
ILUSTRASI
Cupak terkekeh, ikut mengambil satu pinyaram. ”Tak ada kopi, pinyaram pun jadilah, daripada tidak sama sekali. Terima kasih, Miun.”
Miun lalu merapatkan duduknya ke Bujang dan Cupak. Matanya awas menatap sekitar, lalu pelan-pelan dia mulai berbisik pada kawannya yang sedang asyik mengunyah emping pulut yang ditumbuk itu.
”Sudah dengar kalian kabar baru?” tanya Miun cadas, berbisik, bersinergi macam merencanakan sesuatu. ”Simauang,” lanjutnya lebih bertenaga. ”Dia baru saja beli anjing baru yang sangat mantap, paling besar, paling top, diantar langsung dari Bukittinggi. Kabarnya besok mau adu tanding di Darsan.”
Demi nama anjing disebut-sebut, pucuk telinga Cupak langsung berdiri. Dia sudah tahu reputasi Simauang yang gemar gonta-ganti anjing yang sangat hebat, bermartabat, lincah, dan dapat diandalkan. Barangkali karena reputasinya itu jugalah dia diangkat secara hormat untuk menjadi ketua Persatuan Buru Babi (PBB) di kampung mereka.
Entah dari mana dan sejak kapan Simauang mau berinvestasi kepada anjing pemburu. Dia tidak mencatatnya, namun minatnya itu timbul setelah melihat adu babi di Baso, Agam, beberapa tahun lalu. Ada sebuah sekolah luar biasa (SLB) di sana. Sepelemparan batu dari SLB Baso itulah berdiri panggung adu babi lengkap dengan jalur-jalurnya. Babi yang berhasil ditangkap akan dilepas dan anjing-anjing akan berkejaran saling terkam. Bisa dibilang itu adalah gelanggangnya pemburu, sebuah training untuk anjing yang baru berlatih, dan sebuah ajang pamer untuk anjing-anjing pemburu yang sudah berpengalaman. Sementara bagi babi yang menjadi tokoh sentralnya adalah tragedi berkepanjangan.
”Tradisi Minangkabau, warisan leluhur, kita harus terus melestarikan budaya buru babi ini. Berburu itu bukan hobi, melainkan panggilan jiwa,” raung Simauang satu kali setelah berhasil membeli seekor anjing peranakan berwarna oranye yang dicat dengan cat semprot membentuk angka 49 di pantatnya. Sebagai orang kaya, tentu saja Simauang dikaruniai banyak teman. Jadi, ketika dia diajukan untuk menjadi ketua PBB, nyaris semua orang mengamininya.
Tiba-tiba Miun memecah keheningan. ”Babi hitam yang membunuh Mak Lepai dulu, yang berhasil ditangkap Mak Simauang, kabarnya besok akan dikorbankan. Jadi, selepas sekolah besok kita harus ke Darsan untuk melihat kehebatan anjing itu. Bagaimana?”
Bujang mengangguk, dia tak ada masalah. ”Boleh, selepas itu boleh juga kita pergi mandi-mandi ke batang bangko6 sekalian.”
Miun kembali menggamit kedua lengan sahabatnya, kali ini berbisik lebih keras. ”Kabarnya anjing itu dibeli seharga lima belas juta, Kawan. L-I-M-A B-E-L-A-S J-U-T-A, cash.”
***
Tempat pautan anjing sudah penuh. Pohon-pohon di dekat kawasan Darsan juga sudah minta ampun karena tiba-tiba menjadi tempat mengikat anjing-anjing tak tahu adat itu. Beberapa di antara mereka kencing terang-terangan di dekat tuannya dan anjing betina yang centil. Semua pemandangan itu tak lepas dari mata tiga remaja yang sedang bersemangat tersebut. Hingga pada puncaknya, sebuah mobil Jeep putih hitam (benar-benar Jeep karena bukan Carry yang dipangkas atau dimodifikasi) masuk ke Darsan, disertai gonggongan keras dari anjing yang dikurung di dalam sangkar besar. Di sebelahnya ada sebuah sangkar besi yang nyaris sama besarnya. Isinya bukan anjing, melainkan seekor babi hutan yang gemuk, padat, dan beringas.
Seluruh mata beralih. Orang-orang tentu sudah tahu siapa yang datang, Simauang Tuah dengan kroni-kroninya. Orang-orang terpana melihat anjing yang terkurung di dalam sangkar besi, diturunkan oleh Jintan dan dua orang lainnya dengan hati-hati. Anjing itu tak menyalak lagi, namun seluruh mata anjing-anjing yang hadir di sana tertuju padanya. Dia sudah bagaikan anjing alpha, pemimpin para anjing. Anjing-anjing betina menjauh dari pejantan yang terikat, hendak melompat mendekati si anjing hitam. Anjing-anjing jantan yang sudah tiba lebih dulu memandang dengan muka sayu, tunduk, mengakui kekalahan mereka bahkan sebelum berkenalan.
Jintan begitu semangat, juga anjing di dalam sangkar. Dia mendengus-dengus, matanya tajam, lidahnya terjulur keluar sepanjang nyaris sepuluh senti, perutnya kurus, tungkai kakinya panjang, dan napasnya kembang kempis karena terlalu bersemangat. Saat keluar, telinganya langsung tegak, pun lehernya. Dia menjiplak tabiat tuannya yang suka berbangga dalam bicara, menyombongkan kalung mewah yang melingkar di leher anjing bernama Si Juto itu.
Pintu sangkar dibuka. Babi keluar mendengus-dengus, anjing riuh menarik-narik lehernya sendiri, menggonggong serentak bagai menyanyikan himne selamat datang. Namun hanya beberapa anjing yang dibiarkan mendekat, empat anjing spesial yang dipilih sendiri oleh Simauang untuk membuka pertama. Orang-orang bersorak-sorai bagai perlombaan panjat pinang, menjagokan anjing yang begitu besar itu. Beberapa di antara yang hadir berbisik ”Berapa kilo makan anjing itu sehari?” atau ”Agaknya makan anjing itu sama dengan makan kita, Ketua sudah bagai mengadopsi seorang laki-laki dewasa ke dalam kartu keluarganya.” Dan semua hiruk pikuk itu dianggap angin lalu bagi Simauang, memberi makan anjing apa susahnya?
Percobaan pertama, anjing dilepas, babi dilepas. Babi lari terbirit-birit, anjing mengejar dengan ganas, orang-orang berteriak membusa-busa, mengacungkan tangan, memekik bagai siamang di tengah rimba. Beberapa yang datang tanpa membawa seekor anjing pun tebersit untuk membeli anjing, namun takut dengan bini di rumah. Beberapa yang datang membawa anjing kecil hendak pulang cepat-cepat sebab malu anjingnya nyata tak akan bisa melawan. Cupak, Bujang, dan Miun menyaksikan semua itu dari atas pohon parawe yang meranggas. Dia melihat babi itu meradang, anjing yang menggertak, babi terguling di jalur pacu, anjing yang mundur lalu maju lagi dengan takut-takut. Nyata benar pandangan siaga menjelang sore itu bak pasar petang dadakan. Semua orang yang hadir di sana memuji kehebatan anjing Simauang. Pria bertopi koboi itu tersenyum semringah, tak pernah selebar itu senyumnya selama satu dekade terakhir.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
