Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 30 Juli 2023 | 17.11 WIB

Merpati di Bumi sang Nabi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

”Umur gak ada yang tahu, Pak. Kalau tidak diniati sekarang, apa ada jaminan tahun depan kita bisa memenuhi panggilan ini?”

”Kalau tidak, berarti belum waktunya dipanggil,” jawab Daroji enteng.

”Sudah dipanggil dari dulu, Pak. Nggak tahu ta Sampean?”

”Nggak…”

Merpati balap Daroji terkenal hebat. Perawatannya secara khusus. Makanannya dari biji-bijian yang terbaik: jagung kuning, beras, gabah, kacang hijau, kacang panjang, kedelai, jawawut, dan kacang tanah. Tiap Sabtu sore piaraan itu selalu dilolohi jamu untuk menambah stamina: ramuan telur bebek, madu, temulawak, kunyit, umbi rumput teki, jahe, ginseng, serta lengkuas merah. Sejak piyik merpati Daroji dipasangi gelang yang bertulisan ”Dar”, nomor seri, dan tahun. Gelang ini tak bisa dilepas saat burung sudah dewasa.

Nama-nama merpati Daroji juga unik: Bledek, Halilintar, Kilat, Gluduk, Guruh, Petir, dan sejenisnya. Trofi dan piala kejuaraan dipajang di lemari kaca. Merpati itu rutin dilatih. Si jantan dilepas dari jarak jauh, sementara betinanya dipegangi joki sambil dikibas-kibaskan sayapnya. Si jantan akan terbang melesat dan hinggap di punggung betinanya. Makin lama jarak latihnya makin jauh. Burung-burung Daroji berpacu antarteman, melintas di atas sawah-sawah, tambak-tambak, dan tanah-tanah lapang yang jauh terpandang.

Secara rutin merpati Daroji diikutkan lomba di berbagai kota. Hadiah para pemenangnya cukup besar. Tapi, yang lebih penting, merpati yang juara dalam kelas perang bintang harganya bisa meroket. Ada persaingan antar penggemar untuk bisa memiliki. Bledek adalah merpati yang harganya sedang meroket karena selalu juara, disusul oleh Halilintar. Dalam arena lomba, saat dilepas dari jarak jauh, Bledek terbang melesat meninggalkan lawan-lawannya, meninggi, dan saat mengetahui betinanya di tangan joki, Bledek menukik tajam dan hinggap di punggung betinanya. Bledek bahkan sanggup menukik tegak lurus melewati lingkaran tali yang ada di atas joki. Daroji, Yadi, dan Mardi yang selalu mengenakan kaus oranye lengan panjang menjadi pusat perhatian. Harga seekor merpatinya bisa mengalahkan harga beberapa ekor sapi. Para penggemar merpati seperti Haji Khilmi, Roy, Acun, dan Pak Saryono konon bersedia mentransfer Bledek dengan harga sangat tinggi. Daroji belum mau melepas, Bledek dengan betina Gadis Manja sedang di-breeding. Sementara Halilintar diperjodohkan dengan Putri Malu.

***

Awalnya Daroji adalah penghobi dara kenthong. Merpati-merpati milik sekelompok orang dibuatkan pagupon berkaki tinggi, di atas genting rumah dengan diberi bendera. Merpati itu untuk berjudi. Dilepas dari jarak jauh secara bersamaan, burung yang hinggap di atas rumahnya lebih dulu itulah yang menang. Salah seorang akan memukul kentongan saat burung itu hinggap. Kampung itu akhirnya menjadi ramai oleh para petaruh. Perjudian balap merpati akhirnya digerebek polsek. Daroji ikut diciduk. Namanya sempat dimuat di koran lokal. Setelah peristiwa itu, Daroji beralih ke wadah resmi. Lama-lama piaraannya menjadi moncer. Nama Bledek dan Halilintar semakin dikenal.

Pada suatu hari, Daroji melatih merpatinya di pinggir pantai agar terbangnya kuat karena dilatih menembus angin laut. Sore itu laut sedang pasang. Angin menerjang. Ombak gulung-menggulung. Latihan dengan jarak pendek berjalan dengan baik. Semua merpati kembali ke tangan joki. Jarak semakin diperjauh. Pada akhirnya, Bledek dan Halilintar dilepas dengan jarak maksimal. Yadi telah membawanya dengan motor. Gadis Manja dan Putri Malu, pasangan kedua merpati, dipegang oleh Daroji dan Mardi.

Angin semakin kencang dengan deburan-deburan ombak. Kedua burung itu telah dilepas di jauh sana. Daroji dan Mardi mengibas-ngibaskan betinanya sambil berteriak-teriak memanggil seperti lazimnya. Tapi, kedua burung itu seperti tersapu angin, terbangnya melambung ke arah daratan, dan tertutup pohonan. Setelah tampak lagi sekelebat, kedua burung itu malah melambung seperti limbung, lalu menggeblas dan amblas ke daratan sana. Keduanya tak pernah kembali karena tak dilatih untuk pulang ke rumah, tapi dilatih untuk kembali ke tangan para joki.

***

Makin siang cuaca makin panas. Daroji masih duduk di tepi lapangan sambil mengamati merpati berebut makanan. Peziarah makin banyak menaburkan makanan. Beberapa anak berlarian riang mendekati gerombolan merpati. Burung-burung itu hanya terbang sesaat, lalu turun kembali.

Seekor merpati berjalan mendekati Daroji. Daroji menggerakkan jarinya agar si burung semakin mendekat. Sesaat merpati itu terdiam, pandangannya diarahkan ke Daroji sambil berkedip-kedip lembut. Terlintas dalam ingatan Daroji. Merpati itu warnanya mirip sekali dengan si Bledek, kelabu dengan garis-garis hitam di sayap. Memang semua merpati di sini bulunya mirip sehingga sulit dibedakan.

Daroji terkejut. Ternyata merpati yang mendekat itu bergelang cokelat muda, seperti warna gelang Bledek juga. Daroji mendekat, ingin melihatnya lebih dekat, apakah gelang itu ada tulisan ”Dar” seperti gelang Bledek. Dengan lambat tapi pasti burung itu beringsut menjauh, kemudian berhenti lagi ketika Daroji terdiam. Adegan itu beberapa kali terjadi. Pandangan dan paruhnya tetap ke arah Daroji.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore