Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 2 April 2023 | 17.17 WIB

Monolog Ken Dedes

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Tak menunggu lama, juru warta Pakuwuan sibuk mengabarkan sayembara. Hanya selang beberapa hari, ada satu nama yang sudah pantas untuk dihadapkan ke Tumapel perihal calon satria yang akan memadamkan kerusuhan.

Lalu pada minggu berikutnya, ketika aku sedang berada di samping pendapa, menteri tertinggi Tumapel mengatakan Lohgawe sudah datang memenuhi panggilan. Ia datang bersama muridnya. Lelaki kurus bermata tajam. Ketika aku mendaki undakan pendapa, mata itu terus menatapku, menatap kakiku yang melangkah. Bahkan ia tetap berani menatapku ketika aku sudah duduk di kursi prameswari.

Lohgawe, aku tidak asing dengan nama itu karena ayahku kerap menyebutnya. Ia Brahmana cukup berpengaruh di kalangannya. Tetapi muridnya? Aku belum pernah mendengar namanya. Arok!

Dialah orang yang direkomendasikan Lohgawe untuk mengatasi huru-hara, menumpas kerusuhan, dan menangkap para begal yang berkeliaran di Tumapel.

Aku mengamati dia, lalu membatin, bagaimana cara Lohgawe mendidik muridnya sehingga duduk di lantai saja bawaannya seperti mau maju perang? Tidak bisa diam, berkali-kali mengubah posisi duduk, toleh sana-sini, berani menatapku, menatap suamiku tanpa rasa takut.

Mendadak dia bersin keras sampai mengagetkan seisi pendapa Pakuwuan. Aku juga kaget bukan main. Ia mengangkat sembah, lalu bergegas menjauh dari pendapa dan bersin lagi dan lagi sangat keras. Dalam hati aku tertawa. Dia lebih mirip berandalan daripada murid seorang Brahmana. Aku membayangkan seperti apa ibu yang melahirkan laki-laki ugal-ugalan seperti dia. Jangan-jangan ibunya seorang prajurit medan laga yang tak kenal takut.

Pembicaraan di pendapa mencapai kesepakatan bahwa si Arok, murid Brahmana Lohgawe, berjanji untuk menumpas pemberontakan, memadamkan kerusuhan yang beberapa bulan terkahir merajalela di Tumapel.

Aku tersenyum, aku adalah cermin yang menangkap bayangan siapa pun yang tampak olehku. Sudah terbaca bahwa Lohgawe bukan semata menyodorkan muridnya untuk sebuah tugas berat. Tetapi dia punya agenda lain. Tunggul Ametung saja yang sembrono. Aku tahu itu, tetapi aku tidak menasihatinya. Karena tak ada gunanya. Tunggul Ametung itu merasa paling berkuasa dan suaraku? Suara perempuan dianggap ocehan sia-sia.

Tetapi memang murid Lohgawe itu sanggup memadamkan kesuruhan. Aku hampir sepenuhnya yakin bahwa kawan-kawan dan gerombolan dia sendirilah para perusuh itu, yang tak puas dengan kepemimpinan Tunggul Ametung. Tentu saja dengan mudah ia buat Tumapel menjadi lebih tenang.

Tunggul Ametung memenuhi janji, bahwa siapa pun yang berhasil memadamkan kerusuhan akan mendapatkan kedudukan. Jadilah si Arok itu menjadi orang dalam istana dan menurut abdiku, ia lekas akrab dengan Kebo Ijo, salah satu tamtama Tumapel.

Karena gusar, tak urung aku nasihati juga suamiku, aku katakan bahwa ia perlu waspada. Karena orang yang paling berbahaya adalah orang terdekat, orang dalam lingkaran. Penjahat ada di dalam rumah sendiri itu sangatlah mungkin. Suamiku mulai mau terbuka dan mendengarkan aku. Aku mulai bisa menjinakkannya. Maksudku, aku sudah lumayan berhasil meyakinkannya bahwa berwawasan kepemimpinan itu penting. Caranya dengan banyak menimba pengetahuan, membaca dan berdiskusi dengan merdeka tanpa menonjolkan kedudukan. Karena di hadapan ilmu pengetahuan, semua adalah sama derajatnya.

Sedikit demi sedikit aku mulai mendapat kepercayaan dari suamiku untuk turut memikirkan negeri. Aku diberi hak untuk mengetahui perkembangan. Belakangan, dari kepala prajurit kami tahu secara terbuka bahwa Arok merasa perlu tambahan senjata.

Aku memanggil Arok dan bertanya apa benar kalau ia memesan banyak senjata pada Mpu Gandring? Ia mengiyakan. Karena ia sudah mendapat tugas menjaga keamanan Tumapel, ia merasa perlu memastikan gudang senjata dan persenjataan cukup. Bersama Kebo Ijo dia kerap datang ke pabrik pembuatan senjata Mpu Gandring.

Suamiku masih saja merasa gelisah dan tak tenang tidurnya meski sudah tak pernah terdengar lagi adanya pemberontakan atau kerusuhan. Ada yang ganjil. Aku juga mulai berfirasat, aku menangkap sasmita.

Pagi itu saat aku duduk di taman Pakuwuan usai menemani suami sarapan, aku melihat cabang pohon sawo tiba-tiba patah dan runtuh di tanah. Ada apa gerangan? Tak ada angin, cabang pohon itu bukan cabang kering, masih segar dan kuat bagaimana bisa patah?

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore