Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 April 2024 | 14.54 WIB

Genderuwo

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Aku berpikir sejenak. Jalan Irian seperti sayatan kecil bagi Jalan Veteran yang lebih besar. Orang jarang melewati Jalan Irian sebab jalan itu bukan jalan pintas. Ujungnya adalah areal pemakaman tua yang terletak di mulut perkampungan yang warganya banyak bekerja sebagai pembuat batu nisan.

”Sepertinya tidak bisa. Aku harus segera pulang. Istriku sedang hamil besar. Ia tentu tidak bisa ditinggal lama-lama,” jawabku.

”Sebentar saja. Takkan menghabiskan waktu terlalu lama. Tempatnya dekat dan kita cuma akan melihat-lihat dari luar.”

Sejak dahulu aku memang tidak bisa menolak ajakan Elyas. Untuk hal itu, aku juga tidak tahu apa sebabnya. Elyas seperti punya daya sihir untuk melemahkan penolakanku. Maka setelah makan, setelah Elyas memesan lagi seporsi nasi goreng dan semangkuk mi kuah dan segera menghabiskannya, berangkatlah kami ke rumah yang dimaksudkannya. Elyas menumpang mobilku sebab ia ternyata tidak membawa kendaraan.

”Perhatikan di jendela itu…” kata Elyas lagi. Maka kuperhatikan jendela yang gordennya terbuka. Tidak ada yang aneh, kecuali lampu yang menyala, berbeda dengan lampu-lampu lain di rumah itu. ”Itu dia...” kata Elyas lagi. Namun, aku tak bisa melihat dia yang dimaksudkannya itu.

”Ayo kita lihat lebih dekat,” tiba-tiba Elyas menarik tanganku; mengajakku turun dari pohon. Aku tak sempat menolak. Sampai di bawah, Elyas terus menyeretku sampai di gerbang rumah itu, dan tanpa bertanya terus membawaku ke satu bagian di sudut dinding pagar. Di sana ternyata ada sebuah pintu kecil. Elyas menarikku masuk. Aku tergagap-gagap. ”Apa yang kaulakukan? Kau mau apa?” tanyaku.

”Ayo masuk. Sebentar saja. Kita langsung pulang setelah kau bisa melihat orang itu dengan lebih jelas.”

Aku masuk. Sampai di halaman yang luas, kembali tanpa bertanya Elyas menghambur ke pintu utama. Terpaksa aku mengikutinya. Pintu tidak dikunci, atau Elyas telah memakai kunci lain untuk membukanya, aku tidak begitu tahu. Yang jelas kemudian kami sudah ada di dalam rumah.

Bagian dalam rumah itu sangat luas, sampai-sampai terasa aneh. Kalau dilihat dari luar, tidak mungkin ruangan dalam rumah bisa seluas itu. Meskipun lampu tidak menyala, aku dapat melihat ruangan itu nyaris tanpa perabotan, kecuali beberapa topeng yang tertempel di dinding. Elyas mengendap-endap menuju tangga. Sekali lagi aku terpaksa mengikutinya. ”Hati-hati,” ujarnya. Baru kulihat di anak tangga ada terbentang kawat-kawat berduri.

Sampai di lantai dua; lantai tempat jendela yang kami saksikan tadi berada, ruangan terlihat lebih luas lagi. Elyas bergerak menuju pintu, satu-satunya pintu di ruangan itu.

”Ayo…” bisiknya ketika aku cuma diam di bibir tangga.

Elyas membuka pintu dan menarik tanganku. Kami masuk.

Di ruangan itu lampu memang menyala sehingga ruangan terang benderang. Ada banyak meja, dan tiap meja penuh oleh berbagai makanan. Kursi-kursi di sekeliling tiap-tiap meja juga dipenuhi orang. Sangat banyak orang sampai-sampai aku merasa sedang berada di sebuah pasar malam, atau pesta besar. Mereka semua seperti tidak melihat kemunculan aku dan Elyas. Tiba-tiba aku teringat sebuah pesta besar. Pesta perkawinan yang tak lain adalah pesta perkawinanku sendiri dengan Dama Tansil, anak pemilik perusahaan Tansil Group.

”Lihat mereka. Seperti inilah yang kutemukan ketika aku dibawa dulu,” ucap Elyas.

”Tapi…” ucapku, ”kenapa kau mengajakku kemari?”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore