Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Februari 2024 | 15.18 WIB

Mengganti Nama dengan Mesin Waktu

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh SURYA GEMILANG

---

Bermasalah dengan orang kaya akan membuatmu gila –atau minimal kewarasanmu dipertanyakan. Di pangkalan ojek daring, kami mempertanyakan kewarasan salah satu rekan kami: Budi Jaya –yang dari dulu kami kenal sebagai Budi Jaya, tapi ia mengaku, ”Beberapa saat lalu, namaku Surya Jaya! Kalian benar-benar tak ingat?”

Ia bersikeras bahwa kami melupakan nama aslinya gara-gara perjalanan lintas waktu yang ia alami beberapa saat lalu. Cerita tentang perjalanan lintas waktu tersebut, tentu saja, membuat kami semakin mempertanyakan kewarasannya –terlebih ia menceritakan kisah tak bernalar itu tanpa menampakkan intensi bercanda.

***

Pagi tadi Budi Jaya –maksudku semasih namanya Surya Jaya (menurutnya)– mengantarkan seporsi soto ayam tujuh puluh ribu rupiah ke sebuah kompleks perumahan elite, yang portal depannya dijaga dua pria berseragam biru gelap dengan pistol terselip di pinggang. Suara kepadatan lalu lintas tak menembus kompleks itu. Hanya terdengar suara motor Surya Jaya yang melintasi barisan rumah bertingkat tiga sampai empat, dengan pos satpam di setiap gerbangnya, plus satpam-satpam yang menatapnya curiga. Surya Jaya berhenti di hadapan rumah paling ujung, rumah bertingkat empat dengan gerbang hitam berkilau setinggi dua kali tubuhnya. Di gerbang itu tertulis, dengan cat emas dan huruf-huruf sebesar dada orang dewasa, sebuah nama: Surya Kencana. Persis nama pemilik akun yang memesan soto ayam tujuh puluh ribu rupiah.

Gerbang terbuka sedikit, menjauhkan Surya dari Kencana beberapa sentimeter, dan dari celah gerbang mengintip sepasang mata. ”Jaya?” tanya seorang satpam.

Tak pernah ada yang memanggilnya Jaya; orang-orang memanggilnya Surya –setidaknya ia merasa begitu, walau seingat kami panggilannya selalu Budi. Bagaimanapun, karena Jaya adalah bagian dari namanya, ia mengiyakan pertanyaan si satpam, yang segera membuka gerbang lebih lebar dan berkata, ”Silakan parkir motor di dalam. Tuan Surya ingin bercakap-cakap.”

Surya Jaya terdiam sesaat. Belum pernah ada pemesan yang ingin bercakap-cakap terlebih dahulu dengannya. Mungkin Surya Kencana ingin sekadar berbasa-basi sebagai sesama Surya.

Surya Jaya pun memarkir motor di halaman rumah Surya Kencana, halaman dengan permukaan batu sikat bermotif bunga-bunga. Setelah Surya Jaya menurunkan standar motor, dari pintu beranda keluar seorang wanita berjas dengan rambut pirang bondol. ”Jaya?” tanya si bondol, formal, dan Surya Jaya mengangguk. Wanita itu mengambil soto ayam dari cantolan motor Surya Jaya dan memintanya ikut ke ruang dalam karena, ”Tuan Surya ingin menemuimu.”

Ruang depan dipenuhi lukisan-lukisan seorang pria yang sama –bertubuh gempal pendek dan tersenyum miring dan bertatapan menghina –dengan pose berbeda-beda: dari duduk di sofa dengan satu kaki di atas kaki lain, duduk di balik meja kerja seraya menghitung uang, hingga duduk di atas tumpukan uang. Dari segi hal-hal lain, ruang depan membuat Surya Jaya merasa begitu miskin hingga tak layak bernapas. Bagaimanapun ia terus mengikuti si bondol; ruapan aroma melati dari lantai membuatnya membayangkan kuburan; mereka menaiki tangga tiga kali hingga lututnya berdenyut-denyut, dan tibalah mereka di depan sebuah pintu ganda hitam mengilap, dan si bondol mengetuk sebelum membukanya –aroma cerutu menyerbu keluar bersama dingin pendingin ruangan.

Di dalam sana, di ruang temaram yang hanya diterangi cahaya kuning lampu berdiri, duduklah seorang pria berjas hitam yang lukisannya memenuhi ruang depan, kedua kakinya bertumpu di meja jati, cerutu di sela bibirnya menyala. Apa yang membedakan wajahnya dengan lukisan-lukisan itu adalah tak ada senyum menghina di sana –jelas ia menahan kemarahan hingga sesekali terdengar dengus napasnya. Mudah ditebak: ialah Surya Kencana.

”Silakan masuk,” kata si bondol. Kemudian, kepada sang tuan, si bondol berkata, ”Soto ayamnya akan saya siapkan di ruang makan, Tuan. Terima kasih.”

Surya Kencana tak berkata apa-apa. Surya Jaya pun ragu-ragu memasuki ruangan; si bondol mengunci pintu di belakangnya. Tak ada kursi lain selain yang pria gempal itu duduki, sehingga Surya Jaya hanya berdiri canggung di hadapan meja jatinya.

”Kau tahu arti dari Surya?” tanya Surya Kencana, berat dan serak dan dingin.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore