
ILUSTRASI
Oleh KRH SASTRONAGORO
Agama dan kebudayaan merupakan dua hal yang memiliki keterkaitan. Sebagai sebuah realitas historis, agama dan kebudayaan dapat memengaruhi satu sama lain karena keduanya memiliki nilai dan simbol. Ada korelasi intim antara agama dan kebudayaan.
DENGAN kebudayaan, agama akan sampai pada nilai-nilai praktis di masyarakat. Sementara itu, dengan agama, kebudayaan mempunyai batasan-batasan untuk tidak melanggar norma-norma yang berkaitan dengan ketuhanan.
Dalam hal ini, agama tidak perlu dibentur-benturkan dengan kebudayaan. Sebaliknya, agama dan kebudayaan bisa berjalan beriringan. Saat ini masih banyak ditemukan masyarakat Islam yang memegang teguh peninggalan leluhur berupa budaya lokal. Sebagaimana yang dapat kita temui di Jalawastu, sebuah kampung budaya yang masuk kawasan Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah.
Upacara Ngasa
Upacara ritual adat adalah ritual bentuk segala rasa hormat kepada Tuhan, dewa, leluhur, dan roh-roh. Menurut Koentjaranigrat, upacara religi atau ritual adalah wujudnya sebagai sistem keyakinan dan gagasan tentang Tuhan, dewa-dewa, roh-roh halus, neraka, surga, dan sebagainya. Masih ada ritual tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Jalawastu sebagai ungkapan pengakuan akan eksistensi suatu kekuasaan yang diyakini oleh masyarakat tersebut, yang melebihi kemampuan manusia. Ritual itu bernama upacara ngasa. Upacara ini digelar di sebuah halaman luas yang terletak di dalam hutan adat Dusun Jalawastu yang disebut dengan pesarean gedong atau pagedongan.
Upacara ini dimaksudkan sebagai wujud ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diberikan Tuhan berupa hasil-hasil bumi. Untuk itulah, masyarakat membawa hasil hutan untuk dimakan bersama-sama. Hasil hutan yang dimaksud adalah nasi jagung, uwi, gembili, bentul, ketela, kentang, kacang, dan pisang. Lauk-pauknya terdiri atas dage (bungkil kacang), sayur-mayur, dan sambal (tanpa terasi karena dilarang menggunakan sumber hewani).
Upacara ini dipimpin oleh seorang kuncen atau juru kunci yang bertugas memimpin jalannya upacara dan membacakan doa ngasa. Bacaan doa tersebut berbahasa Sunda kuno karena masyarakat Jalawastu pada mulanya adalah Sunda Wiwitan. Bentuk dari upacara itu adalah ngasa-ngasa atau mencicipi nasi jagung, di mana ibu-ibu Jalawastu membawa nasi jagung dan lauk-pauk yang digunakan sebagai sesajen. Pengaruh agama Hindu-Buddha masih terlihat, misalnya pembakaran kemenyan saat berdoa. Hal ini lantaran sebelum agama Islam masuk telah ada pengaruh agama Hindu-Buddha terhadap penduduk asli Jalawastu.
Pada rangkaian pelaksanaan upacara ngasa, terdapat beberapa bentuk ritual yang masih dilaksanakan, yang dimulai dari ritual bersih desa, perang centong, arakan gunungan, ciprat tirta suci, doa ngasa, dan diakhiri dengan makan bersama hidangan nasi jagung. Upacara ngasa dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon, yang dimulai pada pukul 06.00 pagi hari. Biasanya, dua hari sebelum pelaksanaan, warga bergotong royong mengadakan bersih desa guna membersihkan area yang akan digunakan untuk upacara ngasa.
Islamisasi Jalawastu
Salah satu rangkaian kegiatan upacara ngasa adalah pertunjukan tarian perang centhong yang dilakukan oleh dua orang laki-laki dewasa. Menurut keyakinan masyarakat Jalawastu, perang centhong adalah simbolisme dari konflik dua bersaudara, yaitu Gandasari dan Gandawangi, berkaitan dengan masuknya Islam di Jalawastu. Gandasari tidak bersedia menerima agama Islam, sedangkan Gandawangi bersedia mengikuti agama Islam.
Untuk merumuskan keputusan masyarakat Jalawastu akan memeluk agama Islam atau tidak, dilakukan adu kesaktian di antara kedua bersaudara tersebut, dengan konsekuensi pihak yang kalah harus keluar dari Jalawastu. Akhirnya, pertempuran tersebut dimenangi oleh Gandawangi. Dengan demikian, masyarakat Jalawastu akan menerima agama Islam dan Gandasari beserta pengikutnya akan keluar dari Jalawastu. Namun, sebelum pergi, Gandasari berpesan agar Gandawangi menjaga adat budaya dan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Itu sebabnya Gandawangi dan pengikutnya di Jalawastu memeluk agama Islam, tetapi tetap mempertahankan tradisi leluhur sesuai janjinya, termasuk menyelenggarakan tradisi ngasa.
Upacara ngasa menjadi identitas yang terus dipertahankan oleh masyarakat Jalawastu. Menurut salah satu tokoh sesepuh Jalawastu, Ki Dastam, ngasa menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Jalawastu yang meyakini bahwasanya mereka merupakan keturunan Sunda Wiwitan. Meskipun masyarakatnya memeluk agama Islam, kepercayaan itu diwariskan turun-temurun lewat tradisi tutur Jalawastu.
Ngasa di Bulan Puasa
Ngasa diambil dari akronim Jawa, yaitu mangsa kasanga, yang berarti bulan kesembilan dalam kalender Jawa, sehingga pelaksanaannya tepat pada hari Selasa Kliwon kesembilan, yaitu di bulan Maret. Tahun ini upacara ngasa bertepatan dengan bulan Ramadan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, upacara ngasa di bulan puasa dilakukan dengan sederhana. Bukti bahwa masyarakat Jalawastu adalah penganut Islam yang taat adalah tetap menjalankan puasa Ramadan meski ada perayaan ngasa. Biasanya, selepas pembacaan doa, masyarakat yang menghadiri upacara langsung makan bersama di pesarean gedong. Namun, karena sedang puasa, hidangan yang biasanya dimakan langsung dibungkus dan dibawa pulang. Sebab, mereka percaya bahwa makanan yang telah didoakan akan memberikan keberkahan.

Ernando Ari dan Bruno Moreira Absen! Ini Starting Line Up Persebaya Surabaya vs Persita Tangerang di Gelora Bung Tomo
Imran Nahumarury Angkat Bicara Usai Semen Padang Kalah dari Persib Bandung
9 Tempat Nasi Padang di Surabaya dengan Rasa Paling Juara Cocok untuk Makan Bareng Keluarga
Viral Mahasiswi Universitas Budi Luhur Mengaku Dilecehkan Oknum Dosen: Pelaku Dinonaktifkan tapi Tetap Digaji
12 Tempat Kuliner Soto Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih
Samsung Rilis Galaxy A07 5G di Indonesia, Andalkan Baterai 6.000 mAh untuk Aktivitas Seharian
Kronologi Operasi Penyelamatan Pilot Jet Tempur F-15E Milik Amerika di Iran: Misi Rahasia AS di Balik Garis Musuh
Jadwal ASEAN Futsal Championship 2026 Timnas Indonesia vs Brunei, Siaran Langsung, dan Live Streaming
Masih Kekurangan Pegawai Terutama Guru, Pemkab Gresik Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK, Belanja Pegawai Hanya 29 Persen
8 Rekomendasi Lontong Balap Legendaris di Surabaya: Kuliner Ikonik dengan Cita Rasa Otentik
