Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Mei 2024 | 15.31 WIB

Makelar Bandit Tolchopo

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Mereka kemudian mengangguk setuju.

Kami tidak berjabat tangan setelah itu. Tetapi sepakat dengan apa yang kami bicarakan. Para bandit kemudian meninggalkan rumah tanpa menenggak minuman yang disajikan Jorge. Saya pikir itu kebiasaan buruk para bandit yang tidak tahu tata krama saat bertamu.

”Tuan, apakah aku harus mengantarkan lima sapi itu ke mereka?” tanya Jorge dan dengan cepat saya menjawab tidak. Saya katakan pada Jorge, bandit tidak pernah melakukan negosiasi. ”Komplotan bandit hanya tahu memeras dan menembakkan pistol! Dan apa yang ditunjukkan Bandit Tolchopo barusan adalah penyelesaian ala makelar. Karena itu, mereka lebih pantas dibayar upah seorang makelar ketimbang bandit.”

”Berapa upah makelar, Tuan?”

”Saya tidak tahu, Jorge. Tetapi untuk makelar seperti mereka, saya rasa pantas dibayar lima potong daging sapi busuk!”

”Empat saja, Tuan. Saya pikir empat cukup. Masing-masing pantas mendapat satu potong daging busuk.”

Saya dan Jorge tertawa.

Kemudian kami menyiapkan daging sapi busuk serta menggali empat lubang sebagai tempat tujuan kami mengantarkan daging. Ketika semua siap dan gerimis turun, kami bergerak cepat dan tak banyak berbicara. Semua orang tahu bagaimana ini berakhir. (*)

---

BERI HANNA, Penulis dan arsiparis liar

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore