
ILUSTRASI
”Masa depanmu mau jadi apa kalau nilaimu begini? Opo yo iso masuk perguruan tinggi negeri. Mbok hidupmu itu sing semangat.”
Saya letakkan transkrip nilai itu di atas meja dan pergi meninggalkannya di ruang makan. Sebetulnya saya sedih bicara demikian pada Rama. Tapi, demi kebaikan masa depannya saya harus lebih keras padanya. Meski begitu, berkali-kali saya menerima kekecewaan yang sama. Ketika sekolah dasar nilainya selalu buruk, yang paling menonjol hanya pelajaran menggambar, itu pun tidak bagus-bagus amat jika melihat lukisan teman-temannya yang lain. Sebagai ibu tentu saya memikirkannya, mengamati perkembangannya, apakah ada bakat lain yang luput dari pengamatan saya. Tapi, lagi-lagi yang saya temukan hanya kekecewaan.
Untuk menyenangkan saya, ia pernah punya kemauan keras meraih nilai terbaik ketika kelas VIII SMP. Setiap malam ia belajar dibantu oleh kakak-kakaknya, tapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Saya sedih sekaligus senang dengan upayanya itu. Hampir setiap malam saya berdoa kepada Tuhan supaya Rama diberi masa depan yang terbaik, tapi belum juga ada perubahan. Sementara kedua kakaknya sejak sekolah dasar selalu mendapat ranking. Yunita, kakaknya yang pertama, kini mendapat beasiswa kuliah pascasarjana di Australia. Sementara Doni bekerja di Jakarta setelah enam bulan lalu cum laude di salah satu universitas terbaik di Jogja. Sedangkan Rama, saya sudah berada di ambang keputusasaan. Apa ini yang dinamakan kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi.1
SEJAK suami saya meninggal, mereka memang berjanji tidak akan merepotkan saya. Gaji uang pensiun TU sekolah menengah pertama tentu tak bakal cukup untuk menguliahkan mereka. Namun, saya bersyukur ketika mendengar kabar Doni dan Yunita memperoleh beasiswa, sesuai apa yang dulu pernah dikatakannya bahwa mereka tidak akan merepotkan saya. Mereka patut diandalkan dalam pelbagai kondisi. Mereka adalah pantulan doa-doa saya yang dikabulkan Tuhan. Kecuali tentu saja Rama, bahkan kuliah pun ia tidak tahu mau masuk jurusan apa. Katanya, ia tidak mempunyai bakat terpendam seperti teman-temannya yang lain. Ia sendiri merasa aneh dengan dirinya sendiri, kenapa ia tidak ada minat apa pun yang ia senangi. Tapi, kemudian ia mengatakan bahwa ia senang jika berada di rumah. Benar-benar memusingkan.
Pada suatu malam yang entah kapan, saya memanggil Rama ke ruang makan. Saya katakan padanya, minggu depan ia harus berangkat ke Jogja untuk mendaftar kuliah. Alasannya tentu karena kedua kakaknya dulu kuliah di Jogja dan sukses. Sudah tentu ia tidak mau karena kesenangannya berada di rumah bakal terenggut. Padahal di rumah ia tidak melakukan apa pun. Semua pekerjaan rumah saya yang melakukan. Sekali dua kali memang pernah ia mencuci piring dan pakaian. Selebihnya ia akan berlama-lama di ruang makan, di sofa ruang tengah, sambil berkali-kali menanyakan kejadian-kejadian konyol masa kecilnya. Kemudian ia tersenyum, memeluk saya sambil mengatakan: ”Terima kasih, Bu. Maaf saya merepotkan Ibu.” Saya tidak ingin ia masuk terlalu dalam klangenan masa kecilnya.
”Air yang tidak mengalir akan berbau busuk. Kamu harus merantau. Daftar kuliah di Jogja.” Ia terdiam. Saya tahu ia sedih meninggalkan kesenangannya. Tapi, demi kebaikan masa depannya saya harus memaksanya.
”Pendaftaran tidak harus ke Jogja, Bu. Sekarang bisa online.”
”Kalau begitu kamu online di Jogja. Kamu daftar beberapa universitas, dari yang paling mustahil sampai yang mungkin. Semuanya harus dicoba.” Ia terdiam, cukup lama.
”Ibu sayang kamu. Ini demi kebaikan masa depanmu,” lanjut saya sambil kemudian memeluknya. Ia mengangguk.
Ketika Rama kelas XI SMA, saya pernah membawanya ke seorang kiai untuk meminta didoakan. Namanya Kiai Mukhlas. Saya tidak tahu persis berapa jarak rumah kami ke dusun tempat Kiai Mukhlas tinggal. Jika ditempuh perjalanan motor, sekira satu jam. Ketika sampai di rumah Kiai Mukhlas, kami disambut hangat oleh istrinya. Kami diminta untuk menunggu sebentar. Bu Nyai bilang sejak pagi Kiai Mukhlas berada di kebunnya. Saya dengar sayup-sayup Bu Nyai meminta anaknya untuk menjemput Kiai Mukhlas di kebunnya. Sebelum sempat anaknya menjemput, Kiai Mukhlas tiba-tiba muncul, kemudian berkata pada anaknya, ”Ada tamu, ya?” Kami di ruang tamu hanya mendengar lirih suaranya. ”Suruh tunggu sebentar, Bapak mau bersih-bersih dulu,” lanjutnya kemudian. Tidak berapa lama Bu Nyai datang menyuguhkan minuman, pisang, ubi rebus, dan beberapa stoples berisi makanan kering, lalu kembali masuk ke dalam.
Saya melihat ke sekeliling ruangan, rumahnya bersih dan menenangkan. Meskipun lantainya hanya diplester semen, temboknya putih dan tidak ada bangku, hanya tikar yang digelar lesehan. Pesantrennya kecil, barangkali hanya menampung lima puluh santri. Kabarnya pesantren ini gratis. Bahkan semua kebutuhan makan santri yang menanggung Pak Kiai. Konon sebagian penghasilan sawah dan kebunnya untuk menghidupi para santri. Menurut cerita ayah saya, juga beberapa orang di desa saya, dahulu dusun yang ditinggali Kiai Mukhlas ini terkenal dengan tempat berkumpulnya begal dan maling. Jarang sekali orang berani datang ke dusun ini, meski sekadar memancing di Kedung Iwak –sebuah danau yang kesohor dengan ikannya yang berlimpah. Kabarnya ikan-ikan di danau itu sengaja ditaruh warga untuk memancing orang datang memancing. Benar kata orang tua dahulu, untuk memancing memang butuh umpan.
Beberapa orang pernah terpancing datang, umpan disambar motor pun hilang. Jadi, bagi orang yang sudah tahu tabiat kampung ini, akan ciut nyali. Tapi, sejak ayahnya Kiai Mukhlas, yaitu Kiai Zamroni, menetap di dusun ini, banyak orang datang ke sini. Bukan sekadar memancing, tapi untuk menemui –lebih tepatnya meminta perlindungan– Kiai Zamroni. Tidak jarang para pemancing akan lebih dulu bertamu ke Kiai Zamroni dengan tujuan mencari selamat dari gerombolan bandit sebelum kemudian mereka melakukan kegiatan memancingnya. Sebab, santri pertama Kiai Zamroni adalah anak dari juragan para bandit. Hal ini tentu membuat nyali mereka kecut. Hingga kemudian banyak bandit yang beroperasi di luar dusun mereka dan kebanyakan dari mereka memilih memesantrenkan anak mereka ke Kiai Zamroni ketimbang ke sekolah umum. Alasan utamanya tentu karena pesantrennya gratis.
Tidak berapa lama Kiai Mukhlas datang menyapa kami. Ia mempersilakan kami untuk minum. Saya minum beberapa teguk. Sementara anak saya hanya diam. Sebetulnya saya tidak tega melihatnya murung begitu. Saya sempat mengurungkan niat, tapi segera saya menepisnya. Saya kembali memantapkan niat. Siapa tahu berkat wasilah Kiai Mukhlas, Rama akan berubah. Dengan memakai baju koko putih, sarung motif kotak-kotak, dan kopiah hitam, Kiai Mukhlas memandang kami berdua seperti menunggu maksud kedatangan kami.
”Namine sinten niki? Dari mana?”

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
