
ILUSTRASI
Oleh T. AGUS KHAIDIR
---
Inilah yang selalu menjadi rindu saat berada jauh. Bebauan sedap dari dapur Mak. Terlebih di hari-hari Ramadan dan aku tak berkesempatan pulang. Bebauan itu sekonyong-konyong saja muncul entah dari mana; menyergap hidung, membelai ingatan, menguar kenangan yang kemudian menjelmakan berbagai komposisi hidangan di meja makan.
TIAP kali rindu tiba di puncak yang kulakukan adalah memejam dan membiarkan bayangan hidangan-hidangan itu menari-nari di pelupuk mataku. Bubur pedas, anyang pakis, pajri nenas. Betapa menyelerakan!
Tak kalah sering hadir gulai masam ikan senangin. Berlemak nian padahal tanpa santan, dengan rasa kincung tipis-tipis yang memesona. Lalu ayam kari, ikan pari sambal belacan, gulai ikan salai dan daun ubi tumbuk, dan sudah barang tentu kerang masak tauco petai siapa bisa melupa? Kerangnya yang segar, tauco yang membawa aksen gurih-manis, dan pastinya, aroma petai yang ciamik melambai-lambai. Alahai!
Maka memang nyaris tak bisa kutahan gejolak perasaan tatkala hidungku menangkap bebauan yang sangat khas. Aku melonjak dari kasur. Seketika lelahku lesap. Penat dan terak-rerak badan jejak perjalanan panjang tujuh setengah jam: Taipei–Kuala Lumpur–Medan, dilanjutkan kurang lebih 45 menit menumpang bus bandara yang penuh sesak, seperti hilang tak berbekas.
Namun, langkahku segera surut. Mak tidak sendirian di dapur. Adikku, Laila, berdiri tak jauh darinya. Kulihat air mukanya keruh.
”Mak untuk apa masak begini banyak?” tanyanya.
Dua tungku kompor menyala. Mak melepas daging durian dari bijinya, memasukkannya ke panci, lantas mengaduk-aduknya bersama santan yang dilarutkan dengan gula pasir, gula aren, sedikit garam, dan beberapa helai daun pandan. Bebauan yang tercium sampai ke kamar berasal dari sini. Kinca durian mengental seiring tambahan tepung maizena.
Tutup kukusan di tungku yang lain terbuka, membubungkan asap tipis yang mengirim aroma yang sungguh tiada kalah memukau. Aroma ketan disiram santan. Juga harum pandan.
”Kau lupa hari ini giliran kita menyediakan makanan berbuka di masjid?”
Wajah Laila makin keruh dan mulai memucat pula. Ia memandangku sembari mengempas napas. Gesturnya serbasalah.
Baca Juga: Jalawastu
Ah, ya, ya. Kira-kira lima bulan lalu, lewat telepon, Laila bercerita penuh semangat, sebelum akhirnya, di ujung percakapan, memintaku mengontak Ayah.
”Abang besar-besarkan, lah, sedikit hati Ayah. Supaya naik lagi semangatnya.”
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Valencia vs Real Betis di Liga Spanyol: Tuan Rumah Kesulitan Menang!
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor Bodo/Glimt vs NEC Nijmegen di Kualifikasi Liga Champions: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor LASK Linz vs Celtic di Kualifikasi Liga Champions: Kans Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Sabah vs Hapoel Be'er Sheva di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027
Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
