Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 7 Mei 2023 | 15.21 WIB

Gunung Batu

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Mungkin kamu benar, tetapi kamu bercerita seperti guru sungguhan. Itu sudah ada di darahmu. Semua orang punya ketakutan. Ada yang tumbuh ke dalam, ada yang mencuat ke luar. Bisa menyadarinya itu lebih baik.” Ratna menjawab.

”Semoga. Lalu bagaimana denganmu?” Martha bertanya sembari terengah. Napasnya mulai memendek, seperti setiap kali ia menceritakan kondisinya.

”Aku kembali dengan musisi itu, di pelukannya. Beserta tangis-tangisku yang tidak berguna. Baru sebulan yang lalu dia tidur dengan kekasihnya yang lain. Tiba-tiba suatu malam, di bawah pengaruh jäger4 sialan, ia menjadi lelaki baru. Bersih. Bekas-bekasnya tak ada. Aku bernafsu sangat menggulatinya. Kadang aku merasa, aku sangat tidak percaya diri. Berpikir tidak ada orang lain mau denganku selain dia. Di lain waktu aku merasa, jangan-jangan kebebalanku ini disebabkan justru karena aku terlalu percaya diri, merasa bisa menaklukkannya, tanpa malu. Aku dengar orang melabeliku perempuan bermoral longgar, seperti salju tebal di malam hari, yang melembek becek di pagi hari.”

”Saya pikir, orang bisa percaya diri dan tak percaya diri secara bersamaan.” Martha kemudian tenggelam dalam permainan logikanya sendiri.

”Mau membantuku?” Liu menelusupkan telepon genggamnya lewat celah-celah kursi mereka. Rupanya kelas telah usai. Ia membuka aplikasi kencan dan menyesuaikan tempat pencarian di area gunung batu yang akan mereka datangi.

Ratna selalu swipe kiri, Martha sering kali swipe kanan. Kadang-kadang mereka menyesal menggeser ke kiri, dan akun premium Liu memungkinkan mereka mengembalikannya, sebelum kemudian tetap membuangnya ke kiri.

***

Tengah malam mereka sampai di penginapan. Liu menelusupkan badannya ke selimut setelah melewati ritual perawatan wajah sambil menceramahi kami tentang algoritma aplikasi kencan. Di tempat baru, lebih banyak laki-laki yang bagus. Setelah satu dua kali berseluncur, kita kehabisan. Setelah berhasil ketemu satu dua kali, tidak ada lagi.

Ratna masih berbaju lengkap, duduk di ujung kasurnya sambil menatap telepon genggamnya yang memanggil dan ditolak. Ia memulai ritual menelepon-tutup-menelepon-tutup sampai puluhan kali. Martha dan Liu tidak mau ikut campur, tidak bisa. Sampai beberapa lama kemudian terdengar ritme napas tidur mereka yang teratur. Tapi, Martha masih terjaga. Ia datang. Ruang kamarnya membesar, cembung. Kadang-kadang berputar sedikit. Dengkuran temannya menjauh. Lalu dia mengingat bahwa sebentar lagi liburnya usai. Ia harus kembali. Ia menghitung tabungannya. Ia sadar belum melakukan ini dan itu. Ia menyusun jadwal. Wajah almarhum neneknya muncul. Percakapan dengan Liu dan Ratna terulang. Ia ingat jari-jari mantan suaminya yang bengkak. Aliran darah hangat terasa di kaki kirinya. Naik ke atas. Ke perut, memanggil rasa mulas. Keringat di dahi. Ia memiringkan badan. Ia mendengar detak jantungnya mencepat. Ia biarkan. Ia rasakan. Ia miring ke arah berlawanan. Ia nyalakan musik, ia dengarkan podcast. Dini hari ia meminta izin untuk menyalakan lampu. Ia memberi tahu Liu dan Ratna. Mereka terbangun dan menepuk-nepuk pundak Martha, merangkulnya, sebelum kemudian kembali mendengkur. Jam 6 pagi, Martha menyerah. Ia siap, sekarat atau terlelap.

***

”Saya cuma tidur dua jam, sarapan croissant keras, dan sekarang menembus salju tebal bermodal sneaker musim panas. Saya tidak yakin.”

”Kamu manja,” kata Liu dan Ratna kompak.

Martha diam, kakinya menurut saja arah teman-temannya berjalan. Ketika mereka mulai memasuki pegunungan, ketakjuban menyelimuti. Gunung itu hitam, tinggi, dipahat abad-abad lampau, berselimut salju yang turun seperti tepung tertumpah. Mereka pindah ke feri, menyeberangi Sungai Elbe, lalu turun persis di kaki-kaki raksasanya. Rumah-rumah lancip tertutup. Uap nongol dari cerobongnya yang mengerut. Turis-turis lain seperti kotoran di salju putih, berpencar dan bungkuk. Jalan berkelok-kelok disisir oleh hujan salju miring. Situasi ini merenggut segala kecemasan.

Di satu titik, jalan batu mulai hilang. Jalan berundak terbuat dari tanah dan kayu menggantikannya. Mengular dan meninggi. Liu dan Ratna mengapit Martha dan menaikkannya ke tangga pertama. Seperti mesin tua, mereka maju sedikit demi sedikit. Di tikungan pertama, mereka bertukar kekaguman. Di tikungan kedua, Martha mengeluhkan matanya sakit oleh warna putih. Terlalu terang. Di tikungan berikutnya, Ratna mengecek peta. Berapa lama lagi. Martha mulai memutar-mutar badannya, mencari tumpuan pandangan. Selain putih, tak ada. Ia mencengkeram tangan Liu.

”Kita turun saja?”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore