Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 November 2020 | 22.41 WIB

Permainan-Permainan yang Tak Selalu Aku Menangkan

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS - Image

ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS

DARI mana aku memulainya, Kawan? Bagaimana jika dari sebuah layangan yang tak pernah aku mainkan sejak dibelikan ayahku? Kuingat, layangan itu bergambar gajah, tergantung di dinding kamar yang semarak dengan berbagai gambar bekas kalender. Sambil berbaring di ranjang, aku suka menatap layangan itu berlama-lama sembari membayangkannya menukik dan membumbung di udara.

Ya, itu sebelum aku diizinkan menerbangkan layanganku sendiri, mengasah benang gelasan, atau membawa galah panjang mengejar layangan putus. Maklum, rumah kami –ruko tua bertingkat dua– terletak di tepi jalan protokol kota kecil kami, persis di sebelah pasar ikan yang ramai dilalui kendaraan bermotor.

Beruntungnya aku punya cukup banyak mainan lain yang tersimpan di kamar. Sekecil itu, aku punya satu batalyon tentara plastik lengkap dengan tank dan pesawat tempur. Juga sejumlah mobil-mobilan, punya pistol-pistolan yang dengannya aku merasa sempurna menjadi Lone Ranger atau Lucky Luke. Aku bahkan punya boneka plastik si Unyil dan seperangkat permainan masak-masakan yang sesekali aku mainkan bersama anak gadis tetangga atau sepupu yang bertandang.

Tetapi toh akhirnya, layangan bergambar gajah itu memang tak pernah aku mainkan. Selama bertahun-tahun ia selalu tergantung di sana hingga menguning, hingga raib entah ke mana. Aku tak tahu kenapa tak pernah berhasrat menerbangkannya dan selalu memilih membeli layangan baru. Seingatku, aku memang tak pernah mahir bermain layangan. Jika tak putus disambar layangan lawan, layanganku pastilah tersangkut kabel listrik. Alamak, pelototan ayah pun kerap kali kuterima lantaran keseringan minta uang membeli layang-layang.

Tapi, aku mahir bermain kelereng. Jari-jariku cukup jitu dalam bidik-membidik. Dan... Des, des! Tak! Tak! Seakan masih terbayang, bagaimana kelereng lawan yang kuincar berpelantingan, jauh terpental keluar garis disambar oleh tembakanku. Sehingga tak jarang aku pulang dengan kantong celana terisi penuh kelereng yang aku menangkan. Aha, betapa merdu bunyinya berkelotak sepanjang jalan!

Aku juga sering menang main tepuk gambar umbul. Tahukah kalian betapa aku merindukan petak-petak gambar yang berjumlah 36 kotak selembar dan harus digunting untuk dimainkan ini? Seri lakon maupun ceritera, tentu dengan logo ”Gunung Kelud” –pabrik pembuatnya– yang galib tertera di kotak pertama atau di petak penghabisan. Sementara di punggung gambar yang setiap petak mulanya diisi lirik lagu anak-anak seperti ”Naik-Naik ke Puncak Gunung” belakangan digantikan dengan rambu-rambu lalu lintas. Ya, sedikit pengetahuan tentang jalan raya yang rawan bagi kami anak-anak bengal.

Ada aneka bentuk permainan gambar umbul. Mulai adu tepuk atau dilempar ke udara sampai yang beraroma judi seperti tekpo, gaple, dan domino. Tiga jenis permainan terakhir aku tak begitu doyan, tak juga terlalu pandai. Tapi dalam adu tepuk, kalian mesti percaya bahwa akulah jagonya! Senantiasa terbuka nyalang gambarku tatkala jatuh melayang –entahlah karena aku memang mahir benar atau semata keberuntungan, gambar umbulku seolah tak terkalahkan.

Kami juga meyakini petak-petak umbul tertentu bakal membawa kemujuran berdasar angka atau gambarnya. Karenanya, petak umbul itu pun menjadi petak favorit yang setengah kami keramatkan. Setiap anak memiliki petak umbul keramat masing-masing, dan jika tak salah ingat aku pernah punya petak umbul favorit yang sangat aku sayangi: bergambar Gundala dan bernomor 14!

Sebagaimana juga kelereng, petak-petak umbul yang aku menangkan itu terkadang aku jual kepada teman-teman sepermainan yang kalah. Uangnya cukup untuk membeli es lilin, permen karet, maupun gambar umbul baru. Begitulah kami belajar bisnis kecil-kecilan, Kawan.

Namun, tak semua gambar umbul yang aku beli itu aku gunting. Kerap aku merasa sayang memotongnya jika mendapatkan gambar umbul yang seri ceritanya bagus. Selain murah meriah, umbul menjadi begitu populer kala itu barangkali karena ia juga dapat dinikmati sebagai komik. Dengan demikian, ia memberikan hiburan ganda, sebagai kartu permainan sekaligus bacaan mengasyikkan. Di koper tua ayahku di kolong tempat tidur, koleksi gambar umbulku mungkin nyaris mencapai seratus lembar. Yang masih lekat antara lain seri cerita Watari, Spiderman, Walisongo, CHIPS, dan Panji Tengkorak. Sayang, semua harta simpananku itu ludes dalam kebakaran saat aku sedang menempuh ujian akhir SMP.

Di kota kecil kami, anak-anak selalu mengenal pergantian musim permainan. Begitulah musim layangan, musim gambar umbul, musim kelereng dan ketapel silih berganti menyapa kami. Entah siapa yang menetapkan musim-musim permainan ini. Agaknya tak seorang pun tahu dan peduli. Kami juga tak pernah repot-repot memikirkannya. Tidak pasti berapa lama sebuah musim akan berlangsung, bisa singkat sekitar tiga minggu–satu bulan, bisa juga hingga tiga atau empat bulanan. Hanya, jika seorang anak telat mengikuti pergantian musim ini, alamat ia akan dijauhi bahkan diolok ”ketinggalan zaman”.

Oh, tentu ada beragam jenis permainan yang berlaku sepanjang tahun, Kawan. Biasanya permainan-permainan ini kami kelompokkan sebagai permainan umum. Dan lazimnya kami mainkan spontan, contohnya petak umpet, cak lingking, lompat gelang karet, ela, termasuk di sini sepak bola. Selain itu, kami juga senang bermain buah karet. Bepangkak, istilahnya, dua buah karet diadu, yang pecah kalah. Jauh ke dalam kebun karet orang atau hutan, kami mencari buah-buah karet jatuh dan mengumpulkannya hingga berkantong-kantong kresek. Kerap pula kami membuat pedang-pedangan dari kayu atau senapan dari tangkai pepaya, mobil-mobilan dari kardus atau peti bekas buah. Sampai kepada permainan yang aku pandang agak jahat dan tak patut ditiru, yakni membuat ketapel dari cabang ranting, lalu menyusuri teras ruko malam-malam berbekal ”peluru” kawat yang dibentuk seperti huruf U untuk menjepret cicak.

Tentu, aku tidak menganggap anak-anak zaman sekarang itu kurang kreatif. Lihat saja betapa lincahnya tangan mereka mengoperasikan stik PlayStation atau bermain game ponsel. Kecil-kecil mereka sudah pula punya Facebook dan Instagram, tak seperti kami yang cuma bisa menjadikan kupon-kupon bekas lotre sebagai uang mainan.

Tetapi, mungkin saja kamilah yang tak diuntungkan oleh zaman. Pastinya kalian mafhum, bukan, kalau setiap generasi punya kenangan dan nasib masing-masing? Yang memiliki pengalaman dan kenangan serupa bolehlah kita rayakan sejenak ini nostalgia, Kawan!

---

INDRIAN KOTO

Lahir 19 Februari 1983 di Nagari Lansano, kampung kecil di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Buku puisinya yang telah terbit adalah Pleidoi Malin Kundang. Tinggal di Jogjakarta, mengelola toko buku kecil jualbukusastra.com dan Penerbit JBS.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=CsM5Xw_aWuQ

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore