Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Juli 2023 | 17.11 WIB

Merpati di Bumi sang Nabi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Daroji sadar bahwa posisinya sudah makin ke tengah lapangan. Dia kembali minggir sambil matanya tetap tertuju ke merpati tadi. Tapi apa yang terjadi? Merpati itu mengikuti Daroji ke pinggir. Daroji memfokuskan pandangan untuk membaca tulisan di gelangnya. Tapi merpati itu tiba-tiba terbang meroket, meninggi membentuk lingkaran. Daroji tak berkedip. Merpati itu sekonyong-konyong menukik dengan cepat, benar-benar seperti peluru. Tahu-tahu merpati itu sudah mendarat lagi di dekat Daroji.

Daroji berguman-gumam. Dia ingat lagi ciri pada Bledek. Pada kaki kiri, jari belakangnya tidak ada kuku sehingga tampak tumpul. Daroji ganti mencermati kaki kiri merpati di depannya. Dia makin terkejut, merpati itu jari belakangnya juga tumpul. Bibir Daroji bergumam-gumam lebih cepat. Meski agak samar, motif atau bentuk goresan di gelangnya juga mirip ”Dar” dengan huruf kapital di awal. Benarkah dia adalah Bledek? Mana mungkin Bledek sampai di sini, sedangkan Daroji sendiri naik pesawat tanpa berhenti, perlu waktu sekitar sebelas jam, menempuh jarak hampir sembilan ribu kilometer melintasi samudra dan benua.

Ciri-ciri Bledek yang dimiliki merpati itu makin jelas. Pada pangkal mata sebelah kiri juga ada bisul kecil kekuningan. Merpati itu terdiam sambil berkedip-kedip memandanginya. Daroji kembali terjingkat. Sang merpati sekonyong-konyong melesat ke langit, bermanuver hampir tegak lurus. Mata Daroji mengikutinya. Burung itu sebentar-sebentar menukik, lalu menanjak kembali secara sempurna hingga tampak sebesar titik di angkasa.

Daroji benar-benar kagum. Dia mengusap-usap matanya, memejam-mejam sesaat. Dia yakin bahwa ini bukan mimpi. Dan saat dia membuka kedipannya, merpati itu sudah berada di depannya, menatap lurus ke arah Daroji. Kali ini dia memperhatikan lagi gelang di kaki merpati. Dada Daroji bergetar makin kencang. Bibirnya juga ikut bergetar. Tulisan di gelang merpati itu benar-benar nyata. Dengan tergugup Daroji berujar.

”As…as…salamualaikum, Bledek…”

Merpati itu berkedip-kedip, seakan-akan mengerti salam dari Daroji. Burung itu lantas berjalan ke arah pintu nomor 339, kadang diselingi terbang sehingga terkesan melompat. Daroji mengikutinya, melipir ke tepi lewat samping toilet. Saat Daroji tertinggal, burung itu berhenti, menoleh ke arah Daroji seakan memberi kode. Daroji mempercepat langkah. Si burung pun kembali berjalan. Sebelah kirinya adalah tembok makam Al Baqi. Makin cepat, kadang melompat sambil mengepakkan sayap. Daroji membuntutinya, terus berjalan dan berjalan. Keduanya sudah meninggalkan area masjid, masuk ke jalan-jalan kecil, bangunan-bangunan tua ada di kanan dan kiri. Kesepian mulai terasa.

Cuaca makin memanggang. Angin kering bertiup dari arah depan, disusul gulungan debu beserta plastik-plastik beterbangan. Merpati itu terus berjalan dan mengepakkan sayap makin jauh. Daroji membuntuti dengan tertatih. Bukit dan tanah-tanah berbatu tampak di depannya, kerontang menghampar sebatas mata memandang. Langit memucat seperti kain kafan. Desau terdengar timbul tenggelam. Dari kejauhan kedua makhluk itu tampak makin mengecil, hablur dalam fatamorgana, lalu lenyap bersama desau… (*)

Madinah-Surabaya, 2023

---

M. SHOIM ANWAR, Sastrawan tinggal di Surabaya. Buku-bukunya antara lain Oknum, Musyawarah Para Bajingan, serta Tikus Parlemen. Dosen Universitas Adi Buana Surabaya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore