoul, aku mesti kembali ke titik awal sehabis tak kuat bekerja di sana.

Ibu menerimaku. Ibu orang yang terlihat tegar dan tidak gampang menyerah. Adik-adikku masih kuliah saat itu. Begitu mendengar aku memilih pulang kampung gara-gara tak tahan bekerja di bawah tekanan perusahaan gelap, semangat yang mereka bangun pun berangsur luntur. Satu di antara mereka memutuskan menyudahi belajar di perguruan tinggi dan sekarang bekerja di minimarket tak jauh dari rumah. Ibu dan aku marah mulanya. Namun, kalau dipikir-pikir, begitu adikku satu ini memutuskan sesuatu tak ada yang sanggup menggeser keputusannya.

”Terserah kau saja. Asal jangan mengeluh di depanku kalau pekerjaanmu kurang enak,” ucap ibu.

Ucapannya sedikit melukaiku, tetapi aku berpikir lebih jauh: bahwa ibu sudah dikecewakan sekali dengan aku yang memilih pulang, barangkali. Maka kecewa untuk yang kedua kali tentu saja membuat dia tidak sanggup menahan omongan.

***

”Segini bayaranmu kali ini,” ucap ibu. Kumasukkan dalam kantong tanpa menghitungnya. Kunyalakan sebatang rokok dan menyeka keringat di sekitar pelipisku. Hari ini terasa panas.

Nama si mati Han Dong-woo. Usianya baru 28. Uh, sayang betul mampus di usia masih muda. Lebih-lebih mati karena kegagalan cinta. Orang tuanya sangat sayang anak ini padahal, kudengar dari ibu.

Pada pemakaman si pemuda Dong-woo, kami ikut berjaga untuk menyongsong hari duka berikutnya. Kami ikut minum-minum bersama keluarga, makan yukgaejang, dilanjut dengan main go-stop semalam suntuk.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore