Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 April 2024 | 14.54 WIB

Genderuwo

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Kenapa? Kau bisa memikirkannya sendiri. Perhatikan saja mereka...”

Aku memperhatikan satu per satu orang-orang yang tak henti-hentinya makan. Mereka makan dengan membabi buta, melahap tanpa jeda semua hidangan yang juga terus-menerus ditambah. Mula-mula aku merasa tak mengenal mereka, tapi setelah kuamat-amati aku mulai merasa mengenal mereka. Namun, aku tidak ingat di mana pernah bertemu mereka. Kecuali seorang laki-laki yang duduk di salah satu meja. Ia tak lain adalah Leo Tansil, mertuaku.

Aku merinding. Suatu perasaan aneh menyelubungiku. Tempat apa ini. Kenapa mertuaku ada di sini. Aku mau menggebrak Elyas saat tiba-tiba ruangan jadi hening. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Dari arah tirai merah di sudut jauh sana, muncul seorang bocah laki-laki. Ia berpakaian jas resmi dengan dasi kupu-kupu. Mukanya pucat seperti kebanyakan bedak, tapi bibirnya merah. Ia melompat-lompat dan menggerak-gerakkan sikunya seperti sedang menari.

Seorang laki-laki lain, yang bertubuh luar biasa jangkung, tiba-tiba bersuara. Tampaknya ia adalah pemandu acara. Ia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti, tapi dapat kupahami bahwa ia memperkenalkan si bocah kepada hadirin sebab kemudian si bocah membungkuk lalu kembali melompat-lompat mendekati sebuah mimbar yang dari tadi tidak kuperhatikan. Bocah itu berdiri di mimbar seperti seorang pejabat.

Elyas mendekat dan berbisik di telingaku: ”Itu genderuwo...”

Aku tak menanggapi. ”Dan kautahu siapa dia sebenarnya?” tanya Elyas.

Sebetulnya tidak ada pentingnya aku mengetahui siapa bocah yang disebutnya genderuwo itu. Keseluruhan situasi itu dengan sendirinya telah membuatku merasa gila. Aku bahkan berpikir-pikir apakah sate yang kumakan tadi sudah dicampur bahan kimia tertentu. Aku sedang mencalonkan diri jadi anggota dewan, pasti ada musuh yang diam-diam ingin menghancurkanku. Mungkin Elyas sudah dibayar pihak lawan untuk melaksanakan itu.

”Maksudmu?” tanyaku akhirnya.

”Perhatikan…”

Setelah beberapa kata pembuka yang juga tak kumengerti, bocah di mimbar memanggil seseorang. Ruangan serentak riuh oleh lolongan, raungan, kaok-kaok menyeramkan dari mulut semua orang di ruangan itu. Lantas mereka semua kembali melahap dengan ugal-ugalan semua makanan seolah-olah mereka sedang mengiringi orang yang dipanggil itu maju ke mimbar. Seseorang kembali muncul dari balik tirai merah, sebagaimana bocah tadi. Saat kuamat-amati orang yang kemudian maju ke mimbar itu, aku tercengang. Ia seorang perempuan jelita. Dan ia tidak lain adalah Dama Tansil, istriku.

”Genderuwo itu anakmu...” bisik Elyas sekali lagi.

Aku tidak peduli lagi apa yang dikatakan atau akan dikatakan Elyas. Sekarang aku sungguh-sungguh tidak tahan lagi. Aku merasa lapar, sangat lapar. Aku mau makan. Aku harus makan. Aku harus melahap semua makanan di ruangan itu, secepatnya, sekenyang-kenyangnya. (*)

---

KIKI SULISTYO, Lahir di Ampenan, Lombok. Buku puisinya, Tuhan Padi, meraih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek (2023). Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Musik Akhir Zaman (Indonesia Tera, 2024).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore