
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Makanlah babi tanpa perlu dibakar, rebus, atau goreng. Begitu menangkapnya, cekik lehernya, pukul kepalanya dengan batu atau kayu, atau banting ke pohon-pohon besar sampai terjulur lidahnya hingga mampus. Lalu patahkan kaki-kakinya, cabik-cabik perutnya dengan taring, lalu kunyahlah dengan penuh kenikmatan. Jangan sisakan bagian isi perut dan jantungnya karena di situlah letak kenikmatan yang sesungguhnya.
---
BERCERITALAH tetua dusun kepada saya, ada tiga nama yang berani makan babi tanpa lebih dulu membuatnya mampus. Mereka adalah Balago, Bagantum, dan Bantamu. Saat melihat babi hitam di dalam hutan yang tengah memakan kotoran, mereka bertiga merayap-rayap. Babi hitam itu tidak sadar dan asyik sendiri dengan kotoran di depan moncongnya. Juga Balago, Bagantum, dan Bantamu tidak sadar dan asyik sendiri memperhatikan paha babi hitam berbulu itu amat menggoda, tanpa sadar babi hitam itu ternyata tak sendirian.
Tanpa diduga, setelah tiga mulut menyerang paha, buntut, dan perut babi hitam itu, sekawanan babi lain yang sembunyi di semak bermunculan, mengamuk. Mereka menyeruduk hingga menerbangkan tubuh Balago, Bagantum, dan Bantamu. Sempat terjadi pertarungan duel satu orang melawan satu babi, tetapi tinju-tinju yang melayang tak berarti apa-apa bagi babi-babi berkulit tebal itu.
”Apa tujuan memakan babi hidup-hidup?” tanya saya.
”Konon,” kata tetua yang duduk bersila di atas batu, ”mereka yang berhasil memakan babi hidup-hidup akan mendapat ilmu kebal.”
”Semudah itukah?”
”Tentu saja tidak. Bila berhasil memakan babi hidup-hidup serta melumpuhkannya, mereka harus dikubur hidup-hidup dengan kepala yang menyembul keluar selama tiga malam.”
”Begitu saja?”
”Tentu saja tidak. Setelah tiga malam dikubur, mereka harus kembali memburu seekor babi untuk kemudian mandi dengan darahnya.”
”Setelah itu?”
”Selesai. Mereka yang berhasil akan kebal.”
Saya tidak memercayai apa yang dikatakan tetua. Bagaimana bisa seseorang menjadi kebal hanya karena menggigit babi hidup terus dikubur dan mandi dengan darah babi lain? Mustahil. Lagi pula, sampai saat ini belum ada bukti. Tetua tidak pernah menunjuk atau menyebut nama yang berhasil melakukannya.
”Boleh kamu tidak percaya. Dan semestinya juga tidak perlu percaya. Karena melakukan itu sangatlah berisiko. Bukan hanya satu–dua orang yang berakhir mati diseruduk babi, melainkan belasan sejak aku masih muda,” kata tetua sebelum ia berdiri pergi ke sungai.
Saya berjalan pulang ke arah berlawanan. Dalam kepala saya bertanya, apa tujuan tetua menceritakan hal semacam itu. Saya tidak habis pikir telah membuang-buang waktu untuk hal yang tidak ada gunanya. Dalam pikiran-pikiran bodoh yang menuntun langkah saya, entah salah atau benar, saya seperti melihat seekor babi melintas, tepat di depan saya kira-kira berjarak tiga tombak. Saya kaget dan lantas mengejarnya, tentu untuk memastikan.
Dalam pengejaran saya menjadi tambah penasaran. Gejolak-gejolak batiniah saya berperang melawan pikiran. Andai tadi benar babi, tentu ini babi yang aneh karena tak mungkin bisa meliuk-liuk, menikung, dan melewati jalan curam dengan sisi kiri dan kanan penuh pohon. Belum lagi di depan mata ialah ranting bersilang serta sebagian besar permukaannya ialah lumpur.
Saya sampai di tepi sungai. Tepatnya sungai yang membelah Dusun Sako dan Dusun Macokubo. Tidak perlu berpikir ulang untuk melompat, saya telah sampai ke darat seberang dengan badan basah. Saya melihat ke kiri dan kanan. Babi itu telah menghilang. Malah seorang tua tampak menggeliang-geliutkan tubuhnya dari dalam tanah. Saya perhatikan betul kepalanya itu kepala manusia, tetapi kenapa bibir dan hidungnya terlihat seperti babi. Mendadak ia berbicara kepada saya.
”Tetua kamu itu gila.”
Saya terkejut.
”Tidak ada manusia kebal karena menggigit babi hidup terus dikubur dan terus mandi dengan darah babi lain!” lanjutnya tak peduli akan keterkejutan saya.
Saya hendak bertanya bagaimana bisa orang tua ini mengetahuinya, tetapi itu tidak keluar sama sekali dari mulut saya.
”Kecuali,” lanjut orang tua, ”seseorang yang punya buntut babi imau1.”
”Buntut babi imau?” suara saya meletus.
”Ya!” Orang tua ini mengeluarkan tangkai daging berbulu. Panjang benda itu dapat melingkar di leher saya.
”Kamu bawa paghang?” tanya orang tua saat saya masih terkagum-kagum melihat buntut babi imau. Saya menggeleng dan ia meminta saya untuk mencabut paghang dari sarung yang melingkar di badannya.
”Tebanglah pohon itu.” Saya lihat pohon tegak sebesar paha kaki orang dewasa. Paghang itu telah di tangan, maka saya ayunkan saja. Tujuh kali saya tebas tumbang sudah pohon itu.
Orang tua tertawa kepada saya. Kemudian ia meminta untuk menggesekkan paghang pada rambutnya. Saya lakukan tujuh belas kali dan tak terjadi apa-apa. Barang sehelai pun rambutnya tak putus-putus. Saya terpesona. ”Belum puas?” tanya orang tua. Tidak menunggu jawaban, ia meminta saya untuk menebas batang lehernya. Tentu saya ragu melakukannya, tetapi ia meminta dengan sungguh. Maka, saya tebas lehernya berkali-kali. Tak terjadi apa-apa, kecuali ketakjubanlah yang timbul.
”Karena buntut babi imau?” tanya saya.
”Ya!”
”Saya ingin memiliki buntut babi imau.”
”Jangan. Kamu masih muda dan kamu tidak butuh ini!”
”Betul saya masih muda, tapi tidak betul bila saya tidak butuh itu.”
”Terlalu berisiko dan terlalu buruk untuk kamu. Lihat aku. Hidupku tidak pernah tenang. Dan sesungguhnya pun aku ingin meninggalkan semua ini, tetapi tidak bisa.”
”Apa maksud Anda?”
Orang tua tertawa. Lalu berceritalah ia. Sejak memiliki buntut babi imau, ia tidak pernah makan layaknya manusia. Ia hanya makan kotorannya sendiri. Ia juga tidak pernah mandi, kecuali berguling-guling di dalam lumpur. Memang di waktu muda yang ia inginkan adalah menjadi orang tak terkalahkan. Dan hal itu selalu terbukti. Namun, makin sering ia menang dalam perkelahian, lawan-lawannya makin berkurang hingga ia merasa kesepian dan merasa ilmu yang ia punya pun tidak ada lagi gunanya.
***
”Buntut babi imau!” Tetua saya tercengang hebat ketika saya katakan kepadanya paghang yang sama saya gunakan untuk menebang pohon tak mampu menebas leher kepala orang tua.
”Jangan main-main dengan itu,” lanjut tetua saya.
Ah. Saya tebak ia akan mulai berkhotbah. Untuk tidak membuatnya mengeluarkan nasihat-nasihat, saya berdiri dan beranjak pergi darinya. Meski ia terus-menerus berteriak memanggil-manggil, saya tidak peduli.
Saya masuk ke hutan-hutan, jalan semak berlumpur, hingga sampai di sungai kemarin. Saya melompat dan berenang hingga sampai di daratan. Di situ, orang tua telah mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum saya jelaskan kepadanya tentang maksud kedatangan saya, ia lebih dulu mengetahuinya.
”Bila memang benar itu keinginanmu, hanya ada satu syarat,” kata orang tua.
Mula-mula saya meminta orang tua untuk mengatakan satu kali lagi, tetapi setelah saya dengar baik-baik, saya tidak salah tentang syaratnya ialah memakan kotoran sendiri.
”Bagaimana mungkin,” kata itu keluar dari mulut saya.
”Seperti yang aku katakan, hanya ada satu syarat. Kalaupun ada penambahan, yaitu pilihan. Melakukannya atau pulang!”
Saya pikir mungkin ini semacam pembuktian akan keseriusan saya. Maka, saya pun menyanggupi syarat itu. Setelahnya, saya diajarkan merangkak, mengorok, berguling di kubangan, memantapkan badan seperti babi itu sendiri. Lama saya menghilang dan tidak pernah pulang ke dusun. Sekali-sekali saya lihat orang dusun berbondong-bondong membawa tembak menyebut-nyebut nama saya. Saya pikir mereka mencari keberadaan saya. Namun, orang-orang tidak pernah berhasil karena kata orang tua, berkat buntut babi imau kepunyaannya, tak ada yang bisa melihat kami kecuali babi.
”Ha!” saya kaget, ”Ini tidak masuk akal. Waktu itu saya dapat melihat Anda, padahal saya tidak punya buntut babi imau.”
”Itu berarti kamu orang terpilih. Dan keras kepalamu akan keinginan memilikinya telah membawamu sejauh ini.”
Saya tidak hanya diajari menjadi babi, tetapi juga diajari merapal mantra. Setelah berbulan-bulan, tibalah saatnya saya mendapatkan buntut babi imau. Orang tua pun melepaskan saya ke dalam hutan untuk mencarinya sendiri. Berbekal doanya yang merestui, saya merangkak, membelah hutan.
Beruntungnya, sebelum gelap menidurkan hutan, saya melihat babi imau. Diam-diam saya mendekat. Sebelum saya menyerang, lebih dulu saya rapal mantra yang telah saya pelajari. Setelahnya, saya meloncat ke kubangan dan langsung menggigit tepat pada buntutnya. Babi imau meronta-ronta saat buntut itu putus. Sebelum saya lari, ia lebih dulu menghantam saya hingga terlempar. Pertarungan tak dapat dielak. Kami beradu kuat saling menghantam dengan kepala. Sekali-sekali saya terempas dan berdiri lagi dengan kekuatan yang bertambah-tambah. Saya rasa ini berkat buntut babi imau yang telah ada pada mulut saya.
Dalam kesempatan lain, saat babi imau tampak lelah, saya yakin berkat hilang buntutnya, saya melenggok dan menggigit lehernya. Babi imau menguik-nguik mendatangkan rombongan babi dari berbagai arah. Tidak dapat saya rasakan apa-apa saat babi-babi menyeruduk dan menyudutkan saya ke kubangan hingga tenggelam di dalamnya.
Saya tidak dapat melihat apa-apa. Saya juga tidak bisa mendengar apa-apa. Lidah saya menjulur-julur ke sisi-sisi mulut. Saya merasa telah kehilangan buntut itu saat menggigit leher babi imau tadi. Saat saya muncul dari kubangan, sudah tidak ada apa-apa. Jejak-jejak babi tak terlihat. Pada sekeliling kubangan tempat bertarung, saya berusaha mencari keberadaan buntut babi imau, tapi tak saya temukan tanda-tanda.
Saya tergeming. Dalam ingatan saya, baru saja mendapatkan dan baru saja kehilangan. Entah bagaimana caranya menjelaskan. Saya bingung dan mulai pula kehilangan rasa menjadi manusia. Dari dalam kubangan meletup gelembung. Mula-mula tampak moncong babi, disusul moncong lain dan moncong lain pula. Tiga babi keluar serentak dari kubangan melentik-lentikkan tubuh mereka.
Saya menatap mata ketiga babi yang baru keluar dari kubangan. Ketiga babi itu juga melakukan hal yang sama. Mata mereka yang terus-terusan menatap saya seolah hendak menyampaikan sesuatu. Mendadak saya paham ketika mereka menguik-nguik, ”Manusia akan menangkap, mencekik, memukul kepala kita dengan batu atau kayu atau juga membanting ke pohon-pohon besar sampai terjulur lidah kita hingga mampus. Lalu manusia itu mematahkan kaki-kaki dan mencabik-cabik perut kita dan mulai menggigit. Maka, lebih baik lari!” (*)
1Dalam cerita lisan daerah Jambi, babi imau pernah muncul di dalam hutan rimba Jambi. Babi ini bertaring memanjang seperti gading terbalik. Punggungnya melengkung seperti huruf ”u”. Bila seseorang berhasil memutus ekornya dan mencucinya dengan darah perawan pada butebut buek (waktu dini hari kira-kira pukul 4 subuh), ia akan mendapat kekebalan tubuh yang tak tertandingi.
---
*) BERI HANNA, Lahir di Bangko, Jambi. Penulis jualan buku di @bukuodessa. Saat ini sedang menyiapkan kumpulan cerpen pertamanya.

12 Pilihan Restoran Terenak di Malang untuk Keluarga dengan Suasana Adem dan Punya Spot Instagramable
Selain Tangkap Bupati Tulungagung, KPK Amankan Sekda hingga Kadis PUPR
Penjelasan PLN Jakarta Mati Lampu Serentak Hari Ini, MRT hingga Lampu Merah Padam Total
Muncul Dua Nama Terduga Pelaku Penipuan Rekrutmen ASN Pemkab Gresik, Satu Pegawai Aktif
Profil Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo, Kader Partai Gerindra yang Terjaring OTT KPK
Sederet 15 Kuliner Steak di Surabaya Paling Enak dengan Saus Lezat yang Wajib Dicoba Pecinta Daging
11 Tempat Kuliner Gudeg di Surabaya Paling Enak Soal Rasa Bikin Nostalgia dengan Jogja
Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Thailand di Final Piala AFF 2026
Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Timnas Indonesia vs Thailand, Siaran Langsung, dan Live Streaming!
Kuliner di Surabaya: 17 Rekomendasi Bakso Terbaik dengan Rasa Autentik
