
ILUSTRASI
”Kenapa? Kau bisa memikirkannya sendiri. Perhatikan saja mereka...”
Aku memperhatikan satu per satu orang-orang yang tak henti-hentinya makan. Mereka makan dengan membabi buta, melahap tanpa jeda semua hidangan yang juga terus-menerus ditambah. Mula-mula aku merasa tak mengenal mereka, tapi setelah kuamat-amati aku mulai merasa mengenal mereka. Namun, aku tidak ingat di mana pernah bertemu mereka. Kecuali seorang laki-laki yang duduk di salah satu meja. Ia tak lain adalah Leo Tansil, mertuaku.
Aku merinding. Suatu perasaan aneh menyelubungiku. Tempat apa ini. Kenapa mertuaku ada di sini. Aku mau menggebrak Elyas saat tiba-tiba ruangan jadi hening. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Dari arah tirai merah di sudut jauh sana, muncul seorang bocah laki-laki. Ia berpakaian jas resmi dengan dasi kupu-kupu. Mukanya pucat seperti kebanyakan bedak, tapi bibirnya merah. Ia melompat-lompat dan menggerak-gerakkan sikunya seperti sedang menari.
Seorang laki-laki lain, yang bertubuh luar biasa jangkung, tiba-tiba bersuara. Tampaknya ia adalah pemandu acara. Ia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti, tapi dapat kupahami bahwa ia memperkenalkan si bocah kepada hadirin sebab kemudian si bocah membungkuk lalu kembali melompat-lompat mendekati sebuah mimbar yang dari tadi tidak kuperhatikan. Bocah itu berdiri di mimbar seperti seorang pejabat.
Elyas mendekat dan berbisik di telingaku: ”Itu genderuwo...”
Aku tak menanggapi. ”Dan kautahu siapa dia sebenarnya?” tanya Elyas.
Sebetulnya tidak ada pentingnya aku mengetahui siapa bocah yang disebutnya genderuwo itu. Keseluruhan situasi itu dengan sendirinya telah membuatku merasa gila. Aku bahkan berpikir-pikir apakah sate yang kumakan tadi sudah dicampur bahan kimia tertentu. Aku sedang mencalonkan diri jadi anggota dewan, pasti ada musuh yang diam-diam ingin menghancurkanku. Mungkin Elyas sudah dibayar pihak lawan untuk melaksanakan itu.
”Maksudmu?” tanyaku akhirnya.
”Perhatikan…”
Setelah beberapa kata pembuka yang juga tak kumengerti, bocah di mimbar memanggil seseorang. Ruangan serentak riuh oleh lolongan, raungan, kaok-kaok menyeramkan dari mulut semua orang di ruangan itu. Lantas mereka semua kembali melahap dengan ugal-ugalan semua makanan seolah-olah mereka sedang mengiringi orang yang dipanggil itu maju ke mimbar. Seseorang kembali muncul dari balik tirai merah, sebagaimana bocah tadi. Saat kuamat-amati orang yang kemudian maju ke mimbar itu, aku tercengang. Ia seorang perempuan jelita. Dan ia tidak lain adalah Dama Tansil, istriku.
”Genderuwo itu anakmu...” bisik Elyas sekali lagi.
Aku tidak peduli lagi apa yang dikatakan atau akan dikatakan Elyas. Sekarang aku sungguh-sungguh tidak tahan lagi. Aku merasa lapar, sangat lapar. Aku mau makan. Aku harus makan. Aku harus melahap semua makanan di ruangan itu, secepatnya, sekenyang-kenyangnya. (*)
---
KIKI SULISTYO, Lahir di Ampenan, Lombok. Buku puisinya, Tuhan Padi, meraih Penghargaan Sastra Kemendikbudristek (2023). Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Musik Akhir Zaman (Indonesia Tera, 2024).

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
