Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Januari 2024, 15.43 WIB

Koda

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Oleh SILVESTER PETARA HURIT

---

Orang boleh membunuh raga mencabut nyawa, namun tak kuasa membinasakan koda. Koda menghadirkan dirinya kepada siapa ia berkenan. Orang-orang biasanya menantikan kehadirannya dalam setiap generasi. Kali ini ia mewujud di sekujur tubuh dan kesadaran Eba, anak berusia 3 tahun.

KODA telah disimpan di dasar hati, di kedalaman sanubarinya. Tinggal waktunya ia akan menyembul ke luar seperti mata air. Mengalir tak habis-habis. Saya sudah melihat cahayanya,” kata Ba Sina tentang Eba.

Ketika hidup susah, kesulitan terus datang, orang mendoakan kelahiran baru dan berharap satu di antaranya diberkahi alam dan leluhur dengan koda.

”Jaga anak ini baik-baik. Jangan bawa dulu ke tempat ramai, apalagi ke kampung orang.” Itulah pesan terakhir Ba Sina beberapa hari sebelum ia menutup mata untuk selamanya. Ba Sina merasa tenang untuk pergi karena telah melihat tanda itu pada Eba. Bahwa telah lahir kekasih alam. Ia yang kepadanya alam berkenan. Padanya segenap kekuatan leluhur membenum.

Orang-orang di masa sebelum masuknya agama dari luar mengenal kehidupan melalui tanda-tanda alam. Ba Sina adalah generasi terakhir yang masih sangat percaya dan memandang suci koda. Orang sekolahan hari ini menyebutnya dengan puisi lisan. Namun, sebutan itu tak memadai. Koda lebih semacam sabda rahasia atau mantra yang diwahyukan alam.

Tipis sekali batas antara koda dan kenyataan. Ama Tueng menyaksikan dengan mata kepala sendiri waktu banjir besar 10 tahun silam. Gemuruh dari arah gunung begitu menakutkan. Ia mengikuti Ba Sina yang bergerak cepat seperti angin mendekat ke kaki gunung. Ba Sina merapalkan koda. Banjir terbelah jadi dua. Mengalir ke sisi terluar kampung. Ia mengambil ruren, sejenis suling ganda, memainkannya. Tak lama volume air turun sehingga tak sampai merusak kebun sayur warga yang membentang di pinggir pantai.

Tidak hanya itu. Ketika gerombolan besar tikus menghabisi ladang jagung milik warga 8 tahun silam, Ba Sina meminta dirinya menangkap hidup sepasang tikus paling besar untuk kemudian dibawa ke rumah adat. Kedua tikus tersebut diperlakukan sebagai raja dan ratu. Sepanjang malam ia minta warga berkumpul dan menari. Koda dikisahkan lewat nyanyian. Begitu fajar menyingsing, keduanya diarak dalam miniatur sampan berisi segala perbekalan menuju laut. Kembali ke tempatnya. Sejak itu tak seekor pun tikus terlihat di ladang warga.

Ketika menggendong untuk kali pertama bayinya, kepada roh gunung dan bukit-bukit Ama Tueng menyeru, ”Semoga Eba tumbuh sekokoh gunung dan kebaikannya meluap sampai ke pantai. Napasnya seperti guntur kilat dan tenaganya gempa bumi.” Doa yang tak henti-henti ia panjatkan.

Setiap mendekap Eba berkelebat bayangan akan sekian kisah pengkhianatan terhadap leluhurnya. Terakhir terhadap Ama Nara kakeknya yang ditawan kompeni dan tak tahu kabar beritanya sampai hari ini. Menjaga dan memegang teguh koda bukan tanpa musuh. Kampung ibarat rumah. Penjaga koda adalah tuan rumah. Kalau ada yang berniat jahat, semisal pencuri atau perampok, tentu tuan rumah jadi target utama untuk disingkirkan.

***

”Anaknya Ama Tueng itu bakal lebih dari Ba Sina,” kata seorang tetua adat.

”Cahayanya menjulang sampai ke langit. Jika ia tumbuh besar dan kemampuannya berkembang sempurna akan sangat berbahaya,” tambah yang lain.

”Akan jadi masalah jika segala yang telah ditutup rapi selama beberapa generasi kelak ketika besar ia nyatakan secara terang benderang. Ia mewarisi keberanian para leluhurnya,” sambung yang lainnya lagi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore