Sesaat setelah unggahan itu berhasil, kau keluar, tidak peduli siapa yang akan melihat, mengomentari apalagi menyukai. Lalu, kau mundur beberapa langkah ke titik terjauh hingga lidah ombak tak dapat menggapai kakimu. Kau duduk di atas pasir. Kedua lututmu menekuk sedang telapak kakimu masih mengais-ngais pasir, mencari celah tenggelam lebih dalam dan anehnya, di titik itu, kau masih berharap ombak datang –dan mengecup kakimu.
Di waktu-waktu tertentu –sering kali malam– kau kerap membayangkan apa jadinya bila dia kembali ke kehidupanmu atau sebaliknya meskipun kemungkinan kedua terdengar hampir mustahil. Kau membayangkan kembali menghabiskan waktu bersama. Bersenda gurau. Berbagi lelucon konyol. Semua tentu akan lebih mudah, lebih indah, setidaknya menurut bayanganmu. Kau tersenyum setiap kali teringat hal itu. Ya, tersenyum, sebelum akhirnya menyesal.
Sejujurnya, dari celah terdalam hatimu itu, kau benar-benar menginginkan dia kembali. Tetapi kemudian kau sadar bahwa kau tak pernah mengakui perasaan itu. Kau payah. Kau membohongi dirimu sendiri dan kau mengamininya. Kadang kau berusaha melawan keegoisanmu dan sesekali akhirnya luluh juga, seperti saat itu.
Tiba-tiba terlintas di pikiranmu buat menghubunginya, sekadar bertegur sapa. Tak lebih. Kau mencari kontak namanya lalu memberanikan diri mengetik, ”halo, apa kabar?” Tidak. Terlalu berlebihan. Kau menghapusnya lalu mengganti dengan sapaan sederhana, ”hai.” Sejenak timbul rasa ragu. Akhirnya bisa ditebak dengan mudah; jarimu gemetar dan kau gagal. Semua selalu berakhir dengan satu tarikan napas panjang. Dadamu bergetar. Beruntung bila tak ada air mata yang keluar.
Matahari sepenuhnya jatuh, namun masih menyisakan terang yang memukau. Suara-suara keriuhan perlahan memudar, tapi debur ombak tetap mempertahankan ritmenya. Kau mengenakan sepatu lantas berdiri seraya menepuk-nepuk bokong. Kau bergegas pulang, melewati jalan tadi. Di minimarket dekat tempat tinggalmu, kau berniat beli sebungkus mi instan, tapi akhirnya tergoda membawa pulang tiga kaleng bir. ”Apa kau berencana kembali merayakan ulang tahunmu bulan ini?” basa-basi si kasir sambil tersenyum. Meski terdengar bersahabat, kau yakin dia tengah mengejek kesendirianmu sebagaimana pada minggu lalu, di bulan yang sama ketika kau merayakan pertambahan usia ke-35 bersama setengah lusin bir.
Setibanya di kamar, kau tampak senang mendapati ruangan itu bersih. Seulas senyum kecil tersungging di bibirmu sebab hari itu kau bangga pada dirimu. Kau membersihkan wajah, memasak mi instan, kemudian makan sambil menyaksikan konten mukbang di YouTube. Bagaimanapun itu tak cukup membuatmu kenyang. Kau ingat ternyata masih ada roti lapis yang tadi belum sempat kau makan. Kau mengunyah perlahan dan mendorongnya dengan tegukan bir. Pada gigitan ketiga kau menyadari betapa nikmatnya roti itu. Seulas senyum kembali tersungging di bibirmu, dan sejenak, kau tiba-tiba merasa ganjil dengan kegembiraan itu.
Malam itu kau ingin tidur cepat sebab besok kau tak boleh terlambat lagi atau taruhannya kau dipecat. Tapi matamu tak mengizinkan secepat itu. Kau akhirnya begadang lagi. Mendengarkan lagu-lagu pengantar tidur, lagi. Dan anehnya semua lagu yang kau putar terkesan seakan menceritakan kisahmu dengan dia. Saat ada satu lagu yang paling menggambarkan isi hatimu, kau membenarkan letak headset seraya menaikkan volume hingga batas akhir, mengabaikan peringatan kerusakan pendengaran dan ya, kau terisak lagi. Bantal kering beraroma matahari itu kembali basah. Paginya, kau bangun telat, diiringi rentetan umpatan yang terdengar cukup lantang. (*)
*) Yoga Zen: Lahir di Batusangkar. Naskah novel pertamanya, Tersesat setelah Terlahir Kembali, memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2023 dan segera terbit di Marjin Kiri.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
