Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 12 Januari 2025 | 13.45 WIB

Kaum Umur Panjang

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Oleh TARA FEBRIANI KHAERUNNISA

Aku duduk di kursi terdepan rumah duka, tempat yang paling dekat dengan mayat dan pigura Sang Pencipta. Apakah ini saatnya memanjatkan doa tanda berduka atau doa meminta ampunan atas dosa yang telah kuperbuat? Kepalaku pening sejak aku dilibatkan dalam rencana yang dibuatnya. Rencana untuk membunuh dirinya.

Hanya ada dua cara baginya untuk mati. Menunggu ajal yang menurut ceritanya semakin menjauhinya atau mencari Kaum Umur Panjang lain untuk diminum darahnya. Pilihan pertama atau kedua sama sulitnya. Hanya saja, dia punya rencana untuk pilihan kedua.

”Aku akan meminum darahku sendiri. Mungkin aku bisa mati karenanya,” ucapnya lantang dan percaya diri. ”Kau akan membantuku melakukannya,” tambahnya. Aku baru melewati tiga musim panas bersamanya saat dia mulai menyusun rencana itu. Rencana yang baru terlaksana hari ini.

Pagi tadi kami memasuki hutan dan dia sudah menyusun perangkap untuk dirinya. Batu yang tak terlalu besar, rata di satu sisinya, dilepaskan dari ketinggian yang cukup untuk membuatnya tak langsung mati, tapi juga tak hidup terlalu lama untuk merasa sakit. Dalam waktu yang singkat, dia akan meminum darahnya yang mengucur deras dari lukanya dan dia akan mati. Begitulah rencananya.

Sejauh ini, seluruh rencana berhasil. Batu mengenai bagian kiri wajahnya dan membuatnya terpelanting, lalu dia meminum darah yang mengalir dari luka yang menganga. Tak lama kemudian, dia sudah sepenuhnya tak sadarkan diri dengan darah bersimbah memenuhi seluruh wajah hingga lehernya. Dia memintaku menjalankan peran; berteriak meminta bantuan para pemburu yang biasa lewat. Saat orang-orang mulai datang, aku menceritakan kepada mereka kecelakaan yang menimpanya. Kemudian, mereka membawanya ke rumah duka dan berencana menguburkannya selepas senja. Sekarang tinggal menunggu jasadnya selesai disemayamkan dan dia akan dikebumikan saat langit sudah sepenuhnya gelap.

”Kami akan meninggalkanmu dengan kakekmu. Saat matahari sepenuhnya sudah hilang, para pemburu yang tadi membantu akan menguburkannya. Nikmati waktumu yang singkat berdua,” ucap kepala rumah duka, lalu pergi begitu saja.

Apakah waktu hanya bisa dinikmati jika ia hanya sebentar saja? Aku melayangkan pertanyaan itu entah untuk siapa, tapi wajahku sepenuhnya menghadap ke arahnya. Sosoknya yang pagi tadi berlumuran darah, kini sudah bersih nyaris seperti sedia kala. Beberapa noda darah terlihat di baju tebalnya yang berwarna hitam, tapi tak apa, dia akan senang dimakamkan tanpa mengganti pakaiannya. Sudah tak ada lagi darah yang mengucur. Bagian kiri wajahnya dijejali kapas.

”Kau benar-benar sudah mati?” tanyaku tepat di atas wajahnya.

Matanya terbuka. ”Ternyata teoriku gagal,” ucapnya pelan. Lalu bangkit dari tidurnya. Wajahnya berkerut masam, hidungnya mendengus beberapa kali.

Dia turun dari dipan, merenggangkan tangannya, lalu mengusap bagian belakang kepalanya. ”Kita harus secepatnya pergi dari desa ini,” ucapnya lirih. Aku mengangguk, mengambil barang-barangku, lantas berjalan keluar untuk memastikan daerah sekitar rumah duka sudah bersih dari penduduk desa. Mereka benar-benar meninggalkan kami hanya berdua. Aku menghadap kembali padanya dan mengangguk tanda aman.

Dia mulai berjalan keluar dari rumah duka. Aku menjadi ekornya, mengikuti tapak kakinya.

Desa ini sepi. Saat senja, orang-orang memutuskan untuk mendekam di rumah. Mereka takut akan perpindahan dari terang ke gelap. Hanya setan yang berjalan-jalan di waktu senja, peringat mereka. Orang tua di depanku berjalan secepat biasanya. Suasana hatinya sedang tidak baik, aku tahu walau dia tidak pernah mengatakannya. Namun, dari caranya menginjak tanah, menendang kerikil, menyibak syalnya yang tertiup angin, dan tekanan jari-jarinya saat mengusap bagian kiri kepalanya; aku bisa membacanya seterang butir-butir bintang yang mulai tampak di langit malam.

Bagaimana waktu berjalan bagi tubuhnya? Wajahnya tak berubah sejak sepuluh tahun lalu; perjumpaan pertama kami. Aku berusia lima pada saat itu. Dia menatapku penuh selidik, begitulah yang mampu kuartikan. Suster-suster yang merawatku di panti asuhan menolak menyerahkanku padanya. Namun, dia membayar sangat mahal. Katanya, aku bekal perjalanan yang diinginkannya. Entah apa maksudnya. Tak pernah kutanya alasan jelas dia menginginkanku, juga alasan dia menyusun rencana kematiannya. Aku hanya tahu dia senang; dan kesenangannya adalah satu-satunya hal yang penting.

”Ada anjing,” ucapnya lirih, lantas berjongkok di balik semak; aku mengikutinya. ”Kau mau makan anjing?” tanyanya, seakan-akan seleraku adalah hal penting yang layak mendapat pertimbangannya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore