
ILUSTRASI
”Datang kalau ada perlunya aja,” begitu ungkap anak ketiga Buhaji tiap kali jadwal kunjungan mereka berbarengan.
Tak hanya itu, dia adalah anak yang, menurut keempat saudaranya, paling dimanja oleh Buhaji. Rumah diberi, sembako tak pernah absen dia ambil sendiri. Pernah dia mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Buhaji menjual tanah dan emas untuk dipinjamkan kepada putranya, tapi tak ada hasil yang didapat.
Utang itu kabarnya tak pernah lunas, toh dimakan anak sendiri, katanya.
Selain si anak bungsu ini, anak pertama hingga keempat memiliki sikap yang biasa saja. Biasa menggerutu karena Buhaji dianggap pilih kasih, biasa merepotkan Buhaji dan bhareng1-nya setiap kali datang, dan biasa menyuruh-nyuruh anak angkat untuk menuruti keinginan mereka.
”Aku ingin makan ini.”
”Aku ingin makan itu.”
”Aku ingin makan ini dan itu, banyak sekali.” Tak kenal musim, tak peduli kalau harus dicari atau dipesan jauh-jauh hari. Semua harus ada saat itu, persis yang seperti itu.
Mereka tidak akan memaksa, tapi setiap beberapa jam mereka akan kembali bertanya, ”Kalau ini ada? Kalau itu saja bagaimana? Tidak mau yang ini, harus yang itu. Tidak ada ya? Kalau begitu tidak usah, tapi dulu ada yang seperti ini. Masih belum nemu juga ya?”
***
Para cucu dan orang sekitar memanggilnya Buhaji. Sehari setelah Buhaji pergi, sikap ibu pada kami mulai terlihat berbeda. Frekuensi pertengkaran antara ibu dan adik bungsu kami lebih jauh berkurang. Bahkan ibu tak lagi banyak mengomentari caraku mengasuh anak atau membahas kenapa berat badan anak pertama kakak perempuanku jadi turun banyak.
Padahal, topik-topik itu biasanya jadi bahan bakar adu mulut kami dengan ibu. Dengan adik kami, ibu jadi tak terlalu sering menyemburkan amarah akibat kelalaian adik pada kebutuhannya sendiri. Begitu pun pada ayah, usahanya ikut membereskan rumah setelah pensiun juga semakin jarang dikomentari.
Tentu saja ini adalah kabar baik untuk kami. Ibu juga jadi punya lebih banyak waktu untuk beristirahat dan memikirkan diri sendiri. Sayangnya, kabar baik ini juga melahirkan kekhawatiran lantaran ibu lebih sering menangis, entah karena merasa lega atau sedih?
Selepas Buhaji pergi, tak ada lagi yang menelepon ibu belasan kali sehari. Selepas Buhaji pergi, tak perlu lagi ibu mondar-mandir dari rumah kami ke rumah Buhaji sehari tiga kali. Mungkinkah ini juga yang dialami oleh anak-anak angkat lainnya selepas Buhaji pergi?
Anak-anak angkat itu sangat terikat padanya, lebih dari anak-anak Buhaji sendiri. Mereka tidak akan dibayar sebagaimana Buhaji membayar bhareng.
Anak-anak angkat itu, yang selamanya merasa berutang budi pada Buhaji, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak, Buhaji maupun lima anaknya itu tidak bersikap buruk pada mereka.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
