
ILUSTRASI
Oleh: MUHAMMAD RAMADHAN BATUBARA
---
Aku menyebutnya Kampung Kentut karena angin di daerah itu berembus kencang juga berbau. Sesederhana itu. Selebihnya, mungkin Anda akan melihat kenapa permukiman itu kunamai begitu, dari ceritaku ini.
Baiklah, kita mulai.
Sejatinya kampung ini bernama harum, Sei Melati. Sei berarti sungai, sedangkan melati adalah sejenis bunga berwarna putih yang wangi. Sejak dulu kawasan ini disebut begitu karena memang banyak melati yang tumbuh di tepi sungai. Ya, sungai besar yang berhulu di Bukit Barisan dan berhilir di Selat Malaka yang melintas di area tersebut. Tapi itu dulu, kini melati-melati itu sudah tak ada lagi dan hanya menyisakan nama.
Penamaan ini adalah lazim. Persis dengan Kampung Sei Bambu, area yang berada lebih ke atas, masih di tepi aliran sungai itu. Diberi nama Sei Bambu karena memang banyak pohon bambu. Atau lebih ke atas lagi, ke area sungai yang banyak batunya diberi nama Kampung Sei Batu. Atau ke bawah mendekati muara, disebut Kampung Sei Keruh karena airnya memang sangat keruh.
Jadi, kalau Anda dari arah Medan menuju Lubupakam, Kampung Kentut ini berada di sisi kiri, dekat jembatan. Tepatnya di area sisi kiri sungai dan hanya terdiri atas 20-an rumah –tidak boleh lebih– tapi dihuni 30-an kepala keluarga alias KK. Artinya, ada satu rumah yang dihuni lebih dari satu KK. Ini karena anak yang telah menikah tinggal di rumah induk.
Rata-rata penghuni kampung ini bekerja di sebuah pabrik karet yang letaknya di seberang atau sisi kanan sungai. Adalah jamak ketika pagi mereka berjalan menyeberangi jembatan guna ke pabrik itu. Begitu juga petang, setelah alarm dibunyikan dari pabrik sebagai tanda jam kerja usai, mereka kembali menyeberangi jembatan untuk pulang. Mereka berjalan kaki, tak ada satu pun yang memakai kendaraan walau sekadar sepeda.
Aku tak mau cerita soal gaji atau honor mereka, apalagi kalau menyatakan pendapatan di bawah standar, nyatanya mereka nyaman-nyaman saja. Bahagia. Roman mereka pun tampak cerah, tak ada yang memiliki kening berkerut atau garis bibir menurun. Aku pun jarang mendengar ada yang menangis, kecuali anak-anak yang terkena pecahan beling atau tersandung batu. Kampung ini secara umum sangat aman dan nyaman.
Mungkin, ini karena rata-rata penduduknya bekerja di tempat yang sama, yakni pabrik karet itu. Pun, kampung ini dulunya adalah lahan kosong. Pihak pabrik, lewat centeng yang bertampang garang, menguasai lahan itu untuk digunakan sebagai tempat tinggal pekerja. Namun hanya lahan, bangunan adalah urusan pribadi si pekerja. Artinya, meski diusahai pihak pabrik karet, sejatinya kampung itu adalah swadaya dan bukan perumahan dinas.
Pekerja lain, yang jabatannya lebih mentereng, dapat rumah dinas di kawasan pabrik. Seperti kompleks perumahan; berbentuk sama, berbaris, dan memiliki warna cat yang sama. Sudah bisa Anda petakan seperti apa jabatan pekerja yang tinggal di Kampung Kentut ini?
Kampung ini dikepalai oleh Pak Mal, sosok paling senior dari sisi usia. Dia adalah generasi pertama yang tinggal di kampung itu. Rekan-rekan seangkatannya telah meninggal dan dia pun sudah tidak berkerja lagi di pabrik karet. Posisinya di pabrik karet itu digantikan oleh anak pertamanya. Anak kedua dan ketiganya juga kerja di pabrik itu. Dan ketiga anaknya itu sudah menikah, tapi masih tinggal bersama dengan Pak Mal. Itulah sebab rumah Pak Mal bisa dikatakan paling besar di kampung tersebut.
Rumah Pak Mal terbilang unik, pasalnya terlihat seperti empat rumah yang saling berlawanan arah. Rumah utama menghadap ke pabrik karet, jelas dihuni oleh Pak Mal. Rumah kedua menghadap ke jalan, ini dihuni anak pertama. Rumah anak kedua membelakangi pabrik karet, sedangkan anak ketiga memiliki bagian depan rumah yang membelakangi jalan. Namun, meski memiliki pintu di masing-masing arah, dapur di rumah itu tetap satu.
Rumah Pak Mal ini berbanding terbalik dengan rumah Pak Min. Posisinya adalah wakil kepala kampung. Dia juga senior kampung, tapi dari generasi kedua. Pak Min hanya memiliki seorang anak perempuan dan sudah menikah. Sang anak dan menantu juga tinggal di rumah Pak Min. Mereka belum punya anak walau sudah menikah tujuh tahun. Mereka menempati satu kamar di rumah Pak Min yang hanya memiliki dua kamar dan satu kamar mandi. Jadi, di rumah yang kecil itu ada dua KK. Uniknya, meski rumah kecil, rumah itu punya dua dapur: satu milik Pak Min dan satunya lagi milik sang anak.
Nah, anak Pak Min ini merasa cukup menjadi ibu rumah tangga alias tidak bekerja. Sementara sang menantu kerja di kota, tepatnya di sebuah percetakan undangan dan sablon. Menantu Pak Min ini bernama Jack, aslinya Zakaria, memiliki kegemaran bicara yang luar biasa. Dia sering jadi bintang ketika sedang nongkrong di warung tengah kampung.

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
7 Kuliner Cwie Mie Terenak di Malang, Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
Kasus Penipuan ASN di Gresik Menghadirkan Fakta Baru, Pegawai DPMD Mengaku Jadi Korban
Kronologi Kasus Pelecehan Seksual FH UI, 16 Mahasiswa Terduga Pelaku Disidang Terbuka
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
Momen Terduga Pelaku Pelecehan di FH UI yang juga Anak Polisi Dikonfrontasi Mahasiswa
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
Tak Perlu ke Jogja, 12 Tempat Kuliner Gudeg Ini Ada di Malang yang Juga Istimewa dan Rasanya Juara
12 Kuliner Nasi Pecel Enak di Jember, Perpaduan Sayur Segar, Rempeyek dan Bumbu Kacang yang Sedap
Jangan Ketinggalan! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia U-17 di Piala AFF U-17 2026
