Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 April 2023 | 17.17 WIB

Monolog Ken Dedes

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Iya, orang dalam kerap justru menjadi ancaman. Orang yang diberi kepercayaan kerap justru mencelakakan. Itu sudah aku katakan. Tetapi aku tak menyangka akan terjadi secepat itu.

Suamiku kudapati tergeletak tanpa nyawa dengan sebilah keris tertancap di dadanya. Aku menjerit. Lalu para pengawal masuk ke bilik suamiku, termasuk Arok. Di hadapan banyak prajurit Arok mengamati keris, lalu mencabutnya dan ia berseru: ini keris milik Kebo Ijo yang dipesan dari Mpu Gandring. Kebo Ijo kaget bukan main.

Tanpa diberi kesempatan membela diri, Kebo Ijo digiring dan diadili dengan tuduhan pembunuhan atas Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Tetapi beberapa prajurit menyangsikan karena mereka bersama-sama dengan Kebo Ijo sebelum Tunggul Ametung didapati tewas.

Desas-desus beredar secepat angin. Dari abdiku, aku diberi tahu ada beberapa di antara mereka yang menduga si pembunuh itu adalah Arok dan aku membantunya dengan memberi kesempatan kepada Arok. Mereka membuat pengamatan bahwa keterlibatanku sangat mungkin karena mereka bilang aku tidak pernah bisa mencintai Tunggul Ametung. Aku tidak pernah jatuh cinta padanya. Aku menjadi prameswari karena paksaan.

Desas-desus makin meluas. Dari abdiku yang lain aku mendengar ada yang mengatakan Arok nekat melakukan itu karena ia mengincar takhta dan wanita. Ia katakan bahwa Arok nekat menghabisi suamiku karena Arok melihat betisku memancarkan sinar. Aku tertawa meski masih dalam suasana duka. Aku heran, kalau cerita abdiku itu benar, mengapa laki-laki kerap bicara di luar nalar.

Seperti Arok itu. Ia mengada-ada dan mengembuskan cerita-cerita hanya untuk mengesahkan perbuatannya bahwa merebut aku itu karena ada alasan yang sangat besar. Kemudian dengan seenaknya dia mengatakan bahwa betisku yang bercahaya itu adalah isyarat, sasmita bahwa dari rahimku akan lahir para penguasa Jawa. Mereka tidak tahu bahwa menjadi unggul atau tidak itu tergantung didikan ayah dan ibu, apa pun kastanya. Kalau hanya mempunyai darah, tetapi tidak didik dengan baik, ya mana bisa menjadi manusia unggul dan cakap memimpin?

Apakah ada yang lebih besar daripada keegoisan para laki-laki itu? Kertajaya, Tunggul Ametung, Lohgawe, Arok. Tentu saja aku mengatakan itu karena aku si Dedes adalah cermin bagi siapa pun yang berhadapan dengan aku.

Lalu hari itu. Ketika rakyat mendesak agar Arok naik ke tampuk pemerintahan Tumapel, aku hanya diam, duduk di kursi prameswari mengamati segala kesibukan seolah mereka hendak mendirikan kerajaan baru.

Lohgawe mengatakan, Tunggul Ametung bisa lengser, tetapi prameswari tidak bisa dilengserkan. Aku tetap dalam kedudukanku: prameswari. Tetapi alangkah kaget karena rupanya ada perempuan lain yang lebih dulu menjadi istri Arok. Namanya Umang. Aku menatap perempuan liat gesit berperawakan prajurit itu ketika datang menghampiriku dan memberi salam. Apakah aku cemburu? Tidak. Karena aku adalah cermin.

Kemudian hari pertama ketika aku berada dalam satu ruangan dengan Arok, aku meminta ia menceritakan tentang silsilahnya. Arok jawab: ”Aku dikirim Mahadewa bukan karena silsilah, tetapi bersamamu aku akan mencipta silsilah.”

Aku diam menatapnya. Tidak merasa terhina, tetapi juga tidak merasa tersanjung. Karena aku adalah cermin yang memantulkan tentang apa pun yang ada di hadapanku. (*)

---

*) INDAH DARMASTUTI, Menulis prosa dan cerita anak. Pendiri Difalitera –sastra suara untuk difabel netra– dan merintis Teras Baca, komunitas baca yang beranggota difabel netra

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore